BACK TO TOPIC
OPINI PENALAR
Ekonom Danareksa dan Analis Kuantitatif LPEM UI
Faktor Eksternal Dominan Mempengaruhi Kurs Rupiah

Aksi terorisme yang terjadi kemarin secara berturut-turut di Mako Brimob Depok, Surabaya dan Sidoarjo, sebenarnya tidak terlalu berpengaruh secara signifikan. Mengingat, kejadian aksi terorisme yang kemarin terjadi itu bukan pertama kalinya di Indonesia. Secara historis, pelaku bisnis kita bisa dibilang sudah kuat dan berpengalaman menghadapi kondisi-kondisi instabilitas keamanan akibat aksi terorisme. Hal ini yang kemudian membentuk semacam ‘imunitas’ pada para pelaku bisnis dan pasar modal di Indonesia.

Meski begitu, kejadian terorisme yang terjadi secara beruntun kemarin memang sempat membuat ‘kaget’ para pelaku bisnis dan pasar kita. Namun, pergerakan pasar mudal dan kurs rupiah yang melemah, saya kira bukan karena faktor itu. Melainkan pada faktor eksternal dan faktor internal makro ekonomi kita. Jadi kalau kita mengaitkan antara terror bom yang terjadi kemarin dengan kurs maupun pasar modal, saya melihat korelasinya terlalu sempit.

Kalau mau jujur, kemarin ketika terjadi terror bom di Indonesia, nilai tukar rupiah sempat menguat, meskipun tipis 3 poin atau 0,02 persen ke level Rp13.957 per dolar AS dari posisi penutupan perdagangan di akhir pekan lalu Rp13.960 per dolar AS.

Terkait dengan pelemahan yang terjadi terhadap nilai tukar rupiah ini, saya melihatnya akibat dari faktor eksternal, karena adanya perubahan kebijakan ekonomi di Amerika Serikat (AS), antara lain adanya rencana kenaikan Federal Funds Rate (FFR) yang berpengaruh menentukan suku bunga properti, kartu kredit dan pinjaman lainnya, kenaikan suku bunga obligasi pemerintah AS, dan kekhawatiran terhadap perang dagang (trade war) yang di canangkan AS dengan China. Kalau perang dagang terjadi, banyak orang mengkhawatirkan akan terjadinya resesi dunia. Jika resesi dunia terjadi, maka banyak orang akan mencari apa yang disebut dengan ‘safe haven’, yakni orang akan mencari aset yang digunakan sebagai pelarian saat kondisi ekonomi global dianggap sedang tak aman. Apa yang terjadi saat ini agak mirip-mirip dengan apa yang terjadi pada tahun 2013.

Selain itu juga termasuk adanya faktor geopolitik yang mempengaruhi, seperti rencana AS keluar dari perjanjian nuklir dengan Iran, yang bisa membuat terjadinya gejolak di Timur Tengah. Nah, terjadinya gejolak di Timur Tengah ini tentu akan berimbas kepada naiknya harga minyak dunia.

Ditengah-tengah kebijakan organisasi minyak dunia (OPEC) yang menekankan produksi, kemudian ada gejolak di Timur Tengah, tentu akan menimbulkan konsekuensi harga minyak dunia akan naik tinggi. Jika harga minyak semakin naik tinggi, yang akan terjadi ke ekonomi kita adalah turunnya neraca perdagangan baik ekspor maupun impor kita. Karena saat ini Indonesia itu net importir minyak. Hal inilah yang menimbulkan kekhawatiran di pasar dalam jangka panjang jika harga minyak dunia terus naik. Maka neraca pembayaran kita akan tertekan. Dan inilah yang kemudian membuat nilai tukar rupiah akan (semakin) melemah.

Sementara, faktor dalam negeri adalah karena pertumbuhan ekonomi kita selama 2017 yang hanya dikisaran 5,06 persen, dari target semula yang 5,4 persen kemudian diturunkan menjadi 5,2 persen. Hal ini sedikit banyak membuat pasar agak kecewa. Sehingga faktor kepercayaan pasar berkurang. Hal ini tentu menjadi pertimbangan bagi investor dan pasar. (afd)

SHARE ON
close

PENALAR

PENALAR TERPRODUKTIF

Lukman Hakim Piliang

Dosen Administrasi Publik UPDM(B)

Gigin Praginanto

Pengamat Kebijakan Publik, Wartawan Senior

FOLLOW US

Pidana Mati Bersyarat, Jalan Keluar Moderat             Agama Baru Itu Bernama HAM             Layakkah Nama Bung Karno Dihilangkan             Istora Bung Karno, Simbol Identitas Bangsa             Ruang Politik Tidaklah Hitam Putih             Perdebatan Harusnya Berbasis Politik Program             Pengangkatan Ali Mochtar Ngabalin Menimbulkan Kontroversi             Strategi Politik Jokowi di Pilpres 2019             Mengunci Golkar Ala Jokowi             Hanya Kepentingan