BACK TO TOPIC
OPINI PENALAR
Ekonom Universitas Indonesia, Kepala Riset/ Ekonom Samuel Aset Manajemen
Harus Ada Guarantee Letter Pemerintah Jepang

Sebetulnya investasi portofolio Jepang itu biasanya lewat samurai bond di pasar saham. Namun kalau pemerintah ingin Jepang lebih signifikan dalam penanaman investasi portofolionya di Indonesia, maka itu harus ada semacam guarantee dari pemerintah Jepang. Beberapa waktu lalu Indonesia pernah menawarkan samurai bond yang tidak menggunakan guarantee atau jaminan. Cuma lalu saya tidak mendapatkan informasi responnya bagaimana. Karena memang betul, masyarakat Jepang itu sangat hati-hati, sehingga kalau tidak ada jaminan memang susah. Barangkali itu yang harus ditembus dulu oleh pemerintah kita untuk mendapatkan semacam kesepakatan bilateral (guarantee letter) untuk bisa memberikan jaminan kepada pemerintah Indonesia agar bisa menjual lebih banyak samurai bond, dan itu harus disupport oleh pemerintah Jepang. Kalau tidak, maka agak susah.

Kalau tidak bisa memberikan guarantee letter maka pemerintah sepertinya harus menambah kupon atau menambah imbal hasil (yield). Artinya dengan memberi insentif dengan menambah kupon dengan nilai lebih tinggi misalnya sampai di atas 50 basis point di atas guarantee untuk daya tariknya. Tetapi itupun belum menjamin bahwa itu akan diminati karena memang masyarakat Jepang itu sangat hati-hati. Hal yang sama, mereka sekarang juga menabung cukup tinggi walaupun bunga relatif rendah, Itu tidak membuat mereka tidak menabung. Karena bagi mereka investasi tetap, tetapi yang dipilih tetap investasi yang sangat rendah resikonya (secure). Jadi pertama yang dilihat rating kita dulu, kalau rating kita belum masuk, maka kemudian kita harus punya jaminan dari pemerintah jepang.

Bisa juga pemerintah Indonesia menjual bond ke bank sentral Jepang. Bank sentral Jepang juga banyak membeli obligasi kita. Hal itu bisa dilakukan dengan cara kita mendatangi investor di sana yaitu bank sentral di Jepang untuk membeli obligasi kita. Kita memang mengalami defisit, maka karena itu kita hutang. Tapi itu tidak berarti mudah juga untuk menjual obligasi kita kesana.

Sekarang ini kita memang mengalami dilema. BI sudah menaikkan sukubunga sampai 5,5 persen tetapi selalu kita lihat, setiap kali ‘the fed’ mau menaikkan bunga maka saat itu juga dolar AS menguat, sehingga sepertinya bagi BI agak sulilt untuk tidak mengikuti. Mungkin untuk yang September 2018 ini jika rupiah kita bisa cukup stabil di Rp14.500 per dolar AS, maka BI bisa menahan diri untuk tidak perlu dulu menaikkan sukubunga. Alternatif nya memang menggunakan cadangan devisa, menaikkan sukubunga atau menarik/mengurangi rupiah dari pasar. Itu juga bisa dilakukan. Misalnya Bi menjual SBI nya dengan lebih banyak atau juga BI menjual obligasi pemerintah yang dia miliki dengan lebih banyak. Hal itu supaya BI dapat uang rupiah lebih banyak. Kalau BI dapat banyak rupiah maka nilai mata uang rupiah bisa agak menguat.

Memang yang tidak bisa kita antisipasi itu kalau ada isu-isu eksternal yang datang tiba-tiba. Itu selalu terjadi. Faktor yang membuat rupiah sekarang melemah itu lebih karena faktor eksternal.

Ihwal DHE (devisa hasil ekspor), kalau pemerintah memberikan insentif-insentif mungkin bisa lebih cepat dari semestinya. Kalaupun saat ini peraturannya tidak ada holding barriers dan juga datangnya boleh 6 bulan lagi, maka aturan yang ada itu mestinya diperbaiki dengan arus masuk yang lebih awal atau lebih cepat dari 6 bulan. Sementara ada holding barriers juga. Kalau tidak, agak susah mengharapkan DHE cepat masuk karena kalau kita bicara nasionalisme dengan pengusaha-pengusaha itu seperti bicara dengan tembok. Artinya mereka menggali produksi dari dalam negeri tapi tidak membawa uangnya masuk. Presiden sendiri sudah menghimbau agar eksportir memasukkan hasil ekspornya, tetapi jika tidak ada reward and punishment nya maka agak susah. Semestinya ada reward and punishment. (pso)

SHARE ON
close

PENALAR

PENALAR TERPRODUKTIF

Christianto Wibisono

Analis Bisnis/ Pendiri Pusat Data Bisnis Indonesia (PDBI)

Didin S. Damanhuri, Prof., Dr., SE., MS., DEA

Guru Besar Fakultas Ekonomi dan Manajemen (FEM) IPB

Riza Annisa Pujarama

Peneliti Institute for Development of Economics and Finance (INDEF)

FOLLOW US

Presiden sedang Menggali Kuburnya Sendiri             Duet Tango DPR & KPK             Utamakan Tafsir Moral ketimbang Tafsir Hukum dan Ekonomi             Langkah Menkeu Sudah Benar dan Fokuskan pada SKM 1             Industri Rokok Harus Tumbuh atau Dibiarkan Melandai             Perizinan Teknis Masih Kewenangan Daerah             Kiat Khusus Pangkas Birokrasi Perizinan di Indonesia             Politik Etika vs Politik Ekstasi              Kebutuhan Utama : Perbaiki Partai Politik             Pengaruh High Class Economy dalam Demokrasi di Indonesia (Bagian-1)