BACK TO TOPIC
OPINI PENALAR
Direktur Eksekutif Jaringan Anak Nusantara (JARANAN), Konsultan Keayahbundaan dan Perlindungan Anak.
Fenomena Kids Jaman Now dan Dosa Besar Kolektif Kita

Kemunculan fenomena “kids jaman now” yang menghinggapi anak-anak bau kencur generasi digital natives (pribumi digital) saat ini, lengkap dengan perilaku kebablasannya yang jauh dari substansi nilai-nilai prestatif yang meluhurkan dan membanggakan proses tumbuhkembangnya sebagai anak, wajib menjadi intropeksi semua pihak yang mengaku sebagai orang dewasa di negeri ini.

Fenomena “kids jaman now” itu tak hanya memperlihatkan hasil akhir berupa terbentuknya perilaku menyimpang dan memprihatinkan dari anak-anak itu, tapi kita pun sedang menyaksikan proses penghancuran salah satu identitas konstitusional kita sebagai bangsa, yakni Bahasa Indonesia. Terlepas dari manapun awal munculnya istilah “kids jaman now”, penggunaan istilah itu harus segera dihentikan, karena merendahkan Bahasa Indonesia sebagai bahasa nasional dan bahasa persatuan.

Terhadap maraknya perilaku nyeleneh anak yang tercermin lewat fenomena “kids jaman now” itu, langkah awal terbaik bagi kita adalah mengakui sepenuh hati bahwa ini memang lebih banyak kesalahan kita, dosa besar kolektif kita selaku orang dewasa, selaku orangtua, guru, dan pemerintah.

Semua pihak tidak memiliki jangkauan terjauh sekaligus tidak segera bahu-membahu untuk bersama-sama dalam mengantisipasi dan memproteksi aspek-aspek luhur dan fundamental dari nilai-nilai kepribadian bangsa Indonesia yang amat memungkinkan diporakporandakan oleh perkembangan teknologi informasi yang menyeruak ke setiap rumah di dalam keluarga.

Ketika dalam waktu lebih satu dekade terakhir ini perkembangan teknologi informasi berlangsung amat pesat di negeri kita, pada saat yang sama justru diiringi kelalaian kita dalam hal strategi dan metode yang teruji dan dapat diandalkan dalam mengiringi proses pembentukan nilai-nilai mulia bagi anak serta proses penciptaan lingkungan sosial yang kondusif di sekitar anak. Baik itu di rumah, di sekolah, dan di luar keduanya, yang diharapkan berujung pada pembentukan karakter dan perilaku yang meluhurkan anak-anak tersebut dalam proses tumbuh-kembangnya sebagai anak.

Dalam konteks penggunaan bahasa Indonesia yang keliru serta maraknya perilaku keblinger anak yang mengiringi fenomena “kids jaman now” itu, setidaknya ada beberapa catatan saya.

Pertama, dalam hal penggunaan bahasa Indonesia yang baik dan benar, betapa selama ini kita sebagai masyarakat dan bangsa terlalu permisif terhadap kekeliruan penggunaan bahasa nasional kita, bahasa Indonesia. Sebagai contoh, syair lagu dinyanyikan almarhum Julia Perez (Jupe) beberapa tahun lalu berjudul “Aku Rapopo”, justru menjadi populer meski syairnya dari segi bahasa Indonesia amat merusak.

Kedua, banyak institusi pendidikan tinggi di negeri kita yang justru tidak mempromosikan kebanggaan berbahasa Indonesia, tidak bersikap positif terhadap Bahasa Indonesia, tidak mendorong pengembangannya, bahkan berkhianat terhadap Bahasa Indonesia. Hal ini bisa dilihat dari gedung pertemuan di banyak kampus justru dinamai Convention Hall ataupun Convention Center, misalnya. Ada pula kampus bernama MBA Business Research Center Institut Teknologi Bandung, gedung Science Park Universitas Indonesia, dan gedung Gadjah Mada University Club, dan sebagainya.

Ketiga, terus melemahnya peran para orangtua dan para pendidik anak dalam fungsi sejatinya sebagai figur otoritas pembentuk nilai-nilai terpuji anak lewat metode yang baik dan benar mengedepankan cinta. Imbasnya, anak kemudian menjadikan apapun yang ada di internet dan media sosial yang bebas nilai dan permisif itu sebagai figur otoritas pengganti orangtua dan yang jadi panduan perilaku dan gaya hidup mereka, meskipun perilaku dan gaya hidup itu tidak pantas bagi anak-anak tersebut.

Lantas yang menjadi pertanyaan, bersediakah kita mengakui segenap kesalahan-kesalahan kita tersebut untuk kemudian beranjak untuk bersama-sama merumuskan formula yang tepat dan memperbaiki keadaan demi proses pembentukan karakter dan perialku luhur bagi anak-anak kita, wahai para orangtua, para pendidik, dan para pemangku kekuasaan negara? (ast)

SHARE ON
close

PENALAR

PENALAR TERPRODUKTIF

Budi Arie Setiadi

Wakil Menteri Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal, dan Transmigrasi Indonesia

Edgar Ekaputra

Pakar Industri Keuangan dan Ekonomi, Dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis UI

Lia KIan, Dr.

Staf Khusus Dewan Pengarah Badan Pembinaan Ideologi Pancasila