BACK TO TOPIC
OPINI PENALAR
Sekretaris Dewan Pakar PA GMNI
Diawali dengan Membangun Petani Sejahtera

Pancasila sebagai Landasan negara adalah tata nilai/filosofi bangsa. Pancasila sebagai ‘the way of life’ adalah sistem tata kelola bernegara menuju masyarakat sejahtera.   

Yang selama ini tidak pernah dikupas, Bung Karno sebagai penggalinya tidak terlalu perduli pada redaksi dan urut-urutannya malah yang lebih penting adalah tata nilainya yaitu ‘Gotong Royong’. Bung Karno yang paling paham tentang Pancasila menyampaikan bahwa sebagai ‘the way of life’ landasan negara perlu disertai landasan ideologi yaitu Marhaenisme, dan inipun masih perlu landasan struktural yaitu Undang-Undang Dasar 45 (UUD 45), berikut landasan operasional yaitu Undang-Undang yang tidak boleh bertentangan dengan UUD 45.

Namun semua yang dibuat harus tahu tujuannya yaitu “Sosialisme Indonesia”, yang aplikasinya harus dengan landasan strategis ‘Trisakti’ dimana berdaulat secara politik itu meliputi Pertama, Demokrasi yang berkedaulatan rakyat, Kedua, pembenahan sistim bernegara/berpemerintahan. Ketiga, Supremasi hukum dan HAM.                         

Berdikari dalam bidang ekonomi meliputi Pertama, Perubahan sistem ekonomi konglomerasi yang lebih jahat dari high capitalism dengan multiplier ec.system dengan membentuk undang-undang anti trust. Kedua, redefinisi fungsi dan makna pelaku-pelaku ekonomi baik itu koperasi, BUMN maupun swasta.       

Dalam bidang budaya yang berkepribadian, Pertama, mengapresiasi kearifan lokal sebagai pengejawantahan kebhinekaan dan mengembangkan budaya debat dan kritik yang argumentatif sebagai penjabaran budaya intelektual dalam alam demokrasi. Kedua, membangun budaya Indonesia berbasis culture dan nature yaitu budaya tani (darat/laut), ulet dan cinta yang harus ditransformasikan pada kehidupan sehari-hari.   

Fokus pada sistem ekonomi berdikari dalam pengertian melepas ketergantungan tapi tidak menolak modal asing selama itu untuk produksi dengan mengarah kepada sebanyak mungkin individu bangsa jadi pelaku ekonomi, dan harus berbasis culture dan nature serta budaya tani (cinta dan ulet terhadap pekerjaannya). Maka untuk lepas dari keterpurukan ekonomi hanya bisa dengan menjadikan Indonesia tujuan wisata dunia dan gudang pangan dunia dimana pelaku ekonominya adalah koperasi. Untuk gudang pangan dunia dan tujuan wisata dunia bisa oleh 3 pelaku ekonomi.                       

Sedang fungsi BUMN adalah buffer system dan mencegah fluktuasi harga serta menguasai yang ada dalam bumi untuk hajat hidup orang banyak dari generasi ke generasi. Diluar itu swasta bisa berperan bila sudah mampu.    

Inilah implementasi ekonomi Pancasila dengan tujuan sosialisme Indonesia diawali membangun petani sejahtera, didukung penuh negara baik lahan, permodalan dan perizinan. Harus ada privilege/proteksi sebagaimana dilakukan negara-negara lain etc. Amerika dan Eropa.    

Intinya Sistim Ekonomi Pancasila (SEP) hanya relevan dan mampu mensejahterakan rakyat bila penyelenggara negara memahami dan mengimplementasikan SEP dalam bentuk Undang-Undang, peraturan dan perilaku kehidupan pada semua sektor dan lini.

Dengan demikian barulah Pancasila menjadi bintang penuntun namun pencerahan sistem Pancasila kepada masyarakat tidak boleh pukul rata, harus dengan konsep ‘levelling’ Pancasila sesuai tingkat kehidupan masyarakat itu sendiri. Semoga. (pso)

SHARE ON
close

PENALAR

PENALAR TERPRODUKTIF

Abdillah Ahsan, Dr., S.E, M.S.E.

Dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas indonesia, Peneliti Lembaga Demografi FEB UI