BACK TO TOPIC
OPINI PENALAR
Pakar Teknologi Informasi
Data Adalah Komoditas Paling Dicari Saat Ini

e-Economy, e-Commerce, atau segala sesuatu yang berbau "e" pada dasarnya akan tergantung pada dua hal besar. Pertama, keberadaan infrastruktur Internet yang merata. Kedua, keberadaan developer (programmer) yang mengembangkan aplikasi. Perkembangan Startup yang mengikuti pola kebutuhan manusia begitu melejit saat ini, juga karena perkembangan kemampuan kedua hal besar tersebut. Kemampuan yang sanggup mengumpulkan data, dan mampu membuatnya (data) menjadi berharga. Lebih berharga dari minyak dan barang tambang lainnya.

Dunia saat ini memang memasuki era baru, di mana segala kegiatan usaha (bisnis) dan industri menggunakan peran kecerdesan buatan atau Artificial Intelegencial (AI). Banyak yang menyebut saat ini sebagai era Revolusi Industri 4.0.

Era dimana saat profil seseorang, baik aktivitas, tempat tinggal, tempat bekerja, waktu bekerja, kesukaan, hobby, hingga waktu ‘ngopi’ bisa diketahui melalui kemampuan AI dalam mengolah data yang dikumpulkan. Oleh karena itu, begitu pentingnya peran data saat ini. oleh negara-negara maju, bahkan kebutuhan data sangat penting melebihi kebutuhan minyak. Dengan data, sebuah negara (melalui) dapat mengkoloni negara lain dengan menguasai ekonominya.

Pada September 2017, saya melihat langsung bagaimana Australia mendorong Startup, kunci utama di dalamnya adalah pengembangan SDM dan pendampingan untuk menjadi entrepreneur. Australia sudah merasakan bahwa tidak mungkin bagi mereka untuk bergantung pada sumber daya alam, mau tidak mau harus mengarahkan kemampuan SDM dan dunia usaha yang ada ke dunia teknologi, dunia cyber untuk bisa meraih lebih banyak devisa dari layanan di dunia cyber. Sejak dini, dan semua lini (baik sekolah biasa, sekolah anak daerah) semua di arahkan untuk menjadi innovator, maker, developer. Sehingga bukan sekedar menjadi konsumen, tapi menjadi produsen yang menghasilkan devisa.

Oleh karena itu, jangan kaget jika kemudian banyak startup besar-besar, seperti Go-Jek,  Traveloka, Tokopedia, maupun Bukalapak yang statusnya sudah ‘unicorn’ mendapat guyuran dana besar dari perusahaan-perusahaan asing atau kapitalis asing, sebagai bagian dari investasi.  Ini karena startup-startup tersebut memiliki data dengan jumlah besar yang dibutuhkan dunia. Saat ini, data telah menjadi komoditas. Unicorn sendiri adalah sebutan yang mereka ciptakan sendiri untuk menunjukkan ‘kehebatan’ dan ‘kebesaran’ kapitalisasi pasar yang mereka bentuk.

Saat ini hingga waktu-waktu ke depan, para investor terus akan berlomba mencari startup-startup yang mampu menawarkan mereka data, untuk dikucuri dana besar. Ini karena data mining, profiling, customer relationship manajemen adalah bagian dari business process di Startup dan perusahaan-perusahaan raksasa saat ini.

Jika investasi sudah masuk, niscaya share data atau perpindahan penguasaan data akan terjadi. Dari startup kepada investor. Sesuai dengan  jumlah nominal investasi yang dikucurkan. Karena data adalah komoditas. Apakah memungkinkan terjadinya jual-beli data yang dilakukan oleh investor asing yang berinvestasi di perusahaan startup Indonesia kepada pihak lain? Ya, itu sangat memungkinkan terjadi. meski saat ini, secara umum belum menjadi sebuah kewajaran. Namun, kalau toh dilakukan secara terang-terangan, maka kepercayaan user akan hilang. Dan, kehilangan kepercayan user akan berakibat fatal untuk perusahaan tersebut.

Memang, saat ini Indonesia sudah  memiliki aturan soal perlindungan data pribadi untuk sistem transaksi elektronik. Namun hanya sebatas  Peraturan Menteri (Permen) No 20 Tahun 2016 tentang Perlindungan Data Pribadi (PDP). Sedangkan, untuk Undang-undang perlindungan data pribadi hanya melindungi beberapa data KTP saja, bukan perilaku pelanggan yang dicatat IT Startup. UU-nya pun masih draft, belum ditandatangani.

Padahal, fungsi proteksi terhadap data saat ini amat sangat penting. Hal ini perlu menjadi perhatian pemerintah untuk segera membuat sistem proteksi atas data-data rakyat Indonesia. Karena, disadari atau tidak, selain sebagai bagian dari bisnis, penguasaan data juga menjadi bagian dari perang asimetris. (afd)

SHARE ON
close

PENALAR

PENALAR TERPRODUKTIF