BACK TO TOPIC
OPINI PENALAR
Analis Bisnis/ Pendiri Pusat Data Bisnis Indonesia (PDBI)
Debat Bahasa dalam Debat Pilpres.

Prabowo Subianto dan Sandiaga Uno mungkin merasa lebih fasih (fluent) dalam berbahasa Inggris dengan aksen British maupun Amerika karena keduanya pernah sekolah di Inggris dan Amerika Serikat. Jadi wajar kalau mereka sempat mengalami situasi dimana mau tidak mau suka tidak suka harus berbahasa Inggris kalau mau survive dan sukses dalam pendidikan kesarjanaan mereka.

Tapi bakat bahasa ibu (mother tongue) kadan kadang memang tidak merata dimiliki seluruh manusia, Ada orang yang sudah tinggal belasan tahun di suatu negara, tapi lafaknya, dialeknya, pronunciation-nya masih medok (istilah untuk bahasa Jawa). Pada umumnya orang berpendapat bagi orang Indonesia yang punya bakat bahasa, intonasi orang Indonesia seperti Sujatmoko dan Dino Pati Djalal tidak beda dengan lulusan Oxford atau Harvard. Intonasi orang India dan Philipina tidak lebih baik dari Indonesia.

Nah dalam soal debat Bahasa Inggris kita pernah punya 2 presiden yang bedanya seperti langit dan bumi. Bung Karno sangat lihay mahir Bahasa Inggris sedang Soeharto hanya pasif, tapi dia tidak kehilangan rasa percaya diri dan dengan santai dan pede meniru PM Jepang yang dimana mana pakai interpreter.  Dan ia survive jadi presiden selama 32 tahun dan sempat jadi Ketua Gerakan Non Blok dan memimpin sidang GNB memakai interpreter dan trasnlator.

Jadi no big deal soal kefasihan bahasa Ingrris tidak perlu dijadikan ukuran kualitas intelektual seseorang. boleh saja  diatur satu adegan seolah debat dengan moderator pakai bahasa Inggris lalu para capres-cawapres harus menjawab boleh Bahasa Inggris atau Indonesia, tapi yang peting kan jawaban capres-cawapres itu substansial harus berbobot dan bukan sekedar debat kusir atau sekedar kemampuan membuat pantun atau idiom Bahasa Inggris.

Soal debat bahasa ini harus dinilai dari taktik lawan politik untuk memojokkan petahana dengan isu yang psikologis  sensitif tapi kurang elegan dan simpatik. Ini bukan kontes untuk lulus TOEFL, melainkan kontestasi kepemimpinan nation state. Presiden Brazil Lula da Silva juga kurang fasih berbahasa Inggris karena mother tonguenya bahasa Portugis. Bukan tidak mungkin, Kalau dibiarkan bisa melebar harus fasih bahasa Arab dan baca Alquran. (cmk)

 

SHARE ON
close

PENALAR

PENALAR TERPRODUKTIF

Christianto Wibisono

Analis Bisnis/ Pendiri Pusat Data Bisnis Indonesia (PDBI)

Didin S. Damanhuri, Prof., Dr., SE., MS., DEA

Guru Besar Fakultas Ekonomi dan Manajemen (FEM) IPB

Riza Annisa Pujarama

Peneliti Institute for Development of Economics and Finance (INDEF)

FOLLOW US

Presiden sedang Menggali Kuburnya Sendiri             Duet Tango DPR & KPK             Utamakan Tafsir Moral ketimbang Tafsir Hukum dan Ekonomi             Langkah Menkeu Sudah Benar dan Fokuskan pada SKM 1             Industri Rokok Harus Tumbuh atau Dibiarkan Melandai             Perizinan Teknis Masih Kewenangan Daerah             Kiat Khusus Pangkas Birokrasi Perizinan di Indonesia             Politik Etika vs Politik Ekstasi              Kebutuhan Utama : Perbaiki Partai Politik             Pengaruh High Class Economy dalam Demokrasi di Indonesia (Bagian-1)