BACK TO TOPIC
OPINI PENALAR
Analis Bisnis/ Pendiri Pusat Data Bisnis Indonesia (PDBI)
Grace Natalie Vs Tommy Soeharto

Pada hari Minggu 18 Februari 2018, kedua orang tersebut (Grace Natalie dan Tommy Soeharto) mengambil nomor urut yang tersisa 2 buah. Tommy memperoleh nomor 7 untuk Partai Berkarya, sedangkan Graca Natalie memperoleh nomor 11 untuk Partai Solidaritas Indonesia (PSI).

Tommy Soeharto lahir 15 Juli 1962, ketika ayahandanya bertugas sebagai Panglima Mandala Pembebasan Irian Barat di Makassar. Ayahnya tidak berada di rumah ketika terjadi penculikan para Jenderal oleh Gerakan 30 September 1965, yang dipimpin Letkol Untung, karena Soeharto sedang membesuk Tommy yang cedera kena tumpahan sup panas.

Episode keberadaan Soeharto di RSPAD ketika Kolonel Latief, melapor penculikan Jenderal Achmad Yani cs, merupakan bagian dari misteri kudeta G30S dan kontra kudera 1 Oktober oleh Jenderal Soeharto. Yang menumpas habis G30S yang dibebankan sepenuhnya kepada PKI, dengan peran misterius triple agent Syam Kamaruzzaman. Tokoh Biro Khusus PKI ini dianggap merupakan double agent Soeharto (TNI), Aidit (PKI) dan agen KGB Uni Soviet, CIA (USA) maupun Chinese (China) Intelligence Agency.

Soeharto tidak jadi sasaran Syam (otak G30S), yang kemudian naik pada16 Oktober 1965 menjadi Panglima Angkatan Darat, setelah Bung Karno menahan 2 minggu sejak mengambil alih pimpinan Angkatan Darat setelah wafatnya Yani dan mengangkat Pranoto sebagai pelaksana harian. Sebetulnya wangsit “kepresidenan” sudah beralih ke Soeharto yang berani menolak perintah untuk menghadap  Presiden/ Panglima Tertinggi Sukarno ke Halim 1 Oktober 1965, dan malah akan menyerbu Halim dari tangan AURI. The rest is history.

Setelah berkuasa 32 tahun sejak menerima Supersemar 11 Maret 1966, maka Soeharto lengser pada 21 Mei 1998 mengulangi kegagalan rezim etatisme kiri Sukarnois. Inefisiensi dan rente KKN yang dibebankan oleh rezim kanan junta militer Soehartois Repressive Developmentalist Regime (RDR), telah membuat ekonomi terpuruk. Persis mengulangi siklus krisis ekonomi 1966 ketika Bung Karno melakukan sanering ke-3 dalam sejarah 20 tahun Kepresidenan Sukarno.

Soeharto jatuh karena nilai rupiah terpuruk melampaui Rp17.000 per 1 per dolar AS, dan melakukan 5 kali devaluasi 1970, 1971, 1978, 1983 dan 1986. Nilai Rupiah yang pada 1950 setara 1 dolar Malaya sekarang memerlukan Rp10.000 untuk membeli 1 dolar Singapura dan Rp3.500 untuk 1 Ringgit Malaysia. 

Sekarang dalam Pemilu 2019, partai yang dipimpin  putra mahkota Cendana bersaing dengan Partai Solidaritias Indonesia pimpinan Grace Natalie, lahir 4 Juli 1982, dan segera terlibat dalam polemik tentang kerusuhan dan tragedi Mei 1998 yang merupakan pelanggaran HAM berat, yang tidak pernah dituntaskan meskipun sudah 20 tahun lewat. PSI menayangkan video mengecam tragedi Mei 1998 yang segera direspon oleh Generasi Muda Berkarya dengan gertak sambel: elo jual gue beli

Watyutink mempertanyakan arah dan dampak polemik PSI vs Berkarya yang menurut saya tidak lepas dari Vox Populi Vox Dei. Jer Basuki Mawa Bea dan Karma Politik Joyoboyo bahwa pada akhirnya yang menang adalah yang eling dan waspada. Dunia sedang menghadapi konflik 3 peradaban: Barat, Confucius dan Kalifah. Kebetulan 12 Juni 2018 Barat-Confucius mengadakan KTT Trump-Kim Jong Un, yang diharapkan mengakhiri konflik dua peradaban yang berperang sejak 25 Juni 1950–27 Juli 1953 atau 3 generasi.

Di bulan Lahirnya Pancasila dan ambisi utopia Pancasila sebagai norma luhur yang justru sulit dipraktikkan di Indonesia, tapi menurut Kwik Kian Gie pada acara ILC, Selasa 5 Juni, malah terasa menjadi way of life orang Eropa. Maka kita harus  bersiap mengalami kekecewaan bila ternyata kemunafikan masih menjadi panglima dalam politik negeri ini.

Grace Natalie adalah generasi milenial mewakili harapan masa depan Indonesia, sedang Tommy Soeharto mewakili generasi anak cucu elite diktatur yang selama tigaperempat abad menikmati kekuasaan berbasis feodalisme otoriterisme.

2 partai ini PSI dan Berkarya adalah pendatang baru. Yang satu mewakili reinkarnasi Presiden ke-2 dan watak otoriterian elitis. Sedangkan yang kedua mewakili generasi milenial berasal dari masyarakat awam, model pengusaha meubel Jokowi, yang di luar pakem menerobos ke puncak Kepresidenan RI  dimana mayoritas masih dikuasai dinasti elitis konservatif ritualis agamis, militeris, penguasaha (penguasa merangkap pengusaha). (cmk)

 

SHARE ON
close

TOPIK TERPOPULER

PENALAR

PILIHAN REDAKSI

PENALAR TERPRODUKTIF

Christianto Wibisono

Analis Bisnis/ Pendiri Pusat Data Bisnis Indonesia (PDBI)

Yahya Agung Kuntadi, Ir., M.M.

Kepala Kantor UGM Kampus Jakarta, Institute of Research and Community LPPM UGM

Ujang Komarudin, Dr., M.Si.

Pengamat Politik dan Dosen Universitas Al Azhar Indonesia

FOLLOW US

Inovasi Kebijakan yang Tidak Menjual             Kebijakan Tergantung Tujuan Awalnya             Kebaya Tak Perlu Dipertanyakan             Penggalian Nilai Budaya Dibalik Kebaya             Berkebaya Adalah Kesadaran             Penangkapan Faisol Tidak Berdasar             Lembaga Negara Bukan Pemungut Upeti!             Cost Recovery Bukan dari APBN             Blok Masela, Akankah mengulang sejarah Freeport?             Kebutuhan Gas Dalam Negeri Harus Diutamakan