BACK TO TOPIC
OPINI PENALAR
Direktur Institute for Development of Economics & Finance (INDEF)
Dukung Investasi UKM Naikkan Daya Saing

Hal mendasar yang harus segera diatasi dan dipenuhi pemerintah mendatang, pertama, adalah terpenuhinya kebutuhan pokok rakyat dan diberikannya akses terhadap lapangan pekerjaan.

BPS mencatat banyak pengangguran terutama dari kalangan terdidik, yakni mereka yang memiliki pendidikan SLTA, D3 dan S1.  Pada tingkat pendidikan yang lebih rendah seperti SD dan SMP tingkat pengangguran lebih kecil tapi mereka bekerja di sektor informal yang tidak memberikan penghasilan yang layak dan prospek masa depan yang baik.

Ini persoalan terbawah yang belum disentuh. Sekalipun inflasinya rendah dan relatif terkendali selama 3 tahun terakhir tetapi tidak mampu mendorong daya beli masyarakat. Buktinya, pertumbuhan konsumsi rumah tangga kita stagnan di angka 5 persen sehingga berdampak juga pada pertumbuhan ekonomi yang berkisar 5 persen.

Kedua, secara makro yang menjadi  persoalan paling urgen adalah tekanan defist neraca perdagangan. Persoalannya tidak hanya terletak pada jumlah yang dibeli (impor) lebih banyak dari yang kita jual (ekspor), tetapi hal itu berarti daya saing Indonesia rendah, tidak mampu menjual produk yang kompetitif, sementara pasar dalam negeri terbuai oleh barang-barang dari luar negeri.

Defisit neraca perdagangan memberikan peringatan bahwa daya saing dari industri domestik dan nasional Indonesia kalah kompetitif. Banyak hal yang membuat industri di Tanah Air tidak kompetitif seperti ketergantungan kepada bahan baku impor.

Defisit neraca perdagangan ini mempunyai implikasi persoalan yang luas, terkait dengan produktivitas, daya saing, perlindungan terhadap industri dalam negeri, dan beberapa hal lain. Dalam jangka pendek hal ini mutlak harus mendapatkan jawaban.

Harapan paling konkrit untuk meningkatkan produktivitas dalam jangka pendek adalah investasi. Tetapi sering latah yang dijadikan ukuran adalah investasi PMA. Semua kebijakan dan usaha pemerintah adalah bagaimana menfasilitasi dan memberikan insentiif untuk menarik PMA masuk melalui relaksasi Daftar Negatif Investasi, pemberian insentif fiskal dan non-fiskla dan lain-lain. Padahal porsinya investasinya tidak sampai 15 persen. Sebagian besar justru UMKM.

Jika kebijakan investasi tidak berpihak kepada UMKM, tapi malah menggulung eksistensi mereka maka persoalan peningkatan produktivitas di sektor riil tidak akan menemukan solusi yang fundamental.  (sar)

SHARE ON
close

PENALAR

PENALAR TERPRODUKTIF

Yahya Agung Kuntadi, Ir., M.M.

Kepala Kantor UGM Kampus Jakarta, Institute of Research and Community LPPM UGM

Ujang Komarudin, Dr., M.Si.

Pengamat Politik dan Dosen Universitas Al Azhar Indonesia

Karyono Wibowo

Pengamat Politik. Peneliti di Indo Survey & Strategy. Peneliti Senior Indonesian Public Institute (IPI)

FOLLOW US

Kapan Merdeka dari KUHP Peninggalan Belanda?             Bangsa Parasit             Tinjau Kembali Politik Pangan             Semantik Munafik Lunatik Kembali Otentik              Indonesia Kehilangan Arah dan Tujuan             74 Tahun RI: Kedaulatan Sebagai Slogan Politik              Perlu Mekanisme Seleksi Khusus             Ketahanan Pangan Indonesia Masih Rapuh             Persoalan Ada Pada Tingkat Konsumsi             Kedaulatan Pangan Didukung Pola Makan dan Perilaku Konsumsi Pangan