BACK TO TOPIC
OPINI PENALAR
Wakil Ketua DPW Kombatan Bali, Dosen Universitas Mahendradata Bali
Dildo Simbol Paradok Ketidakpuasan Nitizen atas Perang Urat Saraf di Medsos

Pemilu presiden (pilpres) kali ini situasinya agak berbeda dengan pilpres sebelumnya. Tedensi komflik relatif tinggi para elite secara terbuka saling serang meskipun dalam tataran medsos cukup memancing opini rakyat untuk berkomplik pula. Saling mengkritik program kerja boleh boleh saja asal punya alasan yang tepat dan diterima  akal sehat. Kita lihat secara vulgar kritik yang disampaikan oleh para intelektual, elite politik maupun ulama terhadap Capres atau cawapres bukan pada tataran akal sehat tetapi emosional, sehingga kajian ngawur dan statement meleset. Banyak berita hoak diviralkan sehingga situasi semakin gaduh antara para pedukung masing masing.

Secara umum masyarakat merasa jenuh dengan suguhan perang urat saraf situasi para pendukung atau tim masing masing. Suguhan perang di  medsos apatisme nitizen   meningkat,  pada saat seperti ini ketika ada isu maupun kasus lain (diluar politik) viral maka situasi politik cepat sirna. Misalnya kasus prostituti kalangan artis papan atas cukup viral dan ramai disimak para nitizen hampir mayoritas berkomentar pro maupun kontra, buat dagelan dan lain sebagainya, begitupun munculnya pasangan calon capres cawapres Dildo cukup membangun daya tarik nitizen dengan me like status maupun intragram dengan jumlah yang mencengangkan.

Pasangan calon ilegal Dildo karena muncul karena tidak mengikuti presedure aturan maupun tahapan pemilu yang ditetapkan KPU. Jadi kemunculan pasangan Dildo dipandang sebagai dagelan yang justru  mendapat respon like model  medsos. Memang kalau dihitung jumlah suara (like) dalam hitungan serius ini angka raihan suara spektakuler dalam waktu singkat.

Simpati nitizen kepada pasangan Dildo bagian dari sikap paradok nitizen atas perang urat saraf pendukung capres cawapres sungguhan. Capres cawapres model Dildo ini menjadi pelajaran bagi para elit politik, Tim pemenangan bahwa sikap ,prilaku maupun stetemen yang dikeluarkan tidak mendidik dan menimbulkan sikap apatis, bagaimana kelompok kelompok nyeleneh, vulgar, nyinyir diberikan memimpin Negara apa tambah runyam kelak, sehingga ada tedensi kemerosotan kepercayaan (krisis kepeminpinan). Dalam situasi komplik tinggi mendingan memilih Dildo  dibanding memilih kelompok kelompok berkomflik meskipun  itu hanya sebuah dagelan tetapi cukup menggelitik dan menjadi pelajaran bahwa demokrasi mestinya ditampilkan dengan baik, elegant, saling menghargai, dan berkomitment untuk membangun negara dan pemerintahan kearah kemajuan. Sejatinya  pasangan calon capres dan cawapres adalah putra putra pilihan karena melalui proses  cukup panjang, dan dukungan serius dari para pendukungnya untuk jadi pemenang. (cmk)

SHARE ON
close

PENALAR

PENALAR TERPRODUKTIF

Ujang Komarudin, Dr., M.Si.

Pengamat Politik dan Dosen Universitas Al Azhar Indonesia

Nailul Huda

Peneliti INDEF

FOLLOW US

Perempuan yang Terlibat dalam Terorisme Merupakan Korban             Kelompok Radikal Di Indonesia Telah Bertransformasi             Anggaran Apel Kebangsaan Kurang Proporsional             Apel Kebangsaan: Mestinya Undang Tokoh dari Dua Kubu             Utang Luar Negeri dan Cadangan Devisa             Pengelolaan Utang: Apakah Efektif dan Efisien?             Korupsi Politik Makin Menjadi-jadi             Awal Reformasi, PPP Gigih Dukung Pembentukan UU KPK             Kinerja Memang Naik,Tapi Bukan Akselerasi             Harus Menunggu Laporan Keuangan Resmi BUMN