BACK TO TOPIC
OPINI PENALAR
Ketua Program Doktoral Ilmu Politik Sekolah Pasca Sarjana Universitas Nasional
Fatsoen Politik Harus Dijaga Dalam Berkomunikasi

Saya kira tidak hanya pak Jokowi, kebanyakan politisi kita itu tidak mengedepankan substansi didalam mengkomunikasikan gagasannya ke publik. Lebih banyak pada soal-soal yang sifatnya simbol-simbol, yang sebenarnya tidak perlu dan mengundang kontroversi. Sebenarnya tidak perlu, seperti pernyataan siap berkelahi. Menurut saya, tidak pantas seorang presiden berbicara seperti itu.

Termasuk juga penggunaan baju misalnya. Saya tidak tahu apakah Pak Jokowi paham betul tentang tentang etika politik. Semua itu ada aturan dan etika. Walaupun aturan main itu tidak detail mengatur sampai soal baju, tapi kalau soal baju itu jelas adalah simbol pada partai tertentu. Termasuk juga yel-yel, yang disampaikan di depan publik. Saya khawatir dia tidak paham dengan etika-etika politik. Dan sebenarnya justru hal-hal seperti itu yang harus dihindari. Apalagi beliau sebagai presiden. Nah itu yang saya sayangkan.

Demikian juga partai, elite-elite yang lain, siapa pun bukan hanya pak Jokowi. Mestinya mereka itu harus sensitif pada hal-hal sebenarnya dia tidak boleh dimasuki. Karena kita menginginkan budaya demokrasi ini betul-betul terbangun dari waktu ke waktu dan semakin menunjukkan pada kualitas yang kita harapkan. Jadi bukan hanya soal prosedural dalam berdemokrasi, tapi fatsoen politik itu harus dijaga. Karena kalau tidak, rakyat ini apa yang jadi sandarannya. Itu kan  kacau kalau  diterjemahkan oleh timnya secara serampangan. Hal itu kacau sekali.

Komunikasi yang dilakukan Jokowi tidak efektif, karena kalau saya melihat, misalnya penempatan orang. Katakanlah dalam kasus Ngabalin. Itu kan sederhana sekali, Mengapa perlu Ngabalin, karena dia ini sebagai counter attack terutama kepada kelompok-kelompok dari oposisi. Dan lebih khusus lagi pada kelompok-kelompok Islam.

Namun harus disadari dia tidak hanya pejabat di seputar istana, tapi dia mewakili negara yang di bawah pemerintah Jokowi. Jadi dia itu merepresentasikan baik secara individu maupun ketokohan, kenegarawanan. Nah, dia tidak bisa memainkan peran itu. Jadi cara dia berkomunikasi itu konyol. Sama seperti cara berkomunikasi di pinggir jalan, dan memang betul tidak masuk pada subtansi. Jadi debat kusir yang tidak tentu arahnya. Nah itulah yang dilakukan oleh si Ngabalin. Itu justru mengkerdilkan citra Jokowi dan sebenarnya itu sama dengan bunuh diri.

Harusnya Jokowi memilih orang-orang yang ekspert, mampu berkomunikasi dengan baik, dan tenang. Juga dia mampu menyelesaikan masalah, tanpa menimbulkan masalah baru. Justru orang itu harus menyelesaikan masalah dan menurunkan suhu politik. Jadi kalau ada yang menyerang Jokowi, itu hal biasa. Tapi bagaimana orang itu melakukan counter tanpa menimbulkan masalah baru. Jangan sampai memilih orang yang justru membuka peluang bagi kubu oposisi untuk menyerang Jokowi. Jadi bukan karena kehebatan oposisi dalam menyerang Jokowi, tapi karena kesalahan tim komunikasi Jokowi itu sendiri. (ast)

SHARE ON
close

TOPIK TERPOPULER

PENALAR

PENALAR TERPRODUKTIF

Ujang Komarudin, Dr., M.Si.

Pengamat Politik dan Dosen Universitas Al Azhar Indonesia

Enny Sri Hartati, Dr.

Direktur Institute for Development of Economics & Finance (INDEF)

FOLLOW US

Gelombang Spekulasi Politik             Demokrasi Tanpa Jiwa Demokrat             Rekonsiliasi Sulit Terjadi Sebelum 22 Mei             Industri Manufaktur Memperkokoh Internal Perekonomian             Dibutuhkan Political Will, Bukan Regulasi             Kasus Makar Bernuansa Politis             Pasal Makar Ancam Demokrasi             PMDN Ada Peluang, Tetapi Konsumsi Melambat             Dari Sistem Pemilu Hingga Politik Uang             Perlu Perubahan Revolusioner