BACK TO TOPIC
OPINI PENALAR
Akademisi, Pengamat Komunikasi politik Univ. Paramadina dan Pendiri Kedai Kopi (Lembaga survei)
Dari Sistem Pemilu Hingga Politik Uang

Fenomena pileg ini menarik. Karena pertama, sistem serentak yang baru dilaksanakan di Indonesia. Mengapa ini sangat berpengaruh kepada hasil pileg? Karena dengan sistem serentak maka effort yang diberikan oleh pemilih itu akan lebih besar dalam memilih. Si caleg-caleg ini juga harus bersaing dengan kontestan dari unsur-unsur lain seperti presiden dan DPD. Itu yang pertama.

Jadi mau tidak mau pemilu serentak ini juga sangat berpengaruh apalagi kampanyenya lebih besar ke presiden. Maka harus berkali – kali lipat memang usaha para caleg ini untuk menjual atau mempromosikan dirinya.

Kedua, faktor popularitas. Faktor ini memang secara teori sudah satu langkah maju dari caleg-caleg yang memiliki popularitas. Tapi masalahnya adalah saat ini yang populer juga banyak. Misalnya ada beberapa artis atau selebritis yang maju tapi ternyata kan banyak juga selebritis yang mencalonkan diri sebagai caleg. Belum lagi persaingan dengan incumbent yang memang sudah menguasai daerah pemilihannya.

Kemudian ada beberapa tokoh tersohor yang dipindah dapil dalam injury time. Jadi diujung-ujung seperti Budiman Sudjatmiko. Yang tadi disampaikan itu juga dipindah daerah pemilihannya ke daerah yang baru sekali untuk dia. Nah karena konsentrasi dia untuk presiden, maka tidak banyak waktu yang diberikan oleh Budiman Sudjatmiko di dapilnya.

Faktor ketiga adalah faktor tren. Sejak 2014 lalu tren blusukan, tren bertemu langsung dengan pemilik suara ini belum bisa tergantikan. Sehingga caleg-caleg yang tidak bisa meluangkan waktu lebih banyak untuk melaksanakan tren itu, bertemu dengan para pemilik suara otomatis akan tertinggal. Itu misalnya yang terjadi dengan Ahmad Dhani. Dia tersangkut kasus hukum maka dia sulit untuk bertemu dengan pemilik suara.

Keempat adalah faktor money politik. Ini adalah faktor yang paling menyedihkan menurut saya. Hasil survey kedai kopi sekitar 60 persen dari masyarakat menerima, artinya mereka memaklumi money politics. Ini memang zaman yang menurut saya terburuk buat Indonesia. Pada saat suara bisa digadaikan dengan uang.

Tapi saya tidak terlalu banyak menyalahkan para pemilik suara saat ini. Karena money politics ini seperti menjadi poin no 3 tadi menjadi tren. Jadi pada saat pemimpin, tokoh-tokoh tersohor mulai bagi-bagi bingkisan, uang, mulai menitipkan amplop, kemudian divideokan dan kemudian diterima amplop itu sehingga membuat money politics ini menjadi tren.

Bangga kita kalo ada caleg yang sama sekali tidak mengeluarkan uang, amplop, money politics untuk terpilih. Dan saya juga masih bangga bila ada caleg walaupun dia tidak terpilih tapi dia memilih jalan untuk tidak ikut dalam tren ini. Menyakitkan buat kita bila ada calon anggota legislative yang saat ini terpilih dan dia terlibat money politics. Itu menyakitkan buat kita.

Kita tidak perlu terharu, menyesali dan kita juga tidak perlu juga bersimpati bagi calon-calon anggota legislatif yang sudah megeluarkan money poltics tapi tidak terpilih. Itu kita sukurin ga papa. Tapi ini gimana ya, akan jadi bangsa apa bangsa kita ini jika kemudian keterpilihannya berdasarkan money politics itu. Jadi ada empat hal yang mendasari seorang caleg itu terpilih atau tidak terpilih. (mkn)

SHARE ON
close

PENALAR

PENALAR TERPRODUKTIF

Ujang Komarudin, Dr., M.Si.

Pengamat Politik dan Dosen Universitas Al Azhar Indonesia

Zaman Zaini, Dr., M.Si.

Dosen pascasarjana Institut STIAMI, Direktur Sosial Ilmu Politik CPPS (Center for Public Policy Studies), Staf Khusus Bupati MURATARA Sumsel

YB. Suhartoko, Dr., SE., ME

Dosen Program Studi Ekonomi Pembangunan, Keuangan dan Perbankan Unika Atma Jaya Jakarta

FOLLOW US

Pemerintah Daerah Harus Berada di Garda Terdepan             Tegakkan Aturan Jarak Pendirian Ritel Modern dengan Usaha Kecil Rakyat             Konsep Sudah Benar, Implementasinya Gagal             Tugas Terbesar Negara, Mencerdaskan Bangsa!             Indonesia Butuh Terobosan-terobosan Progresif Bidang SDM             Penekanan pada Memobilisasi Kapasitas Modal Manusia Lokal Secara Otentik             Meritokrasi vs Kabilisme             Kendalikan Harga Pangan untuk Menekan Inflasi             Utang Semakin Besar, Kemampuan Membiayai Pembangunan Berkurang             Perhatikan Belanja Non K/L yang Semakin Membesar