BACK TO TOPIC
OPINI PENALAR
Direktur Eksekutif Next Policy, Dosen FEB UI
Ekspor, Industri dan pertumbuhan Ekonomi Indonesia (Bagian-2)

Jika melihat tren Incremental Capital Output Ratio (ICOR) yang terus meningkat hingga lebih dari 6 persen jauh diatas level sebelum krisis (periode 1993-1996) yang sebesar 3.8 persen, adalah salah satu yang terburuk di ASEAN. Hal ini menandakan bahwa perekonomian Indonesia sangat tidak efisien. Bagaimana membenahi ini? Salah satu hal yang mesti diperhatikan adalah dalam hal kebijakan industrialisasi.

Untuk bisa melaju, Indonesia tidak bisa tidak, harus membenahi kinerja Industrinya yang hingga sekarang masih dibayangi oleh tren deindustrialisasi. Tren inilah yang pada gilirannya menyebabkan Indonesia kehilangan momentum jaringan rantai produksi global dan semakin tertinggal dengan sejawat dekatnya.

Menurut penelitian dari Ilmi dan Hastiadi ditahun 2017, Indonesia bahkan sudah tertinggal dari Filipina dan Vietnam dalam ranking partisipasi jaringan produksi global industri. Ketinggalan dari Thailand dan Malaysia saja sudah membuat dada ini sesak, mulai tahun 2015 Indonesia justru harus tercecer dari persaingan disalip Filipina dan Vietnam.

Pemerintah melalui Nawacita-nya telah menetapkan target pertumbuhan ekonomi pada tahun 2019 sebesar 7 persen. Berdasarkan hasil estimasi sederhana yang dilakukan oleh LPEM FEB UI (2015), dengan target pertumbuhan ekonomi sebesar 7 persen pada 2019, maka setiap tahunnya dibutuhkan peningkatan investasi rata-rata sebesar 12.9 persen.

Di sisi lain, dengan melihat perkembangan ekonomi global terkini, LPEM FEB UI memprediksi pertumbuhan 7 persen pada tahun 2019 sulit dicapai. LPEM FEB UI memprediksi bahwa pertumbuhan ekonomi pada tahun 2019 sebesar 5.7 persen. Dengan target pertumbuhan tersebut, dengan estimasi sederhana seperti sebelumnya, diperkirakan dibutuhkan rata-rata peningkatan investasi sebesar 9.8 persen setiap tahunnya. Padahal realitanya, ekspor hanya tumbuh paling tinggi 6 persen sampai tahun 2018. Masih jauh panggang dari api.

Dalam rangka mencari sumber pendorong ekonomi, ekspor adalah salah satu variabel yang harus menjadi andalan, sayangnya seperti yang telah saya sampaikan, ekspor tidak ditopang oleh dorongan domestik yang memadai (industri mandeg), Indonesia juga tampak lesu dan loyo jika kita melihat perkembangan kerjasama perdagangan dan ekonomi dengan negara-negara lain. Jangankan untuk mitra non-tradisional, dengan mitra tradisional saja Indonesia kelihatan kurang agresif dan kinerja perdagangan internasionalnya masih sub optimal. Merujuk kajian Badan Kebijakan Fiskal Kementerian Keuangan Republik Indonesia, nilai utilisasi FTA yang sudah ditandatangani masih sekitar 30-an persen. Sebuah angka yang menggambarkan bahwa Indonesia masih tampak malu-malu dalam mengeksplorasi kinerja perdagangan internasionalnya.(pso)

SHARE ON
close

PENALAR TERPRODUKTIF

Fithra Faisal Hastiadi, Dr., S.E., MSE., M.A

Direktur Eksekutif Next Policy, Dosen FEB UI

Yahya Agung Kuntadi, Ir., M.M.

Kepala Kantor UGM Kampus Jakarta, Institute of Research and Community LPPM UGM

Eko Listiyanto

Peneliti INDEF (Institute for Development of Economics and Finance)

FOLLOW US

Tidak Pada Tempatnya Meragukan Data BPS             Harus Disadari, Ada Akar Masalah yang Tidak Diselesaikan             Sektor Konsumsi Harus Tetap Didorong             Data Angka Konsumsi dan Investasi Masih Menunjukkan Peningkatan             Rakyat Harus Diuntungkan dalam Jangka Pendek             Jangan Kejar Target Pembangunan Fisik Saja             Kemampuan Investasi dalam Menyerap Tenaga Kerja Semakin Rendah             Sektor UKM Masih Bisa Diandalkan             Masih Harus Banyak Dilakukan Pembenahan             Tantangan Besar Meningkatkan Tenaga Kerja Menjadi SDM Berkualitas