BACK TO TOPIC
OPINI PENALAR
Akademisi Universitas Muhammadiyah Jakarta
Digital Literasi, Prasyarat Ekonomi Digital (Bagian-2)

Dampak turunannya adalah terjadi “sandera sempurna” dari kompetesi pasar (yang seharusnya) terbuka malah menjadi pertarungan “pasar bebas” yang pastinya akan dimenangkan para pemain besar perusahaan multi-national dengan produk dan brand yang selama ini sudah mengglobal.

Ekonomi Digital mempersyaratkan sejumlah kondisi dan situasi yang mendukung aplikasi e-commers dan bisnis daring. Pertama, perlu infrastruktur akses internet yang meluas dan merata di seluruh Indonesia. Praktik ekonomi digital memerlukan ketersediaan akses yang merata dan luas terhadap internet. Data dari Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII) tahun 2017 menunjukkan jumlah pengguna internet pada 2017 mencapai 54,68 persen dari total populasi Indonesia yang mencapai 262 juta jiwa. Pengguna internet di wilayah Jawa sebesar 58,08 persen dan Sumatera sebesar 19,09 persen. Jadi, sebaran pengguna internet masih belum merata sehingga perlu perluasan dan pemerataan akses masyarakat terhadap internet. Karena tanpa akses internet yang meluas dan merata maka semua upaya yang dilakukan hanya sebatas wacana.

Kedua, perlunya penguatan pemahaman yang memadai tentang dunia digital melalui Gerakan Literasi Digital (GLD) kepada seluruh masyarakat dan khususnya kepada para pelaku UMKM. Program sosialisasi dan pelatihan tentang diigital secara intensif dilakukan melalui kegiatan pendidikan luar sekolah atau pendidikan berbasis masyarakat melalui lembaga pendidikan non formal yang sudah ada di masyarakat seperti Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat, Sanggar Kegiatan Belajar, dan Lembaga Kursus dan Pelatihan serta lembaga lainnya.

Masyarakat perlu diberi pemahaman yang benar tentang dunia digital baik perangkat keras (gadget) dan berbagai aplikasinya, terlebih lagi tentang literasi keuangan digital (finance digital literacy) karena semua kegiatan e-commerce dan bisnis daring selalu menggunakan traksaksi digital. Tanpa gerakan literasi digital dan literasi keuangan digital maka praktik ekonomi digital tidak mampu meningkatkan kesejahteraan masyarakat, pelaku UMKM, dan konsumen produk-produk dari perdagangan digital.

Dengan demikian, ekonomi digital merupakan instrumen strategis dan penting untuk mempercepat sekaligus meningkatkan perekonomian Indonesia. Data BPS menunjukkan, pada 2017 kontribusi pasar digital terhadap PDB Indonesia meningkat 4 persen dibandingkan tahun 2016 sebesar 3,61 persen, dan pada 2018 diperkirakan mencapai 10 persen bahkan diperkirakan mampu mencapai 18 persen setiap tahunnya.  

Setiap 1 persen peningkatan penetrasi mobile diproyeksikan menyumbang tambahan 640 juta dolar AS kepada PDB Indonesia serta membuka 10.700 lapangan kerja baru. Prospek ekonomi digital sangat memungkinkan mengangkat Indonesia pada posisi 5 besar perekonomian dunia di tahun 2030 dengan didukung oleh bonus demografi yang dimiliki dan sumberdaya alam yang menjadi lumbung pangan dan produk makanan bagi Dunia. (pso)

 

SHARE ON
close

PENALAR

PENALAR TERPRODUKTIF

Abdillah Ahsan, Dr., S.E, M.S.E.

Dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas indonesia, Peneliti Lembaga Demografi FEB UI