BACK TO TOPIC
OPINI PENALAR
Ketua Pembina Universitas Islam Indonesia (UII) Yogyakarta
Ekonomi Syariah untuk Kemandirian Ekonomi Rakyat (Bagian-2)

Dalam perspektif ekonomi syariah, mendistribusikan kekayaan (bersedekah harta) yang memberi manfaat bagi orang yang membutuhkan itu salah satu cara mendorong tumbuhnya produktivitas masyarakat miskin yang potensial menjadi produktif dan akhirnya mencapai kemandirian ekonomi walau dalam skala kecil.

Ekonomi Syariah sebagai bagian dari sistem ekonomi nasional bertujuan mempersempit jurang perbedaan di antara umat, antara orang yang “berpunya” dengan yang “tidak punya”. Dalam konteks ini menjalankan prinsip kerjasama melalui tolong menolong antara lain melalui koperasi yang berbasis syariah adalah keniscayaan yang harus dijalankan secara konsisten. Sebagaimana firman Allah SWT (QS.  An-Nisa: 1) “Bertakwalah kepada Allah yang dengan namanya kamu  saling meminta dan peliharalah hubungan kekeluargaan. Sesunguhnya Allah selalu menjaga dan mengawasimu”. 

Keadilan sosial dalam Islam bertumpu pada pandangan bagaimana proses tolong menolong (kerjasama) memaksimumkan kesejahteraan  manusia melalui redistribusi kekayaan yang efektif agar tidak hanya beredar diantara orang-orang kaya saja yang bertumpu pada prinsip, keadilan, keseimbangan, dan tanggungjawab. 

Gema mendorong peluang meningkatkan pendapatan dan kesempatan kerja melalui dorongan pertumbuhan ekonomi lewat peran lembaga-lembaga keuangan syariah telah semakin menguat demi mendorong perkembangan bisnis UMKM, anak-anak muda  yang kreatif (startup) mengatasi kemiskinan dan pengangguran. 

Masalah ini relevan dengan kebijakan pemerintah yang membuka akses kemudahan berusaha dan telah membuahkan hasil walapun belum optimal dampaknya. Bank Dunia dalam laporan terbarunya menempatkan prestasi Indonesia pada posisi ke 72 dari 190 negara dalam indeks kemudahan berusaha (ease of doing business, EoDB) 2018. Itu prestasi luar biasa yang merupakan  kelanjutan dari peringkat kemudahan berusaha pada tahun 2017. 

Di sisi lain optimalisasi peran kelembagaan seperti BAZNAS telah berlangsung secara efektif dalam upaya menanggulangi kemiskinan lewat pengumpulan dana zakat masyarakat. BAZNAS yang menyampaikan target penghimpunan zakat se-Indonesia selama bulan Ramadhan lalu sebesar Rp3 triliun. Kemudian BAZNAS Pusat pada bulan Ramadhan 1439 H lalu, menargetkan penghimpunan zakat sebesar Rp54 miliar. Dan mustahik yang akan menerima ditargetkan sebanyak 57 ribu orang. (Republika, 15/5/2018). Tentu dengan asumsi umat Islam istiqomah, konsisten berpartipasi dan dengan keikhlasan penuh  membayar zakat. Ekonomi rakyat dalam konsep ekonomi Islam adalah ekonomi yang bertumpu pada Islamic ethical philosopy yaitu, etika Tauhid,  keseimbangan, kebebasan (demokrasi), dan tanggung jawab. (pso)

SHARE ON
close

PENALAR

PENALAR TERPRODUKTIF

Ahmad Heri Firdaus

Peneliti Institute for Development of Economics and Finance (INDEF)