BACK TO TOPIC
OPINI PENALAR
Advokat, Pengajar Fakultas Hukum Universitas Trisakti
Demokrasi Liberal Membuka Ruang Norma Liberalis

Setiap rezim pemerintahan pasti membutuhkan biaya-biaya di luar yang ditanggung oleh negara, pada ruang inilah para pengusaha hadir dan ini bukan sesuatu yang haram.

Tidak semua pengusaha yang sekarang disebut sponsor itu punya niat sama untuk membangun bangsa. Dasaad sebuah contoh baik sponsor yang memang punya cita-cita membangun bangsa. Saya tidak melihat grup usaha Dasaad masih eksis pada saat ini (saya tidak tahu mungkin sudah berganti nama). Tapi ini indikator bahwa sang sponsor tidak punya kepentingan pribadi ketika mendudukkan dirinya sebagai sponsor. Inilah pengusaha negarawan.

Persoalannya sekarang adalah setting politik pada saat ini yang begitu liberal, sehingga hidupnya norma-norma ikutan dari liberalitas ini menjadi subur. Misalnya pola komunikasi menjadi transaksional, prinsip "no free lunch" (tidak ada makan siang gratis) menjadi suatu norma pergaulan yang permissif. Begitulah kira kira latar belakang para "pengusaha now" dengan segala agendanya untuk meraup pendapatan yang maksimal (keuntungan yang sebesar besarnya) dari setiap langkah politiknya.

Menyikapi situasi ini, dibutuhkan calon-calon kepala daerah yang berkarakter, sehingga semua kegiatan proyeknya diarahkan pada pembangunan kesejahteraan masyarakat, sehingga keuntungan yang diperoleh para sponsor cukup wajar dan tidak memperkaya sang kepala daerah sendiri.

Melaksanakan visi misi memang butuh "gizi", tetapi "gizi" bukan menjadi tujuan utama para kepala daerah. Sayangnya sistem pemerintahan pada saat ini lebih banyak melahirkan politisi pemburu materi ketimbang melahirkan negarawan yang selalu punya cita-cita membangun bangsanya. Tugas kita semua mengubah keadaan ini. Wallahualamu bisawab. (ast)

SHARE ON
close

PENALAR

PENALAR TERPRODUKTIF

Lana Soelistianingsih, Dr., S.E., M.A.

Ekonom Universitas Indonesia, Kepala Riset/ Ekonom Samuel Aset Manajemen

Mohammad Faisal

Direktur Centre of Reform on Economic (CORE) Indonesia

Ahmad Heri Firdaus

Peneliti Institute for Development of Economics and Finance (INDEF)

FOLLOW US

Perkuat Investasi, Industri dan Ikatan Kewilayahan di ASEAN             Perubahan Nomenklatur Tak Efektif dalam Jangka Pendek             Ketergantungan pada Komoditas Dikurangi, Perbanyak Industri Olahan Berbasis Komoditas             Setia Ekspor Komoditas Alam, atau Diversifikasi Ekspor?             Perlu, Optimalisasi Non Tariff Measure (NTM)             Kebijakan NTM akan Bermanfaat, Selama Tidak Berlebihan.             Sesuaikan pilihan jenis NTM dengan karakteristik produk impor             Kebijakan Mandek Terganjal Implementasi, Koordinasi, Eksekusi               Pemerintah Sibuk Urusi Poliitk             Tinjau Kembali Struktur Industri Nasional