BACK TO TOPIC
OPINI PENALAR
Guru Besar, Spesialis Bisnis Internasional, Ahli dalam Bisnis, Pemasaran, Pendidikan, Organisasi dan Manajemen
Dicari, Leadership Tegas dalam Pengawasan

Perizinan di negeri ini umumnya lengkap oleh karena dinas yang mengeluarkannya akan rajin mengejar perusahaan yang belum memiliki izin. Jadi dipastikan ada izinnya. Cuma indahnya, izin tinggal izin yang terus disimpan dalam laci tanpa ditoleh siapapun. Dinas tidak mau melakukan sidak lapangan untuk verifikasi bahwa di lapangan semua berjalan mengikuti apa yang disebut di dalam izin yang harganya pasti mahal namun disia-siakan sebagai 'doode letter', mirip izin aspal.

Pengusaha? Oh..pengusaha siap-siap melanggarnya. Makanya ada laporan pekerja di bawah umur di pabrik penghasil bencana di Kosambi. Pertanda pelanggaran izin oleh dinas yang tak pernah sidak bersama pengusaha yang mengejar laba model kapitalisme awal revolusi industri di Inggris, yang bisa disimak dari buku tenar Oliver Twist karya penulis besar Charles Dickens. Jika dibilang aparat kecolongan, ya tidak juga ya. Kecolongan terjadi jika sudah sangat berhati-hati namun bencana tetap terjadi juga.

Jangan bergembira menyatakan memperketat peraturan perundangan ketika semua akhirnya menjadi 'doode letter' belaka alias tidak bunyi dan tanpa wibawa. Selama sumber keuangan didahulukan ketimbang sidak lapangan yang tegas, peraturan lalu mati suri. Doode letter itulah.

Situasi perburuhan di Amerika dan Eropa juga tidak seindah warna-warni cerah. Sering terjadi perbenturan ganas pula. Nah, tidak perlu jauh berjalan. Kita menengok sejenak ke zaman Soeharto pun terasa saat itu terjadi gejolak perburuhan yang ganas. Kecuali Marsinah, rasanya cukup kondusif. Mungkin Menakernya hebat, misalnya Laksamana Sudomo, Jenderal Polisi Prof Awaludin Djamin. Kita belajar saja dari menaker masa lalu itu.

Zaman upah buruh murah sebenarnya salah kaprah. Murah namun tidak produktif juga menjadi mahal akhirnya. Lagipula dengan UMR yang selalu mesti naik hanya terdengar seperti lelucon. Upah/gaji hanya naik lewat kinerja/prestasi yang dihasilkan melalui karya yang bersangkutan. Kecuali yang namanya Cost of living allowance (COL) yang disesuaikan dengan tingkat inflasi. UMR tidak mengenal kinerja atau prestasi sebab UMR wajib naik walau tanpa prestasi. (pso)

SHARE ON
close

PENALAR

PENALAR TERPRODUKTIF

Christianto Wibisono

Analis Bisnis/ Pendiri Pusat Data Bisnis Indonesia (PDBI)

Didin S. Damanhuri, Prof., Dr., SE., MS., DEA

Guru Besar Fakultas Ekonomi dan Manajemen (FEM) IPB

Riza Annisa Pujarama

Peneliti Institute for Development of Economics and Finance (INDEF)

FOLLOW US

Presiden sedang Menggali Kuburnya Sendiri             Duet Tango DPR & KPK             Utamakan Tafsir Moral ketimbang Tafsir Hukum dan Ekonomi             Langkah Menkeu Sudah Benar dan Fokuskan pada SKM 1             Industri Rokok Harus Tumbuh atau Dibiarkan Melandai             Perizinan Teknis Masih Kewenangan Daerah             Kiat Khusus Pangkas Birokrasi Perizinan di Indonesia             Politik Etika vs Politik Ekstasi              Kebutuhan Utama : Perbaiki Partai Politik             Pengaruh High Class Economy dalam Demokrasi di Indonesia (Bagian-1)