BACK TO TOPIC
OPINI PENALAR
Kepala Humas dan Hubungan Eksternal Universitas Malikussaleh Lhokseumawe
Demokrasi Tanpa Jiwa Demokrat

Sebenarnya banyak pihak yang menduga bahwa kontestasi Pilpres 2019 akan melahirkan masalah yang bersambung pasca-pencoblosan.

Masalah sudah dimulai ketika Prabowo dan Badan Pemenangan Nasional (BPN) menolak lembaga survei yang menyatakan pasangan Prabowo-Sandi kalah berdasarkan hasil quick count dengan margin hingga 10-11 persen. Sikap Prabowo yang mengklaim kemenangan di tengah pengumuman kekalahannya hasil quick count dalah parodi politik yang tidak lucu.

Hal itu kembali diulang beberapa kali, termasuk ketika hasil hitung manual juga menunjukkan kemenangan pasangan Jokowi-Ma'ruf. Jelas sikap seperti ini menjadi contoh buruk dalam sejarah demokrasi bangsa.

Banyak pihak melihat bahwa Prabowo pasti tidak pernah legowo dengan kekalahan keduanya ketika bersaing dengan Jokowi. Jika melihat dari jejak rekam politiknya, ia akan kembali melakukan tindakan  tidak fair. Masih teringat bagaimana ia melakukan sikap pembangkangan dan tidak respek kepada BJ Habibie yang telah memecatnya dari Pangkostrad. Bahkan saat itu ada rencana ia melakukan kudeta atas sikap BJ Habibie itu. Sikap itu juga pernah akan dilakukan ketika menjabat sebagai kapten yang ingin melakukan sikap indisipliner melawan panglima TNI saat itu, LB Murdani.

Dengan jejak rekam seperti itu terlihat bahwa Prabowo sesungguhnya kurang memiliki sikap kenegarawanan. Padahal bagi politikus senior, seharusnya seluruh upaya politik harus semakin mendewasakan tujuan politik, baik saat menang dalam kontestasi politik atau kalah. Bahkan kontestasi politik hanya instrumen untuk pengabdian bagi bangsa, dan bukan untuk tujuan pragmatis atau oportunis.

Saat ini kita melihat bahwa kualitas demokrasi, terutama pada kelompok oposisi masih belum matang. Kualitas oposisi yang keras kepala bahkan rela mengorbankan integritas bangsa adalah contoh elite bermental pecundang. 

Kita rindu sosok seperti Al Gore, meskipun kalah dalam persaingan presiden, yang bahkan ditengarai curang, rela memberikan selamat kepada rivalnya, George W. Bush. Ia kemudian hari mendapatkan hadiah nobel atas pembelaannya pada isu global seperti pemanasan global, deforestasi, dan proyek senjata pemusnah massal.

Kini yang diperlukan bangsa ini adalah masyarakat terdidik yang bisa menenangkan publik yang galau pasca pilpres. Jika elite masih gila kuasa dan delusif, kelas menengah terdidik harus mengambil alih peran elite yang alpa itu untuk menyelamatkan bangsa dan memperbaiki kualitas demokrasi. (mry)

SHARE ON
close

TOPIK TERPOPULER

Massa Ke MK, Untuk Apa?

0 OPINI | 13 June 2019

Bangsa Xenophobia

13 June 2019

Bahasa Daerah, Merana Nasibmu

2 OPINI | 14 June 2019

PENALAR

PILIHAN REDAKSI

PENALAR TERPRODUKTIF

Ujang Komarudin, Dr., M.Si.

Pengamat Politik dan Dosen Universitas Al Azhar Indonesia

Mohammad Faisal

Direktur Centre of Reform on Economic (CORE) Indonesia

Yahya Agung Kuntadi, Ir., M.M.

Kepala Kantor UGM Kampus Jakarta, Institute of Research and Community LPPM UGM

FOLLOW US

Insentif Pajak, Daya Tarik Sistem Pajak yang Paling Rasional             Menengok dan Menyiapkan SDM di Era Revolusi Industri 4.0             Polri Telah Berupaya Transparan Ungkap Rusuh 21-22 Mei             Possible and Impossible Tetap Ada             Ungkap Rusuh 21-22 Mei Secara Terang dan Adil             Banyak Masalah yang Harus Diselesaikan             Pilihan Cerdas Jadi Oposisi             Tergilas oleh Budaya Global             Penghambaan terhadap Simbol Dunia Barat             Tak Cukup Imbauan