BACK TO TOPIC
OPINI PENALAR
Direktur Eksekutif Lingkar Madani
Debat Berbahasa Inggris, Ide abal-abal

Saya tak habis pikir ada tim pasangan calon mengusulkan sesuatu yang sama sekali tidak urgent bagi pelaksanaan pilpres kita. Saya juga tidak melihat ada manfaat penting atau sekedar perlu bagi pilpres kita. Alih-alih perlu, usulan debat menggunakan bahasa Inggris itu memperlihatkan kalau sang pengusul, jika itu muncul dari tim pasangan capres Prabowo-Sandi, menunjukan ketidaksiapan berdebat pada isu-isu subtantif berbangsa dan bernegara.

Hal ini juga menandakan ketidakpercayaan tim pasangan Prabowo-Sandi bahwa hasil debat akan menguntungkan mereka. Jika yang dibicarakan adalah subtansi berbangsa dan bernegara, kemungkinan mereka akan sulit mengembangkan isu. Dan karena itulah dimunculkan ide agar debat juga menggunakan bahasa Inggris. Kelemahan menguasai subtansi debat ingin ditutupi dengan kecakapan berbahasa Inggris.

Selain itu, dengan menggunakan bahasa Inggris seperti ingin menunjukan kelas sosial tertentu, yang sama sekali tidak menunjukan kelas politik tertentu. Jadi hebat atau tidaknya bukan dilihat dari soal sejauh apa ia menguasai masalah debat, memiliki ide tentang sesuatu yang dianggap mandeg dalam berbangsa dan bernegara, lalu ingin menunjukan kelas sosialnya dengan kemahiran berbahasa Inggris.

Sayang, ide ini muncul dr tim Prabowo-Sandi yang selama ini getol menguak isu asing-aseng, tapi seperti mendapatkan kepercayaan dirinya melalui penggunaan bahasa asing. Aneh bukan?

Selanjtnya menggunakan bahasa Inggris karena dianggap kebutuhan untuk kepentingan dunia internasional juga berlebihan. Tidak ada hubungan kemajuan dan atau kemakmuran, serta diterima sebagai warga dunia hanya karena soal kecakapan berbahasa Inggris. Itu cara berpikir inferior. Lebih dari itu, seperti mengaburkan persoalan penting bangsa ini, yakni: keadilan sosial, kesejahteraan, perlindungan HAM, pemerintahan bersih, transparan, kesehatan dan pendidikan yang rendah, korupsi pejabat negara yang merajalela, dan tak lupa perlu mengingatkan untuk menggalakan penggunaan bahasa lokal, yang waktu demi waktu, beberapa di antaranya mengalami kepunahan. Jadi ide debat berbahasa Inggris itu adalah ide abal-abal yang sama sekali tidak ada urgensinya. (cmk)

SHARE ON
close

PENALAR

PILIHAN REDAKSI

PENALAR TERPRODUKTIF

Ujang Komarudin, Dr., M.Si.

Pengamat Politik dan Dosen Universitas Al Azhar Indonesia

Christianto Wibisono

Analis Bisnis/ Pendiri Pusat Data Bisnis Indonesia (PDBI)

Dadang Trisasongko

Direktur Eksekutif Tranparency Internasional (TI) Indonesia

FOLLOW US

Temuan TPF Novel Tidak Fokus             Bentuk TGPF Independen untuk Kasus Novel Baswedan             Pilah Skema Untuk Proyek Strategis             Risiko Penyertaan Equity Proyek Macet             Diskresi Kepolisian Bermasalah?             Penanganan Tak Sesuai Perkap             Polisi Tidak Dikondisikan Menjadi Arogan             Kita Tidak Dapat Menduga Kondisi Mental Polisi saat Menembak             MPLS Harus Diselenggarakan Sesuai Pedoman             Pendidikan Swasta Semi Militer Harus Ditertibkan