BACK TO TOPIC
OPINI PENALAR
Pengamat Kebijakan Publik, Wartawan Senior
Dildo Memang Golput

Demokrasi sudah dikangkangi kaum intolerans. Mereka telah menutup hampir semua ruang toleransi dengan mengumbar kabar bohong,  fitnah, dan caci-maki. Tak ada lagi pertemanan apalagi persaudaraan. Kaum ini menganggap junjungan politiknya seperti wakil Tuhan di bumi, yang tak boleh dikritik karena sakral.

Maka jangan heran kalau Dildo punya banyak penggemar. Ini karena makin banyak orang muak dengan perilaku para politisi dan pendukungnya yang makin kurang ajar. Makin dekat pilpres, makin kurang ajar pula mereka. Mereka tidak malu mengaku sebagai korban sambil menebar kebencian kepada siapa saja yang memiliki pilihan politik berbeda.

Semua itu membuktikan bahwa bangsa Indonesia secara peradaban masih sangat rendah. Masih sulit membedakan yang baik dari yang buruk,  yang terhormat dan hina. Segala kemajuan yang dicapai,  baik secara ekonomi maupun sosial,  seolah tak berdampak pada mentalitas  barbar yang membuat Indonesia tak pernah sepi jauh dari kerusuhan dan kemiskinan.

Ironisnya, di tengah panasnya situasi politik, kaum terdidik tak bisa diandalkan sebagai panutan. Mereka bahkan berada di garis terdepan dalam soal penebaran kebencian. Mereka bahkan suka memanipulasi data dan memutarbalikkan fakta demi kepentingan kelompoknya sendiri.

Sampai kapan gejala ini akan berakhir,  terlalu pagi untuk meramalkannya. Dilihat dari perilaku para politisi dan pendukungnya,  tampaknya Indonesia masih akan didera oleh kekurangajaran lebih sadis yang membuat rakyatnya makin terbelah. Indonesia seolah sedang menunggu waktu untuk menjadi mantan.

Lihat saja, Indonesia kini seolah cuma jadi alat jualan politik untuk memenangi pilpres dan pileg. Sudah pula terbukti di berbagai Pilkada, serangan politik beraroma SARA berlanjut meski pemenangnya telah terpilih secara demokratis.

Maka,  tak ada yang aneh bila kaum golput menyalurkan aspirasi politik kewat Dildo. Maju terus Dildo! (cmk)

SHARE ON
close

PENALAR

PENALAR TERPRODUKTIF

Ujang Komarudin, Dr., M.Si.

Pengamat Politik dan Dosen Universitas Al Azhar Indonesia

Zaman Zaini, Dr., M.Si.

Dosen pascasarjana Institut STIAMI, Direktur Sosial Ilmu Politik CPPS (Center for Public Policy Studies), Staf Khusus Bupati MURATARA Sumsel

YB. Suhartoko, Dr., SE., ME

Dosen Program Studi Ekonomi Pembangunan, Keuangan dan Perbankan Unika Atma Jaya Jakarta

FOLLOW US

Pemerintah Daerah Harus Berada di Garda Terdepan             Tegakkan Aturan Jarak Pendirian Ritel Modern dengan Usaha Kecil Rakyat             Konsep Sudah Benar, Implementasinya Gagal             Tugas Terbesar Negara, Mencerdaskan Bangsa!             Indonesia Butuh Terobosan-terobosan Progresif Bidang SDM             Penekanan pada Memobilisasi Kapasitas Modal Manusia Lokal Secara Otentik             Meritokrasi vs Kabilisme             Kendalikan Harga Pangan untuk Menekan Inflasi             Utang Semakin Besar, Kemampuan Membiayai Pembangunan Berkurang             Perhatikan Belanja Non K/L yang Semakin Membesar