BACK TO TOPIC
OPINI PENALAR
Darurat, pembenahan Sektor Manufaktur dan Kapasitas SDM (Bagian-2)

Kita juga harus membenahi vocational school (SMK) yang sekarang kurikulumnya cenderung tidak compatible dengan kebutuhan industri. Padahal kita berada di wilayah bonus demografi untuk rentang usia produktif 15-64 tahun yang pada 2025-2030 mencapai usia peak nya.

Sebenarnya defisit current account tidak masalah dan secara natural dialami juga oleh Negara maju, tapi mereka punya kompensasi dari neraca jasa nya yang tinggi sekali. Dari financial account juga cukup signifikan. Sementara kita sebagai Negara berkembang belum ke arah sana tapi sudah mengalami defisit.

Defisit kita sebenarnya prematur karena dipicu oleh gejala deindustrialisasi yang juga prematur.

Solusi ke 3 mungkin juga bisa memanfaatkan “Bank Pembangunan”. Selama ini fungsi itu sudah tidak ada lagi dan untuk membiayai infrastruktur ada PT SMI (Sarana Multi Infrastruktur) BUMN di bawah Kementerian Keuangan. Tetapi PT SMI ini seharusnya bisa dikembangkan menjadi Bank Pembangunan atau seperti lembaga pembiayaan pembangunan Indonesia. jadi tidak hanya membiayai infrastruktur tapi juga bisa membiayai industri dan sektor-sektor penting lain yang dibutuhkan untuk pembangunan Indonesia.

Jadi dari sisi infrastruktur, kurikulum, pembenahan skill labour dan juga konsep pembiayaan pembangunan Indonesia, yang sebenarnya itu diperlukan.

Sebenarnya hal itu sudah masuk prolegnas tapi sepertinya belum menjadi prioritas. Ke depan, harus diwacanakan lagi pembentukan pembiayaan pembangunan Indonesia karena kita harus mengejar momentum tadi, bagaimana bisa menggenjot industri dan sektor-sektor yang bisa berorientasi ekspor. Sehingga permasalahan dari CAD bisa ditangani meskipun tentunya butuh waktu.

Sekarang, dari sisi infrastruktur mungkin sudah berjalan, tapi diharapkan dari sisi kapasitas tenaga kerja yang sejak lama menjadi wacana dari kementerian tenaga kerja tapi belum terlihat hal yang konkrit, dan masih sebatas gimmick saja.

Padahal itu harus dikejar mengingat bonus demografi akan cukup singkat periode nya. Belum lagi dari sisi pengangguran usia muda 15-39 tahun yang merupakan mayoritas (85 persen). Hal itu sebenarnya potensi yang luar biasa tapi tidak tergarap dan menjadi rintangan bagi upaya membangkitkan kembali industri.

Solusinya memang harus menyeluruh, lintas sektor, lintas kementerian dan butuh kepemimpinan presiden yang harus in charge untuk mengarahkan kementerian-kementerian itu supaya tidak saling bentrok dan punya agenda masing-masing, yang kadang saling bertentangan satu sama lain.

Belum lagi bicara mengenai data produksi yang harus menjadi perhatian kita ke depan.

Insentif-insentif bagi industri yang disediakan pemerintah sejauh ini belum konkrit dan belum terdesiminasi dengan baik. Industri juga belum begitu mengerti. Jadi dari sisi ide-ide sudah bagus tapi dari sisi implementasi masih amat kurang. Kementerian Perindustrian juga terlihat masih terlalu banyak prioritas, jadi sama saja tidak punya prioritas.(pso)

SHARE ON
close

TOPIK TERPOPULER

PENALAR

PENALAR TERPRODUKTIF

Imam Ghozali

Dosen STAIN Bengkalis

Ujang Komarudin, Dr., M.Si.

Pengamat Politik dan Dosen Universitas Al Azhar Indonesia

Gigin Praginanto

Pengamat Kebijakan Publik, Wartawan Senior

FOLLOW US

Bilik Asmara adalah Hak Tahanan yang Harus Dipenuhi             Kedua Kubu Harus Menghormati Proses Hukum             Vandalisme dan Playing Victim sudah Usang             Investasi Dana Haji Untuk Siapa?             Batas Kesopanan Tidak Diatur dengan Jelas             Iklan Shopee BLACKPINK Berpotensi Menentang Norma Kesopanan              Jangan Abai dengan Jalan Rusak Dimusim Hujan             Revisi PP untuk Kemudahan Usaha Sektor Minerba             Tolak Rencana Revisi Ke-6 PP No.23 Tahun 2010              Kembali ke Permurnian Pelaksanaan Undang-Undang