BACK TO TOPIC
OPINI PENALAR
Guru Besar Ekonomi Universitas Nasional
FTA Perlu, Tapi Hidupkan Kembali Industri Kita

Pada dasarnya free trade agreement itu yang paling kuat adalah WTO (World Trade Organization). Semua negara ASEAN sekarang ini adalah juga anggota WTO. Tanpa adanya perjanjian di ASEAN pun sebetulnya Indonesia sudah bisa melakukan perdagangan bebas dengan negara lain di ASEAN dengan payung WTO. Dan payung WTO itu adalah institusi yang sangat lengkap. Indonesia sudah meratifikasi perjanjian perdagangan bebas WTO dengan Undang-Undang No 7 tahun 1994 tentang pendirian WTO.

Itu berarti, semua regulasi WTO disetarakan dengan regulasi nasional. Cuma sekarang di WTO itu didominasi negar-negara maju. Pada dasarnya semua regulasi di WTO itu bagus, tapi ada dominasi negara maju yang selalu menekan negara berkembang untuk membuka pasar seluas-luasnya bagi produk negara maju. Ironisnya, mereka sendiri menerapkan proteksi pasar negara-negara maju terhadap produk-produk negara berkembang dengan berbagai macam alasan. Terutama proteksi di sektor pertanian. Tidak adilnya WTO di situ.

Bahwa kita sekarang mengalami penurunan dalam ekspor dan daya saing, itu sebenarnya persoalan domestik karena kita tidak mengurusi industri kita. Regulasi kita juga tidak pro terhadap industrialisasi. Padahal dulu kita mengundang negara-negara maju untuk membangun industri dalam negeri. Khususnya industri substitusi impor. Kemudian industri substitusi impor itu berkembang menjadi industri berorientasi ekspor. Tapi karena mereka ke sini cuma mencari tenaga kerja murah, lalu ketika upah buruh sudah menjadi tinggi dan juga regulasi sudah bermacam-macam, ditingkahi ekonomi biaya tinggi, maka kemudian mereka hengkang dari Indonesia. Banyak sekali yang hengkang, ada industri sepatu, elektronik dan lainnya ke Vietnam, dan lain-lain.

Nah, saya tidak tahu persis apa batasan untuk meratifikasi perjanjian-perjanjian itu. Ratifikasi mutlak perlu, karena Indonesia itu sebetulnya dominan di ASEAN.  Pasar kita memang terbesar di ASEAN. Jadi mau tidak mau kita akan dibanjiri produk impor, terutama produk pangan. Dulu, negara berkembang itu eksportir pangan tapi karena ada WTO lalu sekarang kebanyakan negara berkembang sekitar 70 persen lebih jadi negara pengimpor pangan dari negara-negara maju. Karena, negara-negara maju itu sangat pandai memanfaatkan regulasi-regulasi yang ada di WTO untuk kepentingan mereka. Terlebih mereka punya dominasi dalam pengambilan keputusan di komite/“board” WTO. Contohnya pada produk sawit kita yang “dikerjai” dengan macam-macam aturan pembatasan, dulu soal kolesterol dalam CPO kita, sekarang dikatakan merusak lingkungan.

Kemudian, dengan adanya WTO maka komoditas pangan yang tadinya merupakan barang publik berubah menjadi barang privat. Pemerintah kemudian jadi kehilangan ‘tangan’ untuk mengatur masalah pangan di dalam negeri karena sudah masuk ke ‘pasar’ WTO.

Kaitannya dengan pasar kita yang menjadi pasar terbesar di ASEAN, sulit juga kita bisa mengalahkan Thailand dalam hal produk pertanian, cuma masalahnya sekarang produk industri kita juga kalah dengan yang baru muncul seperti Vietnam,yang memulai dengan industri substitusi impor, tapi produknya untuk ekspor. di lain pihak, ada masalah besar dengan adanya perjanjian AFTA, ASEAN dengan China dan India yang keduanya sangat kuat. Itu yang menjadi masalah.

Secara prinsip ekonomi perdagangan internasional, adanya Free Trade Area dengan China, Australia, New Zealand itu sangat menguntungkan dan terbukti efisien. Oleh karena itu tidak ada salahnya kalau kita menyetujui. Jika kita melakukan proteksi impor, itu malah berbahaya, karena ekpsor kita kebanyakan komoditas primer. Misalnya kita memproteksi impor pangan dari China, maka kita akan kesulitan mengekspor komoditas primer kita karena yang membeli juga kebanyakan China. Bisa-bisa ujungnya akan terjadi perang dagang. Diusahakan jangan sampai terjadi proteksi, karena akan menyebabkan tindakan balasan yang merugikan kita.

Jadi kembali secara prinsipnya free trade area itu akan menseleksi mana yang tidak efisien karena itu ekonomi pasar, yang sanggup bersaing itu yang menang.

Yang mendesak sekarang itu perlunya aktivasi kembali industri manufaktur kita. Saya belum melihat adanya grand design ke arah sana. Kalau jaman orde baru melakoni nya dengan kebijakan yang mengacu pada GBHN dengan repelita I sampai V dengan dukungan APBN. (pso)

SHARE ON
close

PENALAR

PENALAR TERPRODUKTIF

Abdillah Ahsan, Dr., S.E, M.S.E.

Dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas indonesia, Peneliti Lembaga Demografi FEB UI