BACK TO TOPIC
OPINI PENALAR
Sejarawan, pemerhati isu perempuan, kordinator dan peneliti di Support Group and Resource Center on Sexuality Studies Indonesia  
Hantu Kuntilanak Semula Tak Bergender

Pertanyaan "mengapa hantu kebanyakan perempuan" bisa disederhanakan menjadi ada apa dengan perempuan dan mengapa mereka jadi hantu? Cerita-cerita soal hantu di masyarakat biasanya punya pola yang sama, muncul dari bawah (masyarakat) dan menjadi memori kolektif berupa sejarah lisan tentang suatu peristiwa tertentu. 

Misalnya, bagaimana legenda Nyi Roro Kidul muncul sebagai pertanda Sultan Agung yang mulai kehilangan daerah kekuasaannya di pantai Utara yang dikuasai VOC dan kemudian 'pernikahan gaib' dengan Ratu Kidul dilangsungkan sebagai pelanggeng kekuasaan di laut Jawa. Atau mitos tentang tuyul yang hadir akibat kekeringan dan kemiskinan akibat gagal panen/susah tanam yang menimbulkan kecurigaan ketika dalam masa yang susah, ada orang yang menjadi kaya mendadak.

Cerita hantu di masyarakat sebagai sejarah lisan dan ketika menjadi film tentu selalu berbeda-beda. Dalam film, tokoh dan peristiwa sudah mengalami intepretasi pembuatnya seperti bagaimana cerita tersebut banyak berubah dan diadaptasi oleh beberapa generasi. Misalnya dalam penelitian saya tentang Kuntilanak, Kuntilanak bisa jadi tanpa gender di awal kemunculannya. Namun kemudian dilekatkan gender perempuan karena beberapa hal, bisa jadi karena asosiasi rambut panjang di hari ini identik dengan perempuan atau dikaitkan dengan momok kematian ibu melahirkan di Pontianak. Nama Kuntilanak yang berasal dari Kunthien yang berarti pohon besar bisa menjadi hantu perempuan Kuntilanak (kunti mati beranak).

Identifikasi gender yang terjadi juga bisa dilihat tidak hanya pada fenomena hantu, tapi juga panggilan. Kita yang sebelumnya tidak menggunakan gender sebagai identifikasi, sekarang semakin sering menggunakannya sebagai kategori. Bagaimana kata 'tuan' sekarang dilekatkan pada laki-laki, padahal kata tuan sebagaimana ditemukan dalam lirik lagu Ismail Marzuki bermakna tanpa gender. Ini memunculkan pertanyaan berikutnya: mengapa perempuan lebih sering menjadi hantu? 

Berbeda dengan laki-laki, perempuan diposisikan sebagai manusia kelas dua. Secara general laki-laki tidak butuh menjelaskan bahwa dirinya manusia laki-laki sedangkan perempuan harus menjelaskan identifikasi gendernya baru dia dilekatkan identitas manusia. Perempuan hidup dalam dunia yang dibuat dan dikendalikan oleh pikiran lelaki. Faktanya, hampir 97 persen perempuan pernah mengalami kekerasan seksual berupa catcalling (digoda, dipanggil, disiul di jalanan). Yang terburuk mungkin terjadi pada "Si Manis Jembatan Ancol", karena dia mati diperkosa dalam balutan kebaya tapi hidup kembali dengan dress modern ketat. 

Hampir setiap perempuan mengalami masalah seksualisasi dan kekerasan seksual. Menjadi hantu adalah cara untuk marah atas ketidakadilan yang terjadi akibat identitas keperempuannya.

Kita sadar terhadap ketidakadilan yang terjadi kepada perempuan, tapi berusaha membalutnya menjadi sesuatu yang menyeramkan, melanggengkannya menjadi hantu dalam sinema, alih-alih menyelesaikan masalah sosial yang terjadi.

Masalah-masalah sosial perempuan seperti kematian ibu melahirkan, keadilan bagi korban pemerkosaan, stigma buruk bagi perempuan yang dilacurkan, keamanan perempuan berjalan sendirian dianggap bukan prioritas utama untuk diselesaikan. Sampai hari ini saja masih banyak orang berpikir perempuan berasal dari tulang rusuk padahal jelas-jelas semua manusia lahir dari vagina perempuan, hal sederhana tersebut adalah contoh bagaimana perempuan dipinggirkan dan dibungkam suaranya tentang ketidakadilan yang menimpanya. Perempuan akan terus menjadi hantu karena kita yang menjadikannya begitu, semakin masyarakat tidak peduli pada feminisme dan dunia yang lebih adil bagi perempuan, perempuan akan terus menghantui. Hidup ataupun mati. (ade)
 

SHARE ON
close

PENALAR

PENALAR TERPRODUKTIF