BACK TO TOPIC
OPINI PENALAR
Pengelola majalah POTRET dan Majalah Anak Cerdas. Direktur Center for Community Development and Education (CCDE) Banda Aceh
Ekonomi Keu-Rakyat-an

Mengikuti gelegar gonjang-ganjing politik di tanah air, terutama pasca pengumuman calon Presiden dan wakil Presiden yang akan ikut kontestasi  pemilihan Presiden dan wakil ( Pilpres) 2019 ini memunculkan berbagai spekulasi, isu dan wacana yang  menjatuhkan lawan. Kendati pada awal  pencalonan kedua pasangan  masih diwarnai gonjang-ganjing, penuh aroma gugat-gugatan serta buka-bukaan, kedua pasangan calon presiden dan wakil itu, sudah memaparkan visi, misi dan program bila nanti rakyat memberikan amanah kepada mereka. Bidang yang menjadi soko guru bagi upaya menyejahterakan dan memakmurkan seluruh rakyat Indonesia, sebagaimana diamanahkan oleh Undang-undang Dasar 1945, menjadi program menjanjikan. Jangan heran bila kedua pasangan calon sudah menyatakan niat untuk memenuhi harapan rakyat.

Tidak dapat dipungkiri, kini segenap lapisan  masyarakat Indonesia sangat berharap agar Presiden dan wakil dari salah satu kubu yang menang, mampu mengangkat ekonomi rakyat Indonesia yang sedang berada pada masa sulit. Masa dimana nilai rupiah yang terus melemah terhadap dolar yang menembus angka Rp14.600 per dolar Amerika. Selain itu, juga menurunnya nilai saham IHSG di kala pengumuman kedua pasangan calon presiden dan wakil presiden. Masyarakat saat ini  merasakan rendahnya denyut daya beli masyarakat terhadap barang-barang kebutuhan sehari-hari. Nah, bila rakyat menggantungkan harapan kepada mereka nanti setelah lolos dan mampu menang pada pemilu nanti, itu wajar.  Karena rakyat, terutama rakyat kecil sedang memimpikan kesejahteraan dan kemakmuran. Kemakmuran yang ditandai dengan adanya peningkatan taraf ekonomi bangsa. 

Lalu, kedua pasangan calon tersebut sudah dengan gegap gempita memperlihatkan niat mereka untuk membangun ekonomi kerakyatan, ekonomi umat, memberantas kemiskinan dan kebodohan hingga membuat rakyat tidak lapar. Tentu saja, ketika membaca visi dan misi serta program yang memakmurkan rakyat tersebut, membuat kita sebagai pihak yang akan memberikan kepercayaan, amanat rakyat lewat pilpres di bulan April 2019 nanti, mendapat angin segar, mendapatkan secercah harapan akan kemakmuran yang sangat absurd itu. Kita memang layak berharap, namun sayangnya, selama ini program-program atas nama kesejahteraan dan kemakmuran rakyat sesungguhnya selalu menjadi komoditas dan jargon politik bagi para pemimpin bangsa. Pembangunan ekonomi umat, ekonomi rakyat itu, adalah sesuatu yang indah dibayangkan, namun belum tentu bisa dinikmati. Mengapa demikian?

Selama ini rakyat kecil sudah merasakan dan mengalami banyak penderitaan. Walaupun Presiden dan wakilnya mendapatkan amanah dari rakyat, yang umumnya dari lapisan rakyat kecil, realitas selama ini keberpihakan pembangunan ekonomi bangsa lebih kepada pengusaha-pengusaha besar yang memiliki dana modal besar. Sementara kepentingan rakyat kecil dinomor sekiankan. Oleh sebab itu, bila kepada kita disuguhkan pertanyaan, apakah pernyataan kedua pasangan Jokowi dan pasangan Prabowo akan mengembangkan ekonomi rakyat, dengan memperhatikan kebutuhan ekonomi rakyat kecil? Pasti rakyat kecil sudah punya jawaban. Namun dalam pengalaman mereka, janji tinggal janji. Kalau pun ada, bukan prioritas. Maka, kalau di Aceh dikenal dengan sebutan, Ekonomi Keu-Rakyat tan. Ekonomi untuk rakyat itu tidak ada. Kalau ada, yang kecil dapat kecil. Yang besar, menikmati sebesar-besarnya.(pso)

SHARE ON
close

PENALAR

PENALAR TERPRODUKTIF

Ahmad Heri Firdaus

Peneliti Institute for Development of Economics and Finance (INDEF)