BACK TO TOPIC
OPINI PENALAR
Penulis, pengamat sepakbola dan politik, pengelola media online
Euforia Politik Tidak Boleh Berhenti di Pemilu Saja

Antara cuek dengan sotoy, mending mana? Kalau saya pilih sotoy. Karena sotoy pangkal ilmu pengetahuan. Jika bikin paper atau skripsi, yang paling di depan adalah hipotesis. Dan setelah berpuluh-puluh halaman hipotesis itu di ujung diuji hipotesisnya benar apa nggak. Ini apa hubungannya? Saya rasa sejak Pilkada DKI Jakarta 2012 antusiasme anak muda terhadap politik meningkat drastis, walaupun level pengetahuan dan ketertarikannya belum mendalam.

Tapi paling tidak, mereka merasakan keseruannya, mereka merasakan hastag-nya, meme yang viral-nya, mereka merasakan baju atau warna tertentu, kode tangan tertentu yang masih dipakai sampai sekarang. Ini sebuah tanda yang sangat menyenangkan. Kenapa? Dua puluh tahun lalu, siapa yang ngomongin soal pemilu di Indonesia buat anak muda? Nggak ada.

Karena keterbukaan informasi, semakin mudah untuk mengakses dan kian mudah mendistribusikan informasi, yang mana sebenarnya bagai pedang bermata dua, tapi saya ingin lihat sisi bagusnya: ini contoh sebuah demokrasi yang sedang bertumbuh. Jangan salah, baru 21 tahun Indonesia mempraktikkan demokrasi dengan terbuka. 

Memang lebih banyak yang sotoy ketimbang yang komprehensif. Tapi itu bukan tanda yang buruk. Ketika orang membicarakan pemilu, soal caleg, walaupun masih di taraf yang lucu-lucuan, tapi diobrolin antar teman sambil ngopi, itu seru. Berarti demokrasi kita sedang tumbuh. 

Pernah ada yang dengar jingle Pemilu yang bunyinya, "Pemilihan umum telah memanggil kita..."? Ada yang pernah lihat jingle itu diputar lagi sekarang? Nggak ada, kan. Dan memang nggak perlu. Dua puluh tahun lalu, untuk membuat ketertarikan orang pada politik dibikin jingle (seperti itu), atau iklan "Inga... Inga.." Sekarang atmosfirnya sudah berubah. Sekarang lebih asyik. 

Pemilih pertama atau anak muda yang berkesempatan jadi pemilih di pemilu kini pasti senang banget. Saya berharap mereka excited. Tapi saya mau tanya balik, apa anak-anak muda ini tahu tugasnya DPD (Dewan Perwakilan Daerah) atau tahukah mereka pada siapa yang dipilih di Pemilu 2014? Saya ingin menunjukkan betapa pentingnya pada siapa yang kita pilih nanti. Jika melihat hasil survei soal kepercayaan publik pada lembaga negara, yang paling rendah adalah DPR. Ketika
ditanya anggota DPR kerja atau nggak? Jawabannya pasti nggak. Tapi pertanyaan berikutnya, tahukah mereka pada anggota DPR dari dapil (daerah pemilihan)-nya? Kalau nggak tahu, lalu yang disebut nggak kerja tadi itu siapa?

Ketika berdemokrasi ada proses integral dan runut. Kalau suka dengan kinerja seorang anggota DPR/DPRD kita pilih dia, kalau nggak suka, ganti pilhannya.

Intinya, ini sebuah euforia yang bagus namun tak boleh berhenti hanya sampai di situ. Demokrasi tak berlangsung pada saat pemilu, tapi juga sebelum dan sesudahnya. (ade)    

Catatan: Opini ini disampaikan di acara talk show LINE TODAY, Kamis, 14 Maret 2019 di Jakarta.                       
 

SHARE ON
close

PENALAR

PENALAR TERPRODUKTIF

Ujang Komarudin, Dr., M.Si.

Pengamat Politik dan Dosen Universitas Al Azhar Indonesia

Nailul Huda

Peneliti INDEF

Yahya Agung Kuntadi, Ir., M.M.

Kepala Kantor UGM Kampus Jakarta, Institute of Research and Community LPPM UGM

FOLLOW US

Soal Subsidi MRT: Negara Jangan Pikir Profit, Tapi Benefit             Perjelas Kewenangan Berbasis Wilayah             Indonesia Masih Menarik Sebagai Negara Tujuan Investasi             Subsidi MRT Bukan untuk Orang Kaya             Pemerintah Harus Hitung Risiko Utang BUMN             Pembentukan Holding BUMN Harus Selektif             BUMN Jangan Terjerumus Jadi Alat Kepentingan Penguasa             MoU KPU-PPATK Jangan Sekadar Aksesoris             MoU KPU-PPATK Jangan Hanya Formalitas             Pemerintah Harus Promosikan Tempat Wisata Terlebih Dahulu