BACK TO TOPIC
OPINI PENALAR
Penulis, Pemerhati dan Konsultan Pendidikan, pendiri Pendidikan Karakter Education Consulting
Guru Tak Bisa Digantikan Bimbel Online

Peranan guru di kelas takkan tergantikan bimbingan belajar (bimbel) online. Meskipun di bimbel itu ada perjumpaan antara siswa dan murid, tapi bimbingan online itu berbayar. Artinya, di sana murid berinteraksi dengan orang lain, bukan dengan gurunya sendiri. 

Bimbel online akan bagus kalau dilakukan gurunya sendiri. Di situ, teknologi dimanfaatkan untuk melayani peserta didiknya. Itu malah saya anjurkan. Karena itu untuk menambah kedekatan antara guru dan siswa. Misalnya, setelah guru mengajar di kelas, begitu di rumah ada soal yang tak dimengerti muridnya, kemudian murid melakukan video call dengan gurunya. Itu bagus. 

Sedangkan bimbel online yang berbayar itu malah cenderung membuat anak-anak malas. Yang terjadi sekarang, ada PR yang tak dimengerti, tanya bimbel online. Ada tugas sekolah, si murid main-main dulu, lalu dia tanya bimbel online. 

Akhirnya, saya lihat bimbel-bimbel online yang berbayar itu sangat tidak mendidik. Mereka tidak membantu pertumbuhan belajar anak dan menumbuhkan semangat belajar. Bimbel online memang sebuah keniscayaan, tapi dalam konteks pendidikan menurut UNESCO, teknologi informasi (TI) harus digunakan oleh guru untuk membantu siswa. Bukan siswa yang menentukan gurunya. Jadi jangan disamakan dengan Gojek atau semacamnya. 

Guru harus mengenal siapa peserta didiknya. Oleh karena itu guru takkan pernah tergantikan, karena ia yang paling memahami karakter muridnya. Guru-guru di bimbel online itu tak paham siapa murid mereka. Guru di sana hanya menjawab kalau ada (murid) yang tanya. Itu saja. 

Dengar berbayar juga, bimbel-bimbel online itu produk yang mengkapitalisasi pendidikan. Menurut saya arah pendidikan dari UNESCO tak seperti itu (kapitalisasi pendidikan).   

Penggunaan TI dalam pendidikan adalah pembelajaran berbasis online dan siswa menggunakannya dalam berkomunikasi dengan guru yang ada di sekolahnya. Artinya, TI itu bagian dari layanan sekolah.

Selain itu, tidak bisa dipukul rata bahwa keberadaan bimbel ini membantu siswa. Ada siswa yang belajar dengan memanfaatkan teknologi, ada yang tidak. Namun, harus kita akui, sekolah-sekolah kita belum memanfaatkan teknologi untuk pembelajaran. Yang bisa menyediakan itu kebanyakan sekolah swasta. Sebetulnya, sekolah kita seharusnya segera mengarah untuk memanfaatkan teknologi.              

Lalu, apa pembelajaran sekarang harus dilakukan lewat bimbel-bimbel online? Tidak menurut saya. Karena proses belajar-mengajar harus ada komunikasi dan interaksi antara guru dan murid. Jadi keduanya akan saling mengenal. Bukan murid dengan guru bimbel online yang muridnya tak kenal, hanya sebatas jawab pertanyaan-pertanyaan jika ada kesulitan.  

Bimbel online yang berbayar tentu hanya menguntungkan pemilik modalnya. Lalu, apa mereka akan berbagi (ilmu) untuk anak-anak di pedalaman? Saya rasa tidak. Karena di sana juga tak ada sarana dan pra-sarananya. Maka, ini jadi tantangan pemerintah untuk melakukan pembelajaran online yang tidak
berbayar, dan disediakan pemerintah. Agar kita bisa mewujudkan pendidikan yang baik. (ade)    

SHARE ON
close

TOPIK TERPOPULER

PENALAR

PENALAR TERPRODUKTIF

Imam Ghozali

Dosen STAIN Bengkalis

Ujang Komarudin, Dr., M.Si.

Pengamat Politik dan Dosen Universitas Al Azhar Indonesia

Gigin Praginanto

Pengamat Kebijakan Publik, Wartawan Senior

FOLLOW US

Bilik Asmara adalah Hak Tahanan yang Harus Dipenuhi             Kedua Kubu Harus Menghormati Proses Hukum             Vandalisme dan Playing Victim sudah Usang             Investasi Dana Haji Untuk Siapa?             Batas Kesopanan Tidak Diatur dengan Jelas             Iklan Shopee BLACKPINK Berpotensi Menentang Norma Kesopanan              Jangan Abai dengan Jalan Rusak Dimusim Hujan             Revisi PP untuk Kemudahan Usaha Sektor Minerba             Tolak Rencana Revisi Ke-6 PP No.23 Tahun 2010              Kembali ke Permurnian Pelaksanaan Undang-Undang