BACK TO TOPIC
OPINI PENALAR
Harus Ada Upaya Membuka Pasar Non Tradisional

Kalau kita lihat kecenderungannya, selama ini kebijakan ekonomi kita lebih inward looking. Tidak terlalu agresif mengembangkan perdagangan internasional. Ada kesan lebih menghindari risiko, dan dengan kecederungan menghindari risiko itu maka negara tujuan ekspor kita menjadi hanya ke negara-negara yang sifatnya tradisional saja. Jadi hanya terkonsentrasi di beberapa negara.

Konsekwensinya, jika hanya terkonsentrasi seperti itu dan kemudian jika terjadi gejolak di negara tersebut maka kita akan sangat mudah terdampak. Sehingga yang harus kita lakukan ke depan adalah mencari negara-negara non tradisional. Hal mana masalah itu sendiri sudah dipetakan oleh LPM FE UI terkait negara-negara tujuan ekspor non tradisional. Di Afrika ada Pantai Gading, Senegal, Ghana, Angola. Di Asia Tengah ada Uzbekistan, Azerbaijan, Kazakhstan. Di eropa Timur ada Rusia, Polandia. Bahkan di benua Australia ada peluang perdagangan dengan adanya perjanjian CEPA yang merupakan milestone atau breakthrough untuk memperbesar negara-negara tujuan ekspor yang sifatnya non tradisional. Memang kita perlu lebih agresif untuk memetakan negara-negara tujuan ekspor.

Kedua, kalau kita melihat dari sisi komoditas yang paling besar memang masih pada komoditas. Karena, Indonesia belum beralih ke industrialisasi sebab perkembangan industri manufaktur pertumbuhannya hanya di bawah pertumbuhan ekonomi. Dan kontribusinya terhadap GDP juga semakin lama semakin turun.

Faktor-faktor itulah yang menyebabkan pada akhirnya kinerja ekspor kita tidak terlalu optimal.

Pemikiran untuk menyusun peta jalan bagi pertumbuhan industri dan perluasan pasar ekspor kita terkendala karena memang selama ini kita hanya berpikir jangka pendek. Dan terlalu terpaku pada ekspor komoditas ketika ada commodity boom beberapa waktu lalu. Ketika terlena itu Indonesia menjadi lupa untuk membangun industri. Baru teringat untuk membangun industri ketika harga-harga komoditas primer dunia sudah turun.

Sebetulnya tidak ada kata terlambat, tinggal bagaimana harus memulainya. Diskursus tentang infrastruktur bisa menjadi tonggak untuk membangun industri ke depan. Hal itulah yang bisa kita lihat upaya pemerintah untuk kembali membangun industri yang didahului dengan pembangunan infrastruktur. Meskipun tentunya hal itu pasti butuh waktu dan kedua, harus diperhitungkan kembali apakah infrastruktur yang dibangun betul-betul terkoneksi ke industri atau tidak. Jadi memang harus ada rencana yang jauh lebih matang dan tepat terkait dengan koneksi antara infrastruktur dan industri.

Industri yang bisa kita utamakan dibangun tentunya industri yang berbasis pada keunggulan komparatif. Kalau kita lihat dari indeks keunggulan komparatif Indonesia setidaknya sektor pertanian, maritim (transportasi laut dan perikanan), tekstil, industri permesinan, industri pengolahan hewan, dan untukitu seharusnya kita harus lebih fokus kepada industri-industri yang berbasiskan pertanian, perkebunan dan perikanan.     

Karena, tiga hal di atas adalah satu sumber daya terbesar Indonesia atau keunggulan kita. Kalau dibandingkan dengan Australia yang bisa menjadi negara maju berpendapatan tinggi dengan mengandalkan pertanian, perkebunan, dan peternakan. Seharusnya kita bisa juga fokus ke sana.

Indonesia harus bisa mempersiapkan diri untuk menjadi negara dengan produk-produk berdaya saing tinggi. Siap ataupun tidak siap harus sudah ke arah sana. Masalahnya pada faktor dorongan kita. Kalau terus merasa tidak siap maka pasti tidak akan bisa.

Salah satu hal yang bisa memacu kita lebih siap adalah dengan membuka diri lebih agresif untuk melakukan kerjasama-kerjasama ekonomi. Dengn demikian ada pull factor dari luar. Selama ini memang dorongan dari dalam cukup terbatas maka kita perlu tarikan dari luar, dan salah satunya adalah dengan perjanjian kerjasama perdagangan dan ekonomi dengan negara-negara lain dan wilayah selain ASEAN. (pso)

SHARE ON
close

PENALAR

PENALAR TERPRODUKTIF

Christianto Wibisono

Analis Bisnis/ Pendiri Pusat Data Bisnis Indonesia (PDBI)

Riza Annisa Pujarama

Peneliti Institute for Development of Economics and Finance (INDEF)

Didin S. Damanhuri, Prof., Dr., SE., MS., DEA

Guru Besar Fakultas Ekonomi dan Manajemen (FEM) IPB

FOLLOW US

Presiden sedang Menggali Kuburnya Sendiri             Duet Tango DPR & KPK             Utamakan Tafsir Moral ketimbang Tafsir Hukum dan Ekonomi             Langkah Menkeu Sudah Benar dan Fokuskan pada SKM 1             Industri Rokok Harus Tumbuh atau Dibiarkan Melandai             Perizinan Teknis Masih Kewenangan Daerah             Kiat Khusus Pangkas Birokrasi Perizinan di Indonesia             Politik Etika vs Politik Ekstasi              Kebutuhan Utama : Perbaiki Partai Politik             Pengaruh High Class Economy dalam Demokrasi di Indonesia (Bagian-1)