BACK TO TOPIC
OPINI PENALAR
Pengamat Terorisme
Hak Menyatakan Perang Berada Di Tangan Kepala Negara

Hak meyatakan perang dan damai ada di tangan kepala negara. Rakyat boleh saja protes berteriak selantang apapun, namun keputusan menyatakan perang pada negara lain, tetap ada di tangan kepala negara.

Habib Rizieq, walaupun dinobatkan sebagai imam besar, tetap saja kapasitasnya bukan sebagai kepala negara, bukan sebagai pemimpin tertinggi angkatan bersenjata, maka tetap tidak bisa menyatakan perang, dan tidak bisa mengerakkan angkatan bersenjata.

Perang adalah peristiwa internasional, melibatkan banyak negara, maka pertimbangan geopolitik, perdagangan internasional, dan lain-lain akan mempengaruhi keputusan, untuk berperang, berdamai, dengan negara lain. Selain itu, perang memerlukan komitmen dan menguras anggaran negara, maka keputusannya harus diperhitungkan secara 360 derajat antara eksekutif dan legislatif, tidak bisa hanya karena kemarahan sesaat.

Di Indonesia, tidak ada kebijakan rakyat boleh memegang senjata, kecuali dengan izin sangat ketat dan terbatas (Perbakin misalnya). Yang legal membawa senjata hanyalah aparat negara yang berwenang, yang dipertanggungjawabkan komandannya masing-masing secara hirarkis sampai kepada presiden sebagai pemimpin tertinggi angkatan bersenjata.

Pernyataan, unjuk rasa, boleh boleh saja, namun kewenangan dan kebijakan, apalagi berhubungan dengan dunia internasional, tempatnya bukan di Monas, tetap saja di Istana Negara oleh kepala negara. (cmk)

SHARE ON
close

PENALAR

PENALAR TERPRODUKTIF

Ahmad Heri Firdaus

Peneliti Institute for Development of Economics and Finance (INDEF)