BACK TO TOPIC
OPINI PENALAR
Sastrawan, budayawan.
Harus Meningkatkan Nalar Literasi, Bukan Nalar Obrol

Ini gerakan boikot yang ke berapa ya? Sejak boikot Starbucks, Sari Roti dan ada beberapa lagi. Saya memandang ini fenomena masyarakat kerumunan dalam dunia maya, crowded society. Apa yang disebut Manuel Castells tentang masyarakat jaringan atau network society, di Indonesia, yang warga net-nya konon 130 juta, tidak berlaku. Yang tetap bekerja di sini adalah masyarakat kerumunan. Seperti ikut ke mana angin kencang. Ada boikot, ikut boikot. Ini kasus kecil saja yang bisa membuktikan betapa netizen kita berangkat dari budaya baca atau nalar literasi yang sangat rendah. Menurut penelitian, budaya baca kita berada di urutan ke-60 dari 61 negara yang di-survey. 

Yang ingin saya katakan, walaupun di dunia maya kita menulis teks, tapi sebenarnya perkakas yang kita gunakan masih tradisi lisan, tradisi gosip, atau tradisi ngerumpi.Kita tidak biasa melakukan verifikasi, konfirmasi. Yang kita lakukan hari ini, kita menerima apa yang saya sebut "hantu" dan di dunia maya kita merasa harus jadi orang yang pertama men-share setiap informasi. Pokoknya harus jadi yang pertama tanpa harus tahu info itu datangnya dari mana, diverfikasi atau tidak. Ini ciri masyarakat kerumunan. Diibaratkan, di kampung ada orang ngangon bebek bawa galah kayu, ke mana galah diarahkan, ke situ bebek bergerak.  

Insan terdidik yang terbiasa berdalam-dalam menggali informasi dan melakukan verifikasi jumlahnya sangat sedikit. Kita mengikuti hukum supply and demand. Yang bekerja di dunia maya hari ini menurut saya,melihat kasus uninstall Traveloka ini, kalau dicermati pasarnya kan ada. Industri kabar bohong dan informasi yang sudah didesain dengan framing politik tertentu menjadi sangat subur karena ada pasarnya. Yang diuntungkan, misalnya kini pekerjaan buzzering telah jadi profesi, lalu penyebaran informasi negatif juga telah jadi industri. Intinya, distribusi di dunia digital menurut saya adalah mencari pembaca sebanyak-banyaknya, bukan mencari pembaca yang suka kedalaman. Pembaca atau pemirsa yang banyak itu pasti tak suka yang dalam-dalam. 

Saya kebetulan basisnya santri. Dalam keilmuan Islam, misalnya hadits, ada ilmu musthalah hadits mempelajari urut-urutan kronologis perawi hadits dari sumber yang pertama sampai ke mana ia diriwayatkan. Dari satu rawi ke rawi yang lain nggak boleh terputus sama sekali, kalau terputus bisa jadi hadits lemah dan tak boleh dipercaya. Sedangkan hadits mutawatir adalah hadits-hadits yang perawinya tidak diragukan kejujurannya, sanad-nya tidak terputus, dan dengan begitu bisa dipercaya. Tapi kenapa, mohon maaf, kelompok Islam ini seakan abai pada hal itu? Apakah mereka tidak membaca, ya? Mengaku sebagai cendekiawan muslim atau pembela Islam tapi tidak menggunakan metodelogi verifikasi informasi. Seharusnya kita kritis pada sebuah informasi. 

Solusinya bagi saya, kita harus meningkatkan nalar literasi, bukan nalar obrol, bukan nalar kelisanan. Jawabannya ada pada pendidikan. Kita belum siap pada budaya baca yang matang, sekarang sudah datang revolusi digital. Terlalu cepat kita naik kelas. kalau orang Amerika mereka sudah mengembangkan budaya literasi. Kita masih mengembangkan budaya ngobrol. Dalam bahasa ekstrim, bodoh saja kita belum. Kita masih di level pra-bodoh. Apalagi pintar.   

Oleh karena itu, orang-orang yang punya keislaman yang matang dan kritis, seharusnya ikut mengambil bagian di dunia digital. Jangan menarik diri dan menjauhi. Karena ia bisa menjadi pen-syarah atau yang bisa menjelaskan dan mem-verifikasi. Kita kini terkepung dalam parameter yang benar adalah yang didukung orang banyak. Padahal, dalam tradisi keilmuan, nggak apa-apa nggak didukung oarng banyak. Kebenaran nggak akan berubah dan menyusut. Bagi saya itu masalah. Kebenaran tak harus didukung banyak orang. Kebenaran akan tetap jadi benar walau didukung oleh satu orang.

Maka, fenomena tagar #UninstallTraveloka bagian dari ketidak-siapan kita memasuki dunia digital karena kita masih berada dalam tradisi lisan. Secara fisik saja kita mengetik, tapi sebenarnya kita hanya mengobrol seperti ibu-ibu berkumpul di sekitar tukang sayur. Di situ itu kan semakin digosok, semakin kena, semakin asyik. Akhirnya jadi bergunjing. (ade)   

SHARE ON
close

PENALAR

PENALAR TERPRODUKTIF

Andry Satrio Nugroho

Peneliti Institute for Development of Economics and Finance (INDEF)

Ahmad Heri Firdaus

Peneliti Institute for Development of Economics and Finance (INDEF)