BACK TO TOPIC
OPINI PENALAR
Analis Bisnis/ Pendiri Pusat Data Bisnis Indonesia (PDBI)
Fenomena Dildo Kotak Kosong Milenial 2014

Golkar dan PPP mempunyai total 27 juta suara pada Pilpres 2014, saat masih berkoalisi dengan Prabowo. Jika ditambahkan dengan PKS, PAN dan Demokrat  dengan 31 juta suara,  dan Gerindra 14,7 juta suara, maka total suara KMP  lebih kurang 72 juta suara. Sementara itu KIH ada 53 juta suara.

Namun dari total 132 juta suara, suara Pilpres 2014 ke Jokowi  sebesar 70 juta suara, sedangkan ke PS 62 juta suara Bila sekarang 75 persen dari DPT 196 juta pada Pilpres 2019, maka akan ada 147 juta suara pemilih. Yang menarik adalah kenaikan DPT pada wilayah pemenangan Jokowi di 2014 sebesar 9,3 juta. Animo ini paralel dengan pemilih luar negeri yang pada 2014 hanya 817 ribu, tahun 2019 naik menjadi 2,1 juta.

Khayalan PS menang dengan 51 persen saja, dia harus meraih 75 juta suara. Kalau dari basis suara 2014 full KMP saja hanya meraih 62 juta, sekarang dengan hengkangnya Golkar dan PPP, rasanya angka 62 juta akan sulit dipertahankan. Apalagi menambah 13 juta suara, ini yang disebut butuh 13-15 juta orang gila baru dari pemilih Jokowi nyeberang ke PS. Sulit dibayangkan menarik yang waras setelah melihat hasil kerja Jokowi ke wilayah yang makin tak jelas. Apalagi perilaku aneh yang dipertontonkan oleh para komedian politik kubu PS yang semakin tak waras.

Sebaliknya, Jokowi  2014 menang 70 juta suara sebelum berkarya, maka menambah 5 juta untuk menang 51 persen sangatlah mudah. Penambahannya malah diprediksi bisa melaju sendiri, karena PS konsisten stagnan. Sehingga, Jokowi bisa melambung dan mendapat tambahan lebih kurang 32 juta suara, dengan persentase kemenangan di atas 70 persen. Dengan asumsi penguasaan Jawa dan secara keseluruhan 30 provinsi dimenangi Jokowi, atau mungkin saja bisa 34 provinsi.

Fenomena Dildo memang harus diwaspadai sebagai taktik dan manuver yang bisa dimanipulasi oleh lawan petahana sebagai opsi ketiga "kotak kosong versi milenial”. Jadi pendukung petahana justru harus mewaspadai secara bijaksana sebab generasi milenial yang muak dengan partai "lu lagi lu lagi ", barangkali tergoda untuk golput dan memlih Dildo. Ini semua gara-gara mekanisme pemilu di mana mantan penyelenggara negara diduga pelanggar HAM Berat, bisa lolos jadi capres sehingga rakyat merasa "dipaksa" beli barang loak bekas yang bisa mendaur ulang penjarahan Mei 1998. Karena itu muncul fenomena Dildo yang frustrasi, keki, gemas tapi tak berdaya. Ya, sudah jadi Golput Dildo, jadi kotak kosong milenial. Ini yang harus diwaspadai. (cmk)

SHARE ON
close

PENALAR

PILIHAN REDAKSI

PENALAR TERPRODUKTIF

Gigin Praginanto

Pengamat Kebijakan Publik, Wartawan Senior

Ujang Komarudin, Dr., M.Si.

Pengamat Politik dan Dosen Universitas Al Azhar Indonesia

Bambang Budiono MS

Pengajar Antropologi Politik Fisip Unair

FOLLOW US

Daerah Perbatasan Harus Outward Looking             Abu Bakar Ba’asyir Digoreng dalam Bungkus Politik             Pemerintah Belum Bisa Disalahkan             Pemerintah Seharusnya Tidak Perlu Terburu-buru             Kapasitas Sumber Daya Lokal yang Menjadi Hambatan             Konglomerasi Media dan Pilpres             Kuatnya Arus Golput: Intropeksi Bagi Parpol             Golput Bagian dari Dinamika Politik             Parpol ke Arah Oligharkhis atau Perubahan?             Melawan Pembajak Demokrasi