BACK TO TOPIC
OPINI PENALAR
Antropolog Agama Spesialisasi Tema Islam/ Muslim di Mexico dan Amerika Latin
Fenomena Perekrutan Artis

Ketika kita bersepakat untuk memilih sitem demokrasi bebas sebagai acuan dalam kehidupan bernegara, kemudian menggunakan istilah vox populi vox dei sebagai pembenaran. Maka mendapat suara terbanyak dalam sebuah proses pemilihan menjadi acuan terpenting. Tanpa melihat demografi kualitas pendidikan yang dimiliki warga di tanah air dimana jurang pendidikan antara warga terdidik dan warga kurang terdidik masih lebar. Tingkat pendidikan mayoritas warga Indonesia yang masih di bawah rata-rata ini yang menyebabkan sebuah demokrasi bebas tidak akan berlangsung dengan baik. 

Cara instan yang sering dilakukan dan ini umum dilakukan di berbagai penjuru dunia adalah mengundang artis menjadi pengepul suara, terbukti cara ini seringkali efektif karena sang artis sendiri telah memiliki basis fan yang setia mengikuti kata dan kegiatan idola mereka. Risiko yang terjadi adalah kebiasaan ini bisa diartikan sebagai:¨ membeli  suara secara tidak langsung¨.  Apalagi saat ini secara terang-terangan di Indonesia terdapat proses pembayaran mahar yang terbuka. ¨Membeli Artis¨ ini lebih murah karena apabila mahar yang diberikan Rp10 milyar berarti Rp10 milyar untuk 400 ribu (suara) atau sekitar Rp25 ribu per suara. Jauh lebih murah apabila mereka harus serangan fajar satu satu untuk satu suara.

Ironi pun terjadi, ketika lulusan lulusan ilmu politik, sarjana-sarjana dalam bidangnya harus bersusah payah agar dapat mencapai derajat caleg, artis-artis ini baik penyanyi, selebritas yang moral dan pengetahuan mereka tentang ilmu politik sosial ekonomi patut dipertanyakan, mereka instan menjadi boneka pemilik modal dan pemilik partai partai tersebut.
Tidak bisa diprotes karena itu hak konstitusi, yang bisa ditimpakan adalah beban moral, hanya itu saja. Yang bisa menghentikan praktik-praktik instan seperti ini adalah memperkuat tingkat pendidikan di tanah air. Apabila masyarakat lebih pintar, mereka otomatis bisa lebih selektif atas caleg-caleg instan yang menjadi andalan saat ini. (cmk)

SHARE ON
close

PENALAR

PILIHAN REDAKSI

PENALAR TERPRODUKTIF

Ujang Komarudin, Dr., M.Si.

Pengamat Politik dan Dosen Universitas Al Azhar Indonesia

Christianto Wibisono

Analis Bisnis/ Pendiri Pusat Data Bisnis Indonesia (PDBI)

Dadang Trisasongko

Direktur Eksekutif Tranparency Internasional (TI) Indonesia

FOLLOW US

Rekonsiliasi Politik di Level Elit Diharapkan Terjadi di Level Sosial.              Tak Ada yang Salah dengan Pertemuan Jokowi Prabowo             Perhatikan Lag antara Demand Side dan Regulasi dari Sisi Supply Side             Tantangan yang Harus Dihadapi Masih Besar             Kemiskinan Makin Sedikit, Sulit Dikurangi             Bansos Tak Efektif Kurangi Kemiskinan             UNHCR Harus Keluar             Pembangunan Negara Hukum Harus Jadi Agenda Prioritas             ‘Visi Indonesia’ Tidak Prioritaskan Pembangunan Hukum dan HAM             Perlu Pertimbangan Agar yang Dikurung Memang Pantas Dikurung