BACK TO TOPIC
OPINI PENALAR
Akademisi Universitas Muhammadiyah Jakarta
Digital Literasi, Prasyarat Ekonomi Digital (Bagian-1)

Fenomena praktik ekonomi digital sangat luar biasa perkembangannya. Lompatan quantum benar-benar terjadi kepada pelaku usaha ekonomi digital. Hal yang tidak dapat dibayangkan bahwa perusahaan e-commerce di bidang transportasi online (daring) menjadi sponsor utama Liga Sepakbola terbesar di Indonesia yang sebelumnya hanya bisa dilakukan oleh perusahaan rokok. Sebuah pencapaian imposible jika menggunakan praktik ekonomi konvensional. Apalagi para pendiri dan pemilik perusahaan e-commerce tersebut adalah anak-anak muda yang merupakan “pemain baru” dan bukan dari keluarga pengusaha pewaris konglomerasi.

Perkembangan ekonomi digital ini kiranya akan terus memunculkan keajaiban dan menyimpan kejutan berikutnya dalam dunia bisnis dan perekonomian Indonesia yang terus tumbuh dan meningkat. Sehingga, proyeksi Pricewaterhouse Coopers (PwC) sebagai konsultan keuangan yang memiliki reputasi baik, perlu menjadi motivasi kita karena menempatkan perekonomian Indonesia pada urutan 5 besar pada tahun 2030. Indonesia memang perlu “mengajaibkan diri” dalam praktik perekonomian dunia jika tidak mau hanya jadi pengekor. Roadmap tentang industri berbasis 4.0 dengan dukungan fasilitas bagi para pelaku usaha “startup” di Indonesia, yang rata-rata anak-anak muda.

Kekuatan fundamental ekonomi riil Indonesia dengan sumber daya alam melimpah sangat memungkinkan mencapai negara makmur dan maju. Memang, jika menggunakan logika ekonomi konvensional yang bersifat linear, rasanya sulit mencapai lompatan quantum dalam bidang ekonomi. Praktik ekonomi konvensional sudah banyak diselimuti praktik usaha dan perekonomian neo-kapitalis yang sulit mengalami pertumbuhan ekonomi yang diharapkan di angka 6 persen atau lebih. Sebab, ekonomi Indonesia sudah dikuasai kartel dan konglomerasi tertentu yang pemainnya relatif itu-itu saja dan dari etnis tertentu.

Situasi dan kondisi perekonomian ini sulit memberi kesempatan bagi pelaku usaha kecil dan menengah untuk naik kelas. Ekonomi Digital diharapkan memberi peluang tidak saja untuk munculnya pelaku-pelaku usaha baru di kalangan generasi muda, tetapi mampu menciptakan demokratisasi ekonomi yang memangkas jalur tata niaga para tengkulak dan para “investor semu” yang malah “mengunci” jaringan usaha kecil menengah dan koperasi agar tidak berkembang. Sejatinya, banyak bahan baku dan produk-produk lokal yang bila disentuh dengan ekonomi digital dan didukung oleh industri kreatif tidak mustahil melahirkan berbagai produk unik berbasis kearifan lokal yang tidak hanya akan laku di pasar lokal tetapi di pasar global.

Dengan ekonomi digital, pasar menjadi semakin terbuka dan bisa diakses oleh setiap pelaku usaha khususnya bagi Para pelaku Usaha Mikro, Kecil, Menengah dan Koperasi (UMKM dan Koperasi). Dengan berbagai aplikasi e-commerce dan bisnis daring membuat jarak antara konsumen dan produsen lebih dekat sehingga bisa memangkas jaringan panjang distribusi dan keagenan produk yang selama ini dikendalikan pengusaha besar bahkan praktik kartel.

Melalui ekonomi konvensional banyak produk UMKM yang selama ini “tersandera” oleh agen dan para tengkulak sebagai wakil konglomerat dan kartel tertentu. Sebagus dan seunik apapun produk yang dibuat tidak akan masuk ke pasar, karena pasar selama ini tertutup bagi produk UMKM meskipun konsumen membutuhkan produk tersebut. Di sinilah peran strategis ekonomi digital melalui instrumen usaha dalam bentuk e-commerce dan bisnis daring agar mampu menjaring para pelaku UMKM membuka pasar sekaligus sebagai mitra bisnis yang saling bersinergi dan saling menguatkan. E-commerce juga mampu memotong rantai pasok (supply chain) dari produk buatan lokal yang sangat potensial menjadi produk unggulan nasional di kancah global.

Komitmen pelaku ekonomi digital untuk bersinergi dengan UMKM harus dikawal oleh regulasi dan peraturan tataniaga tepat. Tanpa komitmen tersebut, pasar terbuka Indonesia tidak bisa dinikmati dan tidak bisa diakses oleh ribuan dan jutaan pelaku usaha lokal yang notabene memproduksi produk-produk skala UMKM. Jika tidak, maka pelaku e-commerce dan bisnis daring hanya akan menjadi “cukong” para pelaku usaha multi-nasional yang siap meraup pasar menggiurkan di negara berpenduduk ke-4 terbesar di dunia. (pso)

SHARE ON
close

PENALAR

PENALAR TERPRODUKTIF

Abdillah Ahsan, Dr., S.E, M.S.E.

Dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas indonesia, Peneliti Lembaga Demografi FEB UI