BACK TO TOPIC
OPINI PENALAR
Pengamat Transportasi
FAA Klaim B737 MAX-8 Laik Terbang Tanpa Tahu Hasil Investigasi

Kecelakaan jatuhnya pesawat kembali terjadi oleh Ethiopian Airlines ET 302 dengan pesawat Boeing 737 Max-8, pesawat yang sama dengan Lion Air JT 610 ketika jatuh di perairan Karawang Oktober 2018 lalu. Kejadian jatuhnya dua pesawat ini juga hampir sama, karena sama-sama tidak lama setelah take-off dan pilot ingin kembali ke bandara semula. 

Kedua pesawat juga sama-sama baru, masih mengantongi ratusan jam terbang, bahkan ET 302 jauh lebih baru karena baru terbang pada November 2018 lalu. Secara awam pasti bertanya, mengapa selama lima bulan terjadi dua kecelakaan dengan seri pabrikan pesawat yang sama dan keduanya pesawat terbaru pula. Tidaklah berlebihan apabila masyarakat kini lebih meragukan kemampuan pesawat B737 Max-8 ini untuk mengudara melayani publik. 

Ironisnya, setelah kecelakaan ET 302 FAA (Federal Aviation Administration) sebuah badan otoritas penerbangan Amerika Serikat, mengklaim bahwa B737 Max-8 layak untuk terbang, tanpa mengetahui hasil laporan investigasi kecelakaan ET 302 dan JT 610. Namun kontradiksinya di AS bahwa FAA sendiri belum mau menandatangani bulletin B737 Max-8.

Artinya, FAA sendiri sebenarnya masih belum mau mengakui produk Boeing seri B737 Max-8 tersebut. Tidak ingin gambling dengan produk gagal atau tidak, akhirnya Senat Amerika tetap memerintahkan FAA ke pabrik Boeing khusus untuk grounded seri B737 Max-8 ini. Perlu dicermati, tidak perlu menunggu kecelakaan ET 302 ini, Lion Air telah menghentikan order B737 Max-8 dari total 186 pesanan (11 telah beroperasi dan 1 jatuh JT 610). 

Akhirnya kini sedikitnya 8 negara (termasuk Indonesia) melarang B737 Max-8 untuk sementara dilarang terbang (temporary grounded). Sebuah langkah konkrit dari pemerintah RI untuk sementara melarang terbang tersebut patut kita apresiasi karena faktor keselamatan pengguna dan kru pesawat lebih diutamakan. 

Adanya temporary grounded oleh regulator, maskapai Garuda dengan satu pesawat dan Lion mempunyai 10 pesawat B737 Max-8, telah sepakat untuk menghentikan sementara sambil menunggu keputusan pemerintah mengenai nasib B737 Max-8 tersebut. Memang pasti akan terjadi kekosongan slot penerbangan (crowded time flight) untuk mengganti pesawat tersebut. 

Barangkali khusus Garuda tidak menjadi beban berat karena hanya punya satu pesawat yang dilarang terbang. Lion Air tentunya mempunyai tugas berat karena harus mencari pengganti atau menyewa pesawat baru untuk menukar 10 pesawat B737 max 8 dalam waktu yang sangat singkat. Pihak Lion memerlukan waktu transisi untuk mencari settle flight kembali. 

Apabila tidak dalam situasi routine maintenance, sebenarnya Grup Lion Air masih punya cukup banyak pesawat B737-800, B737-900ER dan A320-200. Terlebih dengan adanya kenaikan tarif penerbangan Lion (tarif bagasi) terjadi penurunan jumlah penumpang dan beberapa slot penerbangan Lion ada yang dibatalkan, sehingga ada beberapa pesawat yang batal terbang bisa menggantikan pesawat dari B737 Max-8 yang dilarang terbang oleh Pemerintah RI. (grh)

SHARE ON
close

PENALAR

PILIHAN REDAKSI

PENALAR TERPRODUKTIF

Mohammad Faisal

Direktur Centre of Reform on Economic (CORE) Indonesia

Yahya Agung Kuntadi, Ir., M.M.

Kepala Kantor UGM Kampus Jakarta, Institute of Research and Community LPPM UGM

Gigin Praginanto

Pengamat Kebijakan Publik, Wartawan Senior

FOLLOW US

Maskapai Asing, Investasi yang Buruk Bagi Ekonomi Nasional              Hilangnya Kompetisi di Pasar Penerbangan Domestik             Masalah pada Inefisiensi dan Pengkonsentrasian Pasar              SBY Harus Bisa Menenangkan              Lebih Baik Kongres 2020             Ketegasan SBY, Redakan Tensi Faksionalisasi             Langkah PKS di Oposisi Perlu Diapresiasi             Insentif Pajak, Daya Tarik Sistem Pajak yang Paling Rasional             Menengok dan Menyiapkan SDM di Era Revolusi Industri 4.0             Polri Telah Berupaya Transparan Ungkap Rusuh 21-22 Mei