BACK TO TOPIC
OPINI PENALAR
Pemerhati masalah ekonomi dan ketimpangan
Geliat Koperasi di Era Industri 4.0

Revolusi digital dan era disrupsi merupakan istilah-istilah lain yang menggambarkan industri 4.0. Era industri 4.0 yang bercirikan digitalisasi dan otomatisasi telah mengubah cara beraktivitas manusia. Setiap individu kini dituntut untuk terus berpikir kreatif dan mampu berinovasi dalam menemukan jawaban atas sebuah persoalan. Demikian pula dengan gaya hidup generasi milenial yang kini begitu cepat (real time) dan tidak menentu (disruptif). 

Akibatnya, setiap negara di dunia kini tengah berbenah guna menyiapkan diri menghadapi era industri 4.0 ini. Beragam kebijakan guna mengadopsi digital dalam pembangunan nasional dan khususnya pembangunan perekonomian, menjadi suatu hal yang penting. Sedemikian pentingnya kemajuan teknologi sehingga pemerintah juga telah menetapkan tahun 2020 sebagai tahun dimana Indonesia diproyeksi menjadi negara dengan ekonomi digital terbesar di Asia Tenggara (sumber dari Kantor Kemenko Bidang Perekonomian, 2017). Didukung oleh besarnya jumlah penduduk serta dengan tingginya tingkat pengguna internet, maka Indonesia memang memiliki potensi yang cukup besar sebagai salah satu negara dengan kekuatan ekonomi digital yang harus diperhitungkan.

Namun demikian, selain membawa harapan, perkembangan industri 4.0 juga membawa tantangan. Implementasi industri 4.0 dikhawatirkan hanya akan menjangkau perusahaan besar tanpa bisa menyentuh usaha kecil menengah (UKM) maupun Koperasi. Sebagian besar UKM dan Koperasi juga jarang mendapatkan program pendidikan, pelatihan ataupun penyuluhan untuk meningkatkan kapasitasnya guna menghadapi tantangan digitalisasi ekonomi.

Sejak awal berdirinya tanggal 12 Juli 1947, kinerja sebagian besar Koperasi Indonesia masih jauh dari memuaskan. Banyak faktor yang menyebabkan kinerja perKoperasian di Indonesia masih rendah, mulai dari penyebab internal hingga eksternal seperti keberpihakan pemerintah serta rendahnya kesadaran masyarakat tentang arti pentingnya Koperasi.
Terlebih di era industri 4.0 seperti sekarang ini, tantangan yang dihadapi oleh Koperasi semakin kompleks. Di era milenial saat ini, banyak sekali masyarakat dan pelaku usaha meninggalkan Koperasi. Padahal kita sadari bersama bahwa Koperasi merupakan soko guru perekonomian kita. Bilamana dikelola dengan baik, maka Koperasi bisa menjadi kekuatan ekonomi yang besar. Tantangannya kini adalah bagaimana menarik kembali minat para pengusaha muda agar bergabung dengan koperasi.  

Kuncinya ada dua. Pertama, di era kemajuan teknologi seperti sekarang ini, Koperasi harus berbenah secara serius. Koperasi harus mampu menjadi Koperasi zaman now dengan memanfaatkan teknologi informasi di dalam pengelolaan bisnisnya. Dengan sistem aplikasi yang berbasis teknologi tersebut diharapkan pelayanan terhadap anggota menjadi lebih cepat, aman dan nyaman. Bilamana para pelaku usaha muda dapat melihat manfaat yang lebih luas dengan adanya Koperasi zaman now, maka diharapkan mereka akan bergabung dalam Koperasi berbasis digital ini.

Kedua, selain dari sisi internal, diperlukan pula keberpihakan pemerintah kepada perkembangan Koperasi. Pasal 33, UUD 1945 jelas mengamanatkan peran aktif negara. Implementasi dari pasal ini akan menentukan atau sekurang-kurangnya mempengaruhi tingkat keberpihakan negara kepada siapa, lembaga apa, atau kemana arahnya. Kita tidak perlu takut untuk lebih mengutamakan kepentingan nasional ketimbang asing. Kecenderungan deglobalisasi atau kembali ke ekonomi nasional juga sedang ditunjukkan oleh Presiden AS, Donald Trump. Kebijakan ini bukan tidak mungkin akan semakin disenangi oleh negar-negara maju lainnya. Oleh karena itu, Pemerintah harus terus menerus menujukkan komitmennya untuk membangun perekonomian bangsa ini berdasarkan pemerataan dan keberpihakan terhadap UKM dan Koperasi. 

Akhirnya untuk meningkatkan geliat Koperasi di tanah air, dibutuhkan kerja sama semua pihak. Tidak hanya pemerintah, tapi juga dunia usaha, akademisi, dan masyarakat luas untuk menciptakan iklim usaha yang lebih kondusif. (pso)

SHARE ON
close

PENALAR

PENALAR TERPRODUKTIF

Christianto Wibisono

Analis Bisnis/ Pendiri Pusat Data Bisnis Indonesia (PDBI)

Didin S. Damanhuri, Prof., Dr., SE., MS., DEA

Guru Besar Fakultas Ekonomi dan Manajemen (FEM) IPB

Riza Annisa Pujarama

Peneliti Institute for Development of Economics and Finance (INDEF)

FOLLOW US

Presiden sedang Menggali Kuburnya Sendiri             Duet Tango DPR & KPK             Utamakan Tafsir Moral ketimbang Tafsir Hukum dan Ekonomi             Langkah Menkeu Sudah Benar dan Fokuskan pada SKM 1             Industri Rokok Harus Tumbuh atau Dibiarkan Melandai             Perizinan Teknis Masih Kewenangan Daerah             Kiat Khusus Pangkas Birokrasi Perizinan di Indonesia             Politik Etika vs Politik Ekstasi              Kebutuhan Utama : Perbaiki Partai Politik             Pengaruh High Class Economy dalam Demokrasi di Indonesia (Bagian-1)