BACK TO TOPIC
OPINI PENALAR
Guru Besar Ekonomi Universitas Nasional
Efek Domino Perang Dagang Amerika vs China

Bayang-bayang krisis keuangan global yang baru sudah mulai jelas. Hal itu bisa dibaca antara lain dari efek yang ditimbulkan oleh kenaikkan suku bunga global yang dipicu oleh kenaikkan suku bunga acuan Bank Sentral Amerika Serikat, The Fed, dan efek kebijakan perdagangan Presiden Trump yang proteksionis.

Krisis keuangan bisa merupakan transmisi ke krisis ekonomi. “Kepanikan” AS dalam mengatasi defisit perdagangan dengan China memang bisa melebar menjadi perang dagang yang membahayakan perekonomian dunia. Pada 2009 kejayaan perekonomian China telah membuahkan cadangan devisa yang luar biasa besarnya (sekitar 2,5 triliun Dolar AS) yang sebagian besar berasal dari surplus perdagangan dengan Amerika Serikat. Untuk mengatasi krisis ekonomi akibat supreme morgage pada 2008, pemerintah AS mengeluarkan surat hutang secara besar-besaran yang sebagian besar diborong oleh China. Kondisi ini terus memperparah defisit neraca pembayaran AS.

Sebenarnya kebijakan Trump yang berasal dari Partai Republik ini bertentangan dengan “ideologi” kaum Republikan yang merupakan motor dari proses globalisasi dengan perdagangan bebasnya (ingat Reagenomic dan juga Thatcherian). Amerika Serikat merupakan motor dari Liberalisasi Perdagangan sejak mulai GATT yang kemudian berlanjut dalam WTO utamanya dalam bentuk penurunan tarif. Meskipun dalam jangka pendek kebijakan The Fed untuk menaikkan suku bunga acuan dan juga kebijakan Trump secara keseluruhan ini faktanya telah menguatkan perekonomian AS, mengurangi pengangguran dan menaikkan kurs dolar AS terhadap berbagai mata uang kuat dunia.

Namun dalam jangka menengah dan panjang kebijakan proteksionis akan menjadi bumerang. Industri AS yang menggunakan bahan baku dari China akan mengalami ekonomi biaya tinggi yang berarti menurunkan daya saing, menurunkan ekspor dan menambah parah defisit neraca perdagangan.

Menguatnya nilai Dolar AS akan membuat produk AS menjadi lebih mahal di luar negeri dan menurunkan ekspor. Pada gilirannya kebijakan menaikkan suku bunga akan mengurangi gairah investasi, menurunkan pertumbuhan ekonomi dan menyebabkan pengangguran.

Pengeluaran konsumsi AS juga akan turun akibat kenaikan harga barang-barang yang dipicu oleh ekonomi biaya tinggi ini dan pada gilirannya akan menyumbang pada turunnya pendapatan nasional. Sedikit banyak efek serupa juga akan dialami oleh China serta menjalar pada mitra dagang, baik mitra dagang AS maupun China termasuk Indonesia.

Akumulasi konflik dagang AS - China ini harus dihentikan. Kalau Trump bisa damai dengan Kim Jong-Un sepantasnya dunia mendorong dia untuk berdamai juga dengan China dalam menyelesaikan konflik dagang ini.(pso)

SHARE ON
close

PENALAR

PENALAR TERPRODUKTIF

Yahya Agung Kuntadi, Ir., M.M.

Kepala Kantor UGM Kampus Jakarta, Institute of Research and Community LPPM UGM

Ujang Komarudin, Dr., M.Si.

Pengamat Politik dan Dosen Universitas Al Azhar Indonesia

Karyono Wibowo

Pengamat Politik. Peneliti di Indo Survey & Strategy. Peneliti Senior Indonesian Public Institute (IPI)

FOLLOW US

Kapan Merdeka dari KUHP Peninggalan Belanda?             Bangsa Parasit             Tinjau Kembali Politik Pangan             Semantik Munafik Lunatik Kembali Otentik              Indonesia Kehilangan Arah dan Tujuan             74 Tahun RI: Kedaulatan Sebagai Slogan Politik              Perlu Mekanisme Seleksi Khusus             Ketahanan Pangan Indonesia Masih Rapuh             Persoalan Ada Pada Tingkat Konsumsi             Kedaulatan Pangan Didukung Pola Makan dan Perilaku Konsumsi Pangan