BACK TO TOPIC
OPINI PENALAR
Pemerhati masalah ekonomi dan ketimpangan
Harus Ada Transformasi Struktural Industri

Pertama yang harus kita lihat, bagaimana sebetulnya upaya pemerintah untuk bisa meningkatkan industri dalam negeri.

Ekspor itu tidak terlepas dari seberapa besar produktivitas tenaga kerja yang menghasilkan barang-barang untuk diekspor. Masalah kualitas produk menjadi penting. Artinya, walaupun kita memindahkan produk kita dari satu pasar ke pasar lainnya, tapi kalau produk nya tidak memenuhi kompetensi maka penetrasi  tidak bisa berhasil.

Yang terpenting adalah kualitas dari produk kita, yang kedua baru mengenai pasar.

Kualitas dari produk ekspor kita, tergantung dari seberapa besar produktivitas  tenaga kerja. Jadi terkait lagi dengan masalah industrialisasi. Ke depan, bagaimana kita bisa meningkatkan kualitas produk ekspor kita dengan meningkatkan produktivitas tenaga kerja agar bisa menghasilkan produk ekspor yang lebih bagus dan berdaya saing. Selanjutnya kita bisa mulai mencari pasar-pasar non tradisional. Bisa dengan menembus pasar di Afrika dan Timur Tengah yang menjadi pasar berikutnya. Pointnya menurut saya adalah bagaimana me revitalisasi industri dalam negeri.

Investasi yang digalakkan harus masuk pada sektor-sektor yang bisa meningkatkan produktivitas tenaga kerja dan juga mendorong sektor manufaktur dapat bergairah lagi. Kondisi sektor manufaktur kita sekaran--walau tumbuh--tetapi sangat lambat. Bahkan ada kecenderungan terjadi deindustrialisasi tapi deindustrialisasi yang prematur. Jadi ada pergeseran dari sektor industri ke sektor jasa yang terlalu awal.

Sebetulnya deindustrialiasi di negara-negara lain, biasanya lebih dulu mereka menghasilkan GDP per kapita yang cukup tinggi. Sementara kita mengikuti pola mereka, tetapi belum sampai pada level GDP per kapita seperti negara-negara tersebut. Itu yang disebut sebagai premature deindustrialization. Kita terlalu cepat bergeser ke sektor jasa sementara GDP per kapita belum memadai. Sementara Negara lain, memang bergeser ke sektor jasa dengan GDP per kapita yang memang sudah tinggi. Itu sama dengan pola pertumbuhan pada umumnya. Setelah GDP tinggi lalu bergeser tidak lagi ke sektor manufaktur. Berbeda dengan negara kita.

Sementara dengan GDP per kapita yang sama, negara-negara lain itu masih dalam tahap industri. Bandingkan by data, katakanlah GDP per kapita Indonesia adalah 3600 dolar AS. Pada saat 3600 dolar AS itu negara-negara lain (peers) itu masih pada tahap industrialisasi. Tapi kita sudah bergeser.

Dalam soal kualitas produk ekspor kita sebenarnya ada yang sudah memadai dan diterima pasar AS. Misalnya seperti alas kaki dan tekstil. Itu hal menggembirakan  karena selama 40 tahunan kita masih berkutat pada ekspor produk ekstraktif seperti coal dan sawit/CPO. Kedua produk itu masih jadi porsi terbesar ekspor kita selama ini. Sampai-sampai ada yang mengatakan bahwa ekonomi Indonesia adalah ekonomi kelapa sawit. Jika harga sawit turun, maka ekonomi RI bisa turun, karena ekspor kelapa sawit nilainya turun. Demikian pula sebaliknya.

Jadi kualitas produk alas kaki dan sebagainya memang diterima pasar luar negeri, tetapi porsinya masih sangat kecil. Dibandingkan ekspor CPO atau batubara masih amat jauh.

Sekali lagi, memang mencari pasar non tradisional adalah hal penting, terutama dengan terjadi nya perang dagang dan sebagainya pada ekonomi global. Namun yang lebih krusial lagi adalah bagaimana kita bisa meningkatkan daya saing barang-barang kita. Jika ditarik kebelakang, maka harus terjadi transformasi struktural khususnya di sektor manufaktur. Harus digerakkan lagi industri manufaktur, industri pengolahan non migas dalam negeri Indonesia supaya bergerak lebih baik dan menghasilkan produk berkualitas dan berdaya saing.

Baru-baru ini ada semacam konsensus bahwa akan dimajukan 5 industri manufaktur dalam negeri diantaranya industri tekstil, alas kaki, obat-obatan. Mudah-mudahan dengan konsensus itu bisa menjadi starting point bagi peningkatan kinerja industri. Sepertinya sekarang sudah lebih fokus dan telah terlihat memang kita kalah daya saing. (pso)

 

 

 

 

 

 

SHARE ON
close

PENALAR

PENALAR TERPRODUKTIF