BACK TO TOPIC
OPINI PENALAR
Mantan Direktur Institute for Development of Economics & Finance (INDEF)
Harus Ada Respon Cepat Pemerintah


Kalau kita lihat dari feeding indicator dari mesin pertumbuhan triwulan III 2018 nanti dimana kita sudah tidak punya “kemewahan” lebaran, tidak ada Pilkada juga tidak ada THR, Bansos juga banyak yang sudah disalurkan, Rastra juga sudah 99 persen disalurkan, maka harus cepat ada kreativitas untuk menciptakan “engine” atau mesin pertumbuhan yang baru. Salah satunya mungkin ada momen Asian Games 2018, lalau ada IMF/Wold Bank Forum, tapi itukan juga terbatas. Makanya sekarang harus segera ada evaluasi dari belanja pemerintah yang tidak produktif agar benar-benar harus dialihkan ke sektor produktif. Karena, sekalipun saat ini adalah tahun politik, justru tahun politik itu adalah pertaruhannya kalau sampai nanti pada triwulan III dan triwulan IV 2018 pertumbuhan ekonomi turun, maka akan mempengaruhi orang ketika mencoblos pada Pilpres 2019. 

Jadi menurut saya hal ini yang harus segera dicarikan alternatif jalan keluarnya. Diantisipasi dan diselesaikan, terutama oleh incumbent. Karena kalau tidak, itu pertaruhannya sangat besar. Pertaruhan dari dampaknya pada vote pemilih pada Pilpres mendatang.

Sektor yang mempunyai primeover menjadi mesin pertumbuhan ekonomi adakah sektor industri. Tetapi industri di sini jangan hanya terkesima oleh industri 4.0. harus paham betul, apa yang dimaksud dengan industri 4.0. Pada Industri 4.0 tidak harus seluruhnya high technology. Artinya yang diperhatikan bukan hanya sektor-sektor industri yang Hi-tech. tetapi bagaimana memanfaatkan teknologi itu untuk menciptakan nilai tambah dan menciptakan efisiensi di industri-industri potensial kita. Industri potensial kita yang sudah pasti teruji misalnya industri pakaian jadi, industri alas kaki, makanan dan minuman. Nah, bagaimana di industri-industri potensial ini, terutama juga agro industri dimana kita punya potensi besar, memanfaatkan digital technology sehingga membuat efisiensi dan efektivitasnya meningkat. Sehingga daya kompetitifnya meningkat, termasuk dalam hal pemasaran.

Jadi ekspor akan menjembatan keterbatasan kita pada negara tujuan ekspor. Dengan memanfaatkan berbagai macam teknologi tinggi akan bisa menjadi salah satu solusi dengan berbagai macam sampel dan sebagainya untuk mempeluas negara-negara tujuan ekspor. Tetapi kunci pentingnya adalah pasar akan terbuka kalau kita punya produksi. Sehingga langkah awal yang harus dilakukan pemerintah adalah memberika insentif dan fasilitas sektor industri manufaktur kita agar tidak terbebani dengan berbagai macam regulasi yang membuat mereka terjebak pada high cost economy.

Jika tidak ada respon yang cepat dari pemerintah, hampir bisa dipastikan pada triwulan III dan IV 2018 pertumbuhan ekonomi akan turun. Karena, mesin penggerak pertumbuhan ekonomi sudah terkumpul di triwulan II/2018. Sehingga harus diupayakan agar pertumbuhannya jangan stagnan atau justru turun, minimal masih 5,2 persen atau 5,1 persen lebih. (pso)

SHARE ON
close

PENALAR

PENALAR TERPRODUKTIF

Lana Soelistianingsih, Dr., S.E., M.A.

Ekonom Universitas Indonesia, Kepala Riset/ Ekonom Samuel Aset Manajemen

Mohammad Faisal

Direktur Centre of Reform on Economic (CORE) Indonesia

Ahmad Heri Firdaus

Peneliti Institute for Development of Economics and Finance (INDEF)

FOLLOW US

Perkuat Investasi, Industri dan Ikatan Kewilayahan di ASEAN             Perubahan Nomenklatur Tak Efektif dalam Jangka Pendek             Ketergantungan pada Komoditas Dikurangi, Perbanyak Industri Olahan Berbasis Komoditas             Setia Ekspor Komoditas Alam, atau Diversifikasi Ekspor?             Perlu, Optimalisasi Non Tariff Measure (NTM)             Kebijakan NTM akan Bermanfaat, Selama Tidak Berlebihan.             Sesuaikan pilihan jenis NTM dengan karakteristik produk impor             Kebijakan Mandek Terganjal Implementasi, Koordinasi, Eksekusi               Pemerintah Sibuk Urusi Poliitk             Tinjau Kembali Struktur Industri Nasional