BACK TO TOPIC
OPINI PENALAR
Pengamat Kebijakan Publik, Wartawan Senior
Disuntik, Dijual atau Ditutup

Memerangi mahalnya harga tiket dan inefisiensi manajemen dengan membentuk holding company perusahaan penerbangan milik negara, sungguh sulit dimengerti. Ini karena  keberadaan holding company justeru berpotensi menambah biaya dan keruwetan  manajemen.

Maka, sebaiknya pemerintah fokus pada penyebab kenaikan harga tiket yang telah merontokkan jumlah penumpang pesawat, yaitu utang yang sangat besar. Ini adalah akibat agresivitas dalam mengembangkan armada, yang jauh meninggalkan kemampuan finansial perusahaan. Nafsu besar tenaga kurang. Bila harga tiket pernah sangat murah, ini merupakan bagian dari strategi pemasaran.  Yakni menciptakan ketergantungan pada transportasi udara. Harapannya, ketika harga tiket naik, yang sudah terlanjur keenakan naik pesawat terbang akan enggan berpindah ke moda transportasi lain. Taktik banting harga juga diharapkan bisa membantai para pesaing,  baik sesama perusahaan penerbangan maupun yang lain.

Dalam batas tertentu,  terutama dalam mengambil alih perusahaan sejenis, berhasil dilakukan oleh Lion Air. Masalahnya,  daya beli masyarakat lebih rendah dari harga tiket pesawat tanpa subsidi. Maka tak aneh, sama dengan Garuda Indonesia yang agresif mengembangkan armada dan jalur penerbangan,  Lion merugi besar. Inilah mengapa kedua perusahaan yang mendominasi bisnis penerbangan ini belakangan giat menutup jalur tak menguntungkan.

Kini Lion bahkan mengenakan biaya untuk barang bawaan penumpang. Sejauh mana Lion dan Garuda akan bertahan,  jelas sangat tergantung pada pemiliknya. Dalam hal ini, agar pendarahan tak makin parah,  langkah pemerintah Inggris dan Jepang patut dijadikan acuan. Mereka masing masing telah melakukan privatisasi penuh British Airways dan Japan airlines. Di Malaysia, Perdana Menteri Mahathir Mohamad telah mengumumkan tiga opsi untuk Malaysia Airlines yang merugi terus dan terlilit utang sangat besar. 

Opsi tersebut adalah disuntik modal, dijual,  atau ditutup.  Langkah lebih kongkrit telah diambil oleh pemerintah India. Yaitu menjual 76 persen saham Air India. Sementara itu mantan eksekutif Thai Airways Banyong Pongpanich mengusulkan agar pemerintah menjual seluruh sahamnya di perusahaan yang terus merugi ini. Alasannya, persaingan terlalu ketat dan Thailand tak punya SDM memadai untuk mengelola perusahaan penerbangan berkelas global. 

Maka keputusan pemerintah membentuk holding company penerbangan untuk menjawab kerugian yang kian mematikan, tampaknya bakal menuai banyak keheranan di dunia penerbangan. Sedangkan Lion,  bila nanti jatuh ke pemilik baru yang lebih profesional, biar saja. Toh selama ini sudah sering membuat penumpang jengkel bukan kepalang. (pso)

SHARE ON
close

PENALAR

PILIHAN REDAKSI

PENALAR TERPRODUKTIF

Ujang Komarudin, Dr., M.Si.

Pengamat Politik dan Dosen Universitas Al Azhar Indonesia

Mohammad Faisal

Direktur Centre of Reform on Economic (CORE) Indonesia

Yahya Agung Kuntadi, Ir., M.M.

Kepala Kantor UGM Kampus Jakarta, Institute of Research and Community LPPM UGM

FOLLOW US

Insentif Pajak, Daya Tarik Sistem Pajak yang Paling Rasional             Menengok dan Menyiapkan SDM di Era Revolusi Industri 4.0             Polri Telah Berupaya Transparan Ungkap Rusuh 21-22 Mei             Possible and Impossible Tetap Ada             Ungkap Rusuh 21-22 Mei Secara Terang dan Adil             Banyak Masalah yang Harus Diselesaikan             Pilihan Cerdas Jadi Oposisi             Tergilas oleh Budaya Global             Penghambaan terhadap Simbol Dunia Barat             Tak Cukup Imbauan