BACK TO TOPIC
OPINI PENALAR
Darurat, pembenahan Sektor Manufaktur dan Kapasitas SDM (Bagian-1)

Kalau kita melihat kinerja current account yang selalu defisit, sebenarnya yang paling parah itu sejak 2011. Hal Itu kemudian turut menekan rupiah yang sangat volatile atau dinamis perkembangannya dan sampai sekarang masalahnya belum betul-betul terpecahkan.

Meskipun kalau kita melihat dari sisi apa sebenarnya yang diperlukan untuk membenahi defisit current account, masalahnya adalah dari sisi Produksi.

Produksi berarti bicara tentang tren industri. Industri kita justru setelah reformasi 1998 kontribusi sharenya terhadap GDP semakin lama semakin turun. Pada 2001 kontribusi sektor industri terhadap GDP sekitar 29 persen namun sekarang tinggal 19-20 persen. Hal itu menunjukkan adanya gejala deindustrialisasi.

Keadaan itu yang kemudian turut menahan kinerja dari ekspor Indonesia. kemudian dilihat lagi komponen paling dominan dari current account defisit adalah dari sisi neraca perdagangan. Dari situ yang harus dilakukan pemerintah adalah bukannya menahan impor, tapi bagaimana bisa mengekspor lebih banyak.

Kalau melihat strategi Negara-negara tetangga, Thailand, Vietnam dan Malaysia, mereka membangun jaringan produksi global dan tidak bermasalah dengan mengimpor barang-barang input untuk keperluan produksi. Jadi masalahnya bukan dari sisi impor, tapi bagaimana mereka bisa menggunakan impor barang modal dan barang kebutuhan untuk membangun industrinya. Dari situ kemudian membangun surplus produksi.

Jadi sekali lagi solusinya bukan bagaimana menahan impor, tapi bagaimana menggenjot ekspor.

Tapi memang, untuk mengenjot ekspor itu perlu waktu. Membangkitkan kembali industri kita juga butuh waktu. Pemerintah salah satunya sudah mengupayakan hal itu dengan membangun infrastruktur. Dalam kurun waktu 10-15 tahun terakhir infrastruktur ini memang agak terbatas perkembangannya. Mulai 2014, sudah terjadi pergeseran dari sebelumnya yakni dari rezim subsidi menjadi rezim infrastruktur.  

Kurang lebih ada Rp400 triliun dana yang diperlukan untuk membangun infrastruktur dan itu memang sangat diperlukan untuk membangun industri. Hanya saja keterbatasannya mungkin proyek-proyek infrastruktur ini perlu juga dievaluasi. Jadi belum cukup signifikan untuk membangun industri kembali.

Catatan selama ini sejak 2012 usaha untuk membangkitkan kembali industri memang belum cukup konkrit. Pasca reformasi belum kelihatan usaha yang betul-betul siginifikan, dan mungkin baru pada 2014 setidaknya ada pembangunan infrastruktur yang selama ini tertinggal. Padahal infrastruktur bisa menjadi salah satu pemantik bagi bangkitnya industri.

Kalau ingin membangun industri ada beberapa hal yang harus dilakukan, pertama, membangun infrastruktur. Kedua, dari sisi SDM atau kualitas tenaga kerja. Kalau bicara kualitas tenaga kerja, masih sangat terbatas. Sementara kalau dilihat dari sisi produktivitas nya tenaga kerja Indonesia sekitar 3 persen, sementara dibandingkan dengan level inflasi, pertumbuhan ekonomi maka perbandingannya jauh di atas produktivitas labour. Juga jika dilihat dari sisi upah yang bisa naik 20-30 persen dalam 1 tahun. Tapi produktivitas hanya 3 persen.

Kemarin ada PP No 78 tahun 2015 yang mengatur batas upah minimum, itu sudah lebih baik, karena lebih fair. Mengitung upah berdasarkan inflasi ditambah pertumbuhan ekonomi. Meskipun itu juga masih terhitung tinggi. Karena produktivitas nya yang cukup rendah tadi, hanya 3 persen. Hal itu juga pada akhirnya bisa merintangi produktivitas sektor manufaktur yang pertumbuhannya dalam beberapa tahun terakhir justru di bawah pertumbuhan ekonomi.

Ke depan, jika bicara pertumbuhan sektor manufaktur dalam rangka menopang pertumbuhan ekonomi jadi agak mengkhawatirkan. Apalagi kalau dilihat dari CAD yang belum ada dorongan dari sisi ekspor.

Salah satu yang bisa menjadi solusi adalah soal kualitas SDM yang di jangka menengah panjang kita fokuskan mengenai kurikulum, penigkatan kapasitas, dan penambahan kapasitas BLK. Sehingga pekerja bisa meningkatkan kapasitasnya dan produktivitas nya sehingga compatible dengan kebutuhan industri.(pso)

SHARE ON
close

TOPIK TERPOPULER

PENALAR

PENALAR TERPRODUKTIF

Imam Ghozali

Dosen STAIN Bengkalis

Ujang Komarudin, Dr., M.Si.

Pengamat Politik dan Dosen Universitas Al Azhar Indonesia

Gigin Praginanto

Pengamat Kebijakan Publik, Wartawan Senior

FOLLOW US

Bilik Asmara adalah Hak Tahanan yang Harus Dipenuhi             Kedua Kubu Harus Menghormati Proses Hukum             Vandalisme dan Playing Victim sudah Usang             Investasi Dana Haji Untuk Siapa?             Batas Kesopanan Tidak Diatur dengan Jelas             Iklan Shopee BLACKPINK Berpotensi Menentang Norma Kesopanan              Jangan Abai dengan Jalan Rusak Dimusim Hujan             Revisi PP untuk Kemudahan Usaha Sektor Minerba             Tolak Rencana Revisi Ke-6 PP No.23 Tahun 2010              Kembali ke Permurnian Pelaksanaan Undang-Undang