BACK TO TOPIC
OPINI PENALAR
Kepala Badan Standarisasi Nasional (BSN)
Hambatan Teknis Sebagai Fair Tools

Pada dasarnya perdagangan dalam sejarah peradaban dimulai dari perdagangan tukar menukar barang, dan ini pada prinsipnya berbasis pada keseimbangan kebutuhan. Dalam perkembangan kemampuan mengolah sumber daya alam (SDA) dan kemampuan teknologi dan SDM membuat suatu negara yang satu lebih unggul dari yang lain. Kemampuan teknologi, SDM dan iklim binis dalam perkembangan selanjutnya suatu negara tidak bergantung lagi pada SDA karena mereka mampu mengolah bahan baku SDA yang diimpor dari negara lain. Hal ini menyebabkan disparitas kemampuan memproduksi berbagai produk yang berbeda juga harga, mutu, dan konten teknologinya.

Perkembangan selanjutnya di era pasar bebas telah menimbulkan gap antara kemampuan ekspor dan impor. Negara yang mampu lebih efisien yang didukung oleh kemampuan SDM, Infrastruktur, kemampuan teknologi dan iklim binis yang baik akan mampu memproduksi barang yang komptetitif di berbagai belahan dunia. Negara seperti itu sebut saja Tiongkok.

Kebanyakan orang beranggapan bahwa produk dari China  yang di pasar kebanyakan substandar, namun pada kenyataannya produk China mempunyai  variasi lebar dalam hal mutunya, umumnya disesuiakan dengan kemampuan importir. Di Indonesia, importir menyesuaikan daya beli masyarakat. Sementara kalau kita ikuti pameran-pameran produk China banyak produk berkualitas termasuk produk-produk yang konten teknologinya tinggi.

Kemampuan negara Tiongkok memproduksi barang yang kompetitif di pasar global membuat beberaga neraca perdagangan beberapa negara defisit. Seperti defisit yang dialami oleh AS hingga mencapai sebesar 375 miliar dolar AS sangat besar. Sangat dimaklumi kalau AS ingin memangkas defisit tersebut. Karena di balik defisit perdagangan, disatu sisi bagi masyarakat berpenghasilan rendah diuntungkan dengan mampu membeli barang yang relatif murah. Namun secara makro bisa mematikan produk-produk lokal.

Maka tindakan Trump dengan memberikan tarif bea masuk dikabarkan telah memberikan angin industri dalam negeri dan juga mengurangi pengangguran. Tindakan ini memicu tindakan balasan dari Tiongkok dengan menerapkan hal yang sama. Hal ini bisa memicu balas membalas untuk komoditi yang lain. Meskipun dengan adanya perang dagang ini negara eksportir lain juga dapat memanfaatkan peluang ekspor baik ke AS maupun ke China sebagai produk subtitusi.

Cara memainkan tarif ini sebenarnya sudah lama tidak populer karena sistem ini tidak sesuai dengan ketentuan di WTO yang pada prinsipnya menggunakan tools TBT (technical barier to trade) dan SPS (sanitary phyto sanitary) sebagai acuan untuk mengatur perdagangan yang lebih fair.  Perang dagang berbasis pada standar dan conformity assesment sudah berjalan lama dan dianggap paling fair. Dalam konteks ini suatu negara dapat balas membalas. Namun dalam penerapannya memerlukan persiapan analisis dan pembuktian ilimiah serta memperhatikan berbagai konvensi global seperti isu lingkungan, HAM dan lain-lain. 

Metode ini sering kurang populer untuk mengejar kebijakan yang ingin cepat implementatif. Untuk mempercepat  implelementasi TBT yang cepat diperlukan perundingan bilaterial AS - China untuk membahas secara gradual dari Perang Tarif ke TBT. Bukan tidak mungkin implementasi TBT yang biasanya lama dapat dipercepat. Lamanya proses yang ada pada TBT - WTO disebabkan waktu yang sangat panjang diperlukan untuk pengumunan (notifikasi) dan tanya jawab (enquiry) yang biasanya dibuka untuk semua negara. Dialog langsung dua negara dalam konteks ini akan mempercepat implelementasi. Dalam hal ini, saya berasumsi misalnya AS bisa melakukan standard uji tambahan yang disesuaikan dengan kondisi keunikan iklim, geografi, budaya dan lain-lain yang secara sah diijinkan dalam WTO.

Saya sering mengatakan berbagai produk terkait penggunaan produk yang berbahan polimer alam, komposit natural,  furniture, kabel dan lain-lain perlu diuji ketahanan terhadap biological resistance seperti termite (rayap) yang berbeda dengan kondisi di dataran Tiongkok. Produk produk untuk yang ekstrem dingin dan lembab bisa mendapat uji khusus dan lain-lain. Contoh sukses Indonesia tentang uji tambahan terhadap ban mobil dengan alasan kondisi infrastruktur kita  berbeda bisa diterima seluruh negara eksportir ban mobil ke Indonesia meksipun awalnya ditentang. (pso)

SHARE ON
close

TOPIK TERPOPULER

Massa Ke MK, Untuk Apa?

0 OPINI | 13 June 2019

Bangsa Xenophobia

13 June 2019

Bahasa Daerah, Merana Nasibmu

2 OPINI | 14 June 2019

PENALAR

PILIHAN REDAKSI

PENALAR TERPRODUKTIF

Ujang Komarudin, Dr., M.Si.

Pengamat Politik dan Dosen Universitas Al Azhar Indonesia

Mohammad Faisal

Direktur Centre of Reform on Economic (CORE) Indonesia

Yahya Agung Kuntadi, Ir., M.M.

Kepala Kantor UGM Kampus Jakarta, Institute of Research and Community LPPM UGM

FOLLOW US

Insentif Pajak, Daya Sistem Pajak yang Paling Rasional             Menengok dan Menyiapkan SDM di Era Revolusi Industri 4.0             Polri Telah Berupaya Transparan Ungkap Rusuh 21-22 Mei             Possible and Impossible Tetap Ada             Ungkap Rusuh 21-22 Mei Secara Terang dan Adil             Banyak Masalah yang Harus Diselesaikan             Pilihan Cerdas Jadi Oposisi             Tergilas oleh Budaya Global             Penghambaan terhadap Simbol Dunia Barat             Tak Cukup Imbauan