BACK TO TOPIC
OPINI PENALAR
Peneliti di Institute For Development and Economics and Finance (INDEF)
Fokus ke Aspek Keberlanjutan Industri Sawit

Beberapa waktu yang lalu, Komisi Eropa (European Comission) mengeluarkan peraturan pelaksana terkait Arahan Energi Terbarukan II (Renewable Energy Directive/RED II). Secara umum, RED mencakup arah kebijakan Uni Eropa dalam meningkatkan konsumsi energi terbarukan di negara-negara Uni Eropa hingga 32 persen pada tahun 2030. 

Walaupun minyak nabati (biofuels) menjadi salah satu sumber energi terbarukan yang didorong oleh Uni Eropa, 
namun sawit diklasifikasikan sebagai komoditas dengan risiko Indirect Land-Use Change (ILUC) yang tinggi. Hal ini berimplikasi terhadap posisi komoditas sawit dimana minyak sawit tidak dianggap sebagai sumber energi terbarukan dan secara bertahap konsumsinya harus di turunkan di negara-negara Uni Eropa pada 2030. 

Dalam aspek ekonomi, tidak dapat dipungkiri bahwa komoditas sawit memiliki peranan yang signifikan bagi ekonomi nasional maupun ekonomi rumah tangga para petani sawit maupun para pekerja yang bekerja di sektor ini.

Pada aspek ekonomi nasional, sawit merupakan salah satu komoditas utama ekspor Indonesia. Pada tahun 2018, ekspor komoditas ini mencapai 17,89 miliar dolar AS (BPS, 2019). Sehingga tidak salah jika komoditas ini dianggap ikut berkontribusi mengerem defisit neraca perdagangan yang semakin melebar pada tahun 2018. Di level rumah tangga, keberadaan sawit memberikan dampak terhadap peningkatan kesejahteraan. 

Studi yang dilakukan oleh Bank Dunia (2011) menunjukkan bahwa keberadaan sawit berperan dalam penurunan kemiskinan di Indonesia.
Ekspansi komoditas sawit dalam beberapa tahun terakhir memberikan tekanan terhadap sejumlah komoditas minyak nabati lainnya. 

Pada awal 2000an, minyak sawit hanya menguasai 30,54 persen dari total pasar minyak nabati dunia, tertinggal dari minyak kedelai (soybean) yang menguasai 35,64 persen. Sedangkan minyak nabati dari rapeseed dan bunga matahari hanya berkontribusi terhadap 20,2 persen dan 13,62 persen. Namun pada tahun 2018, kontribusi minyak sawit mencapai 35,25 persen, sedangkan minyak kedelai hanya 28,9 persen. Meskipun demikian, komoditas minyak nabati dari bunga matahari menjadi komoditas yang paling mendapatkan tekanan dari ekspansi minyak sawit dimana share nya terus mengalami penurunan dari 18,14 pada 1990 menjadi hanya 8,99 persen. Sehingga minyak sawit dianggap sebagai ancaman atas eksistensi dari bisnis minyak bunga matahari. 

Dalam perspektif ekonomi politik, berbagai kampanye negatif terhadap sawit dianggap sebagai bagian dari perjuangan untuk mendapatkan kue ekonomi.
Pertanyaannya adalah bagaimana masa depan komoditas ini di tengah berbagai hambatan dan penolakan yang dilakukan oleh sejumlah lembaga? 

Mengingat potensi yang sangat besar bagi pemenuhan kebutuhan energi dunia di tengah semakin menurunnya produksi berbagai sumber energi fosil, maka permintaan akan minyak nabati dari sawit diperkirakan akan tetap tinggi. Selain itu, hilirisasi industri sawit juga akan meningkatkan produksi dari sawit sendiri. Oleh sebab itu, permintaan atas komoditas ini di masa yang akan datang akan tetap tinggi. 

Meskipun demikian, terdapat pekerjaan rumah untuk terus meningkatkan aspek keberlanjutan dari industri sawit ini agar ke depan, industri ini tidak lagi dibenturkan dengan aspek lingkungan. Selama ini, sawit dianggap sebagai minyak jahat (cruel oil) oleh beberapa lembaga maupun akademisi karena ekspansi dari lahan sawit mendorong deforestasi sehingga pada akhirnya berkontribusi dalam menghasilkan emisi karbon dioksida. Akan tetapi, dalam beberapa tahun terakhir, berbagai upaya sudah dilakukan untuk meningkatkan aspek keberlanjutan dari sawit seperti sertifikasi Roundtable on Sustainable Palm Oil (RSPO) sebagai mekanisme untuk meningkatkan aspek keberlanjutan dari industri ini. 

Selain itu, peningkatan aspek keberlanjutan dapat didorong melalui peningkatan tata kelola rantai pasok di komoditas sawit yang memberikan insentif terhadap pengelolaan sawit dengan prinsip keberlanjutan.(pso)

SHARE ON
close

PENALAR

PILIHAN REDAKSI

PENALAR TERPRODUKTIF

Ujang Komarudin, Dr., M.Si.

Pengamat Politik dan Dosen Universitas Al Azhar Indonesia

Christianto Wibisono

Analis Bisnis/ Pendiri Pusat Data Bisnis Indonesia (PDBI)

Dadang Trisasongko

Direktur Eksekutif Tranparency Internasional (TI) Indonesia

FOLLOW US

Temuan TPF Novel Tidak Fokus             Bentuk TGPF Independen untuk Kasus Novel Baswedan             Pilah Skema Untuk Proyek Strategis             Risiko Penyertaan Equity Proyek Macet             Diskresi Kepolisian Bermasalah?             Penanganan Tak Sesuai Perkap             Polisi Tidak Dikondisikan Menjadi Arogan             Kita Tidak Dapat Menduga Kondisi Mental Polisi saat Menembak             MPLS Harus Diselenggarakan Sesuai Pedoman             Pendidikan Swasta Semi Militer Harus Ditertibkan