BACK TO TOPIC
OPINI PENALAR
Ekonom Universitas Indonesia, Kepala Riset/ Ekonom Samuel Aset Manajemen
Di Tingkat Emiten Kinerja Masih Cukup Bagus

Awalnya saya punya perkiraan pertumbuhan ekonomi pada triwulan II/2018 itu sebesar 5,21 persen, tapi kemudian saya revisi menjadi 5,16 persen. Itu karena saya tidak punya data investasi yang belum keluar pada waktu itu. Walaupun saya juga menduga ada perlambatan karena efek pilkada. Pilkada itu membuat semua aktivitas di kegiatan pemerintahan daerah melambat sehingga pencapaian juga akan berpengaruh.

Jadi karena saya tidak punya data investasi dan  saya juga melihat ada defisit di neraca perdagangan yang cukup besar, maka perkiraan pertumbuhan ekonomi triwulan II/2018 saya revisi menjadi 5,16 persen. Tapi ternyata memang masih bisa di 5,2 persen, karena sebetulnya 5,2 persen itu bisa tembus kalau konsumsi rumah tangga  di atas 5 persen. Ternyata kemudian komsumsi rumah tangga justru di angka 5,14 persen sedang prediksinya saya hanya 5,02 persen. 

Jadi itu terbantu oleh adanya THR dan lebaran. Jelas, itu adalah momentum terbaik ekonomi kita pada saat adanya bulan puasa dan lebaran.

Pemerintah mempunyai kebijakan menaikan THR. Jumlah THR yang diterima juga meningkat, yang mendapat THR juga lebih banyak, pensiunan yang tadinya tidak dapat, tahun ini bisa dapat. Lalu ada gaji ke 13 juga yang diberikan pada awal Juli. Jadi mereka yang PNS, merasa bahwa toh nanti ada gaji ke 13, jadi urusan anak sekolah di gaji ke 13. THR bisa untuk beli barang-barang konsumsi. Kami juga cek dengan data emiten, karena kami ada di pasar modal, kami cek apakah data emiten itu bagus di bulan Juni, ternyata bagus semua laporan keuangannya. Ini kita bicara di sisi konsumsi. Bahwa kemudian konsumsi itu impor, itu masalah lain, tetapi konsumsi memang kuat, terlihat dari data emiten, penjualan dari semua emiten naik.

Kalau dari sisi manufaktur mungkin memang ada perlambatan, tapi kalau dilihat dari sumber pertumbuhan, manufaktur tetap yang paling utama. Kalau diperhatikan data pertumbuhan dari sisi produksi, sumber pertumbuhan tertinggi masih di sektor industri  pengolahan. Kemudian dia melambat dan sektor lain juga meningkat kontribusinya. Bukan impor tapi misalkan dari sektor jasa itu ada peningkatan. sektor lain seperti liburan yang ber efek pada transportasi juga meningkat. 

Tapi kalau bicara sektor manufaktur sendiri yang dari waktu ke waktu terus melambat, ini banyak faktor. Bisa juga karena impor, bisa juga di sisi operasionalnya ada peningkatan karena efek dari biaya-biaya produksi yang naik. Tapi kalau dilihat di tingkat emiten kinerjanya masih bagus, profit-nya meningkat.

Saya agak kurang percaya data makro. Kalau data mikro kita lihat jika emitennya turun kita bawa, kalau makro nya masih bagus. Kalau mikronya turun maka sesaat kemudian makro-nya pun turun, mungkin ada timeleg saja.

Menurut saya tidak ada itu efek dari event Asian Games. Beberapa orang merasa yakin bahwa itu berpengaruh tapi kalau menurut saya tidak. 

Beberapa pihak bilang bahwa spending media naik. Mungkin saja spending media naik tapi apakah itu membuat konsumsi rumah tangga naik, saya kira tidak. 

Secara siklus, triwulan tertinggi adalah triwulan yang ada puasa dan lebaran. Sehingga saya selalu membuat candaan agar setiap triwulan ada lebarannya. Ketika lebaran itu memang demand nya tinggi. Kuartal III dan IV pasti melambat. Apalagi kuartal IV pasti minus, itu merupakan siklus yang sudah berpuluh tahun begitu.

Sekarang sebaiknya di fokuskan kepada perbaikan kembali di Industri atau mempertahankan momentum ini.
Mempertahankan momentum ini jelas tidak bisa karena memang tidak bisa karena kuartal yang ada puasa lebaran memang temporer. Yang bisa adalah jangan sampai melambatnya lebih jelek dari tahun 2017. Sama-sama melambat tapi melambatnya tidak sejelek tahun 2017. 

Saya kira lewat government spending bisa. Pengeluaran pemerintah ini biasanya di kuartal III dan IV di kejar untuk mengejar realisasi anggaran, harapannya disitu. Konsumsi rumah tangga memang melambat, harapannya konsumsi pemerintah meningkat. Syukur bisa mengejar 100 persen di tahun ini. (pso)

SHARE ON
close

TOPIK TERPOPULER

PENALAR

PENALAR TERPRODUKTIF

Lana Soelistianingsih, Dr., S.E., M.A.

Ekonom Universitas Indonesia, Kepala Riset/ Ekonom Samuel Aset Manajemen

Mohammad Faisal

Direktur Centre of Reform on Economic (CORE) Indonesia

Ahmad Heri Firdaus

Peneliti Institute for Development of Economics and Finance (INDEF)

FOLLOW US

Perkuat Investasi, Industri dan Ikatan Kewilayahan di ASEAN             Perubahan Nomenklatur Tak Efektif dalam Jangka Pendek             Ketergantungan pada Komoditas Dikurangi, Perbanyak Industri Olahan Berbasis Komoditas             Setia Ekspor Komoditas Alam, atau Diversifikasi Ekspor?             Perlu, Optimalisasi Non Tariff Measure (NTM)             Kebijakan NTM akan Bermanfaat, Selama Tidak Berlebihan.             Sesuaikan pilihan jenis NTM dengan karakteristik produk impor             Kebijakan Mandek Terganjal Implementasi, Koordinasi, Eksekusi               Pemerintah Sibuk Urusi Poliitk             Tinjau Kembali Struktur Industri Nasional