BACK TO TOPIC
OPINI PENALAR
Kepala Badan Standarisasi Nasional (BSN)
Harus Kembali Fokus ke Hard Science dalam Pengembangan Produk

 

Dalam hal midle income trap ini saya berkali-kali selalu menekankan bahwa pendidikan ke depan harus mampu membuat anak-anak muda kita berproduksi. Jadi jangan hanya melakukan trading saja.

Berproduksi adalah aktivitas yang banyak sekali peluang untuk didapatkan. Misalnya, Indonesia yang kaya akan sumber daya alam (SDA) pasti memperoleh hasil yang memadai jika kita pandai mengolahnya. Tetapi jika intermediate product—yang tidak mesti memanfaatkan sumber daya alam--manufaktur yang kita lihat kini banyak dikuasai dengan harga murah, ternyata berasal dari China. Dari sana sebetulnya kita bisa berkreasi membuat produk menengah yang berbahan baku murah.

Sebagai contohnya dari berbagai kejadian bencana alam tsunami , gempa dan kebakaran yang kita alami, dari situ harusnya ada orang Indonesia yang bisa mengembangkan teknologi material tahan api yang minimal bisa menyelamatkan dokumen penting. Ketika saya melaksanakan survei ternyata material berbahan polimer dalam ukuran besar banyak didapatkan di China. Indonesia tidak akan sempat berpikir kesana karena semua raw material petrokimia semuanya impor.

Peluang bahan setengah jadi yang berasal dari China tersebut bisa dikreasikan oleh generasi muda baik dalam industri online atau industri menengah, dan jika difokuskan, sudah bisa berproduksi secara luar biasa. Hal tersebut hanya sebagai contoh saja dari material yang bisa dirakit oleh industri kreatif dalam negeri.

Artinya, saya ingin mengatakan bahwa sekarang banyak anak-anak muda kita agak kurang terlatih di bidang hard science atau hard engineering. Hal itu adalah aktivitas mengolah atau menguasai benda mati. Berbeda dengan mengolah atau menguasai benda hidup yang berarti ilmu SDM atau manajemen. Benda mati itu bisa dihubungkan termasuk IT dan sejenisnya, atau benda mati yang prosesing seperti teknik kimia, matematika dan sebagainya yang sebetulnya merupakan basic untuk mendayagunakan kreativitas pikirannya dalam mengolah sesuatu. Dan aktivitas yang menghasilkan produk science itu pasarnya cukup banyak di Indonesia.

Jika nanti kita suatu saat berhasil memproduksi produk IT dengan harga murah maka generasi kita bisa masuk Alibaba, Bukalapak dan lainnya yang berarti sudah memasuki pasar dunia.

Untuk menyiapkan generasi seperti itu, baiknya ke depan pendidikan kita jangan lagi terlalu banyak pelajaran yang sifatnya menghafal. Hal itu yang membuat orang Indonesia mundur jauh karena terlalu banyak pelajaran menghafal dan bukan mengajarkan untuk kreatif.

Kreasi itu penting, karena kalau kreasi yang basisnya menguasai hard engineering maka kita bisa berkreasi pada komoditi. Kalau semuanya hanya berpikir trading atau hanya ke IT saja, maka kita akan kekurangan daya kombinasi untuk mengolah SDA. Padahal kalau kita punya skill memadai dalam urusan mengolah SDA untuk pangan dan sebagainya, maka hilir hulunya produk akan bisa ditelusuri.

Misalnya lagi ada bahan baku setengah jadi yang belum kita kuasai sedangkan disitu dibutuhkan ilmu matematika dalam hal kombinasi, maka menurut saya keadaan ini sudah mengerikan jika anak-anak muda kita tidak lagi suka hard science dan lebih gandrung kepada trading dan yang dijual juga produk dari China.

Barang-barang China hanya menang karena harga nya murah saja. Bisa murah karena partai/volume nya besar.

Kiranya sekarang pemerintah sudah saatnya mengembangkan lagi sekolah yang mengembangkan ilmu-ilmu matematika dan sains, seimbang dengan disiplin ilmu yang lain.(pso)

SHARE ON
close

TOPIK TERPOPULER

PENALAR

PILIHAN REDAKSI

PENALAR TERPRODUKTIF

Ujang Komarudin, Dr., M.Si.

Pengamat Politik dan Dosen Universitas Al Azhar Indonesia

Gigin Praginanto

Pengamat Kebijakan Publik, Wartawan Senior

Djoko Setijowarno

Pengamat transportasi

FOLLOW US

Tidak Ada yang Bisa Jamin Data Kita Aman             Unicorn Indonesia Perlu Diregulasi             Bijak Memahami Perubahan Zaman             Strategi Mall dan Departement Store dalam Menghadapi Toko On line             Sinergi Belanja Online dengan Ritel Konvensional             Investor Tertarik Imbal Hasil, Bukan Proyek             Evolusi Akan Terjadi meski Tidak Dalam Waktu Dekat             Demokrasi Liberal Tak Otentik             Tak Perlu Berharap pada Elite Politik             PSSI di Persimpangan Jalan, Butuh Sosok Berintegritas dan Profesional