BACK TO TOPIC
OPINI PENALAR
Fraksi Hanura DPR-RI
Gross Split, Menteri Jonan Terburu-Buru

Saat ini investasi migas di Indonesia kurang berdaya tarik bagi investor asing. Penyebabnya karena peraturan Indonesia yang tak menentu. Investor asing juga mempermasalahkan tax. Karena ada tax untuk eksplorasi. Namun, yang menjadi masalah sebetulnya mereka belum siap untuk beralih ke gross split. Pemain-pemain lama investor asing terbiasa dengan cost recovery, sekarang mereka tiba-tiba disodori sistem gross split.

Selain itu harga minyak dunia masih naik-turun. Harga minyak yang bagus untuk eksplorasi itu di sekitar 70 dolar AS per barel. Sekarang masih di bawah itu. Jadi, hitung-hitungannya untuk eksplorasi sekarang nggak masuk. Dan lagi wilayah kerja (WK) yang ditawarkan di tengah laut semua. Cost-nya sangat tinggi.

Yang menarik, kami di Komisi VII telah berkali-kali berteriak sejak era Menteri Sudirman Said masalah SPR (Strategic Petroleum Reserve) atau cadangan minyak untuk kebutuhan strategis, mendesak, dan darurat. Saya pernah tanya, berapa jumlah SPR Indonesia? Jawabannya nol. Kita nggak punya SPR. Sementara itu cadangan minyak bumi kita di dalam perut sekitar 3,7 miliar barel.

Bayangkan, cadangan strategis Amerika atau SPR mereka, yang artinya minyak di atas tanki, punya  4,1 miliar barel. Bandingkan juga dengan Jepang, cadangan strategisnya cukup untuk memenuhi kebutuhan satu tahun. Thailand cadangan strategisnya 60 hari. Indonesia, nol.

Saya pernah sampaikan pada panglima TNI Moeldoko, ketika ia masih menjabat pada awal 2014, dengan alutsista yang kita beli dan serba modern berapa lama kita bisa perang? jawabnya, (paling) dua hari saja. Kenapa cuma dua hari? Lah, karena nggak ada bahan bakarnya.

Oleh karena itu yang harus dibangun adalah SPR. Pemerintah harus segera bergerak. Kalau ada yang bilang dalam 20 tahun ke depan ada sumber energi terbarukan yang mengganti energi fosil. Tapi dalam 20 tahun ke depan siapa yang tahu? Apa benar 20 tahun lagi semua orang pakai mobil listrik, kan kita tidak tahu. Mumpung minyak sedang murah kita beli banyak-banyak. Ketika mahal bisa kita jual. Yang penting tetap kita simpan, kita punya cadangan.

Investor migas membutuhkan tax holiday. Misalnya mereka diberi keringanan tidak membayar pajak selama berapa tahun. Lalu selama ekplorasi, mereka diberi layanan perawatan peralatan dan sebagainya. Bisa dalam bentuk insentif atau lainnya.  

Masalah gross split memang harus dicari solusinya kenapa investor tak tertarik. Saya melihat gross split yang dirancang Menteri Jonan ini "ejakulasi dini". Dalam arti kajiannya belum tuntas dan akhirnya buru-buru orgasme duluan. Persiapannya belum matang. (ade)

SHARE ON
close

TOPIK TERPOPULER

PENALAR

PILIHAN REDAKSI

PENALAR TERPRODUKTIF

Christianto Wibisono

Analis Bisnis/ Pendiri Pusat Data Bisnis Indonesia (PDBI)

Yahya Agung Kuntadi, Ir., M.M.

Kepala Kantor UGM Kampus Jakarta, Institute of Research and Community LPPM UGM

Ujang Komarudin, Dr., M.Si.

Pengamat Politik dan Dosen Universitas Al Azhar Indonesia

FOLLOW US

Inovasi Kebijakan yang Tidak Menjual             Kebijakan Tergantung Tujuan Awalnya             Kebaya Tak Perlu Dipertanyakan             Penggalian Nilai Budaya Dibalik Kebaya             Berkebaya Adalah Kesadaran             Penangkapan Faisol Tidak Berdasar             Lembaga Negara Bukan Pemungut Upeti!             Cost Recovery Bukan dari APBN             Blok Masela, Akankah mengulang sejarah Freeport?             Kebutuhan Gas Dalam Negeri Harus Diutamakan