BACK TO TOPIC
OPINI PENALAR
Pengamat Kebijakan Publik, Wartawan Senior
Dari Kapitalis Menjadi Sangat Kapitalis

Jalan tol jelas memperlancar arus barang dan manusia sehingga penting untuk perekonomian. Namun bila tarifnya terlalu mahal,  pembangunan jalan tol sama dengan pemborosan keuangan negara,  dimana pada akhirnya rakyat yang harus menanggung. 

Secara politik,  tol juga penting karena bisa 'dijual' sebagai bukti keseriusan membangun infrastruktur.  Banyak orang pasti terhibur karena dalam soal infrasruktur Indonesia memang jauh ketinggalan dibandingkan negara-negara tetangga. 

Namun jalan tol juga bisa menjadi senjata makan tuan karena menggerus perekonomian yang mengandalkan jalan lama. Banyak rumah makan dan penginapan,  yang kebanyakan kelas kakilima, teraniaya karena penghasilan merosot tajam. PHK massal pun terlalu sulit dihindari, membuat popularitas pemerintah merosot. 

Para sopir dan kenek truk tentu saja ikut waswas karena para tauke bisa saja mengurangi armada. Maklum, karena jalan mulus dan lancar,  untuk mengangkut barang yang sama dibutuhkan truk lebih sedikit. Ringkas kata, banyak orang kecil menjadi korban.

Tak jelas, apakah pemerintah sudah memperhitungkan semua itu atau belum. Atau mungkin pemerintah mengikuti apa yang pernah dikatakan Bung Karno: Tiada pengorbanan yang sia-sia.

Mungkin pengorbanan para korban tol memang tidak sisa-sia. Setidaknya bisa membuat Malaysia, negara-negara Arab kaya minyak, Jepang, Korea Selatan, Taiwan, Hongkong, dan Singapura bisa lebih mudah memperoleh tenaga kerja murah. Para penggemar poligami juga senang karena lebih mudah mencari istri kedua, ketiga, dan keempat. 

Para tengkulak juga ikut senang. Mereka bisa lebih cepat memborong hasil panen para petani dan disalurkan ke pusat-pusat konsumsi. Mereka juga bisa memangkas jumlah gudang dan ruang pendingin karena barang dagangan lebih cepat dikirim. 

Para raksasa peternakan unggas tak kalah senang. Mereka bisa lebih cepat mengirim barang sampai tingkat kakilima. Maka,  pesaingnya yang kebanyakan kelas kakilima, tak akan berkutik dan terpaksa menyingkir dari pasar. Apa boleh buat, tak ada yang melarang mereka bertarung  bebas melawan kakilima. Pemerintah bahkan giat meluncurkan paket deregulasi, sekarang sudah 16, yang isinya adalah liberalisasi bagi para raksasa bisnis berekspansi sampai tingkat kakilima. 

Indonesia memang sedang berubah dari kapitalis menjadi sangat kapitalis. Maka, bersiaplah  menjadi kuli seumur hidup. Sekali kuli tetap kuli! (pso)

SHARE ON
close

TOPIK TERPOPULER

PENALAR

PILIHAN REDAKSI

PENALAR TERPRODUKTIF

Christianto Wibisono

Analis Bisnis/ Pendiri Pusat Data Bisnis Indonesia (PDBI)

Yahya Agung Kuntadi, Ir., M.M.

Kepala Kantor UGM Kampus Jakarta, Institute of Research and Community LPPM UGM

Ujang Komarudin, Dr., M.Si.

Pengamat Politik dan Dosen Universitas Al Azhar Indonesia

FOLLOW US

Inovasi Kebijakan yang Tidak Menjual             Kebijakan Tergantung Tujuan Awalnya             Kebaya Tak Perlu Dipertanyakan             Penggalian Nilai Budaya Dibalik Kebaya             Berkebaya Adalah Kesadaran             Penangkapan Faisol Tidak Berdasar             Lembaga Negara Bukan Pemungut Upeti!             Cost Recovery Bukan dari APBN             Blok Masela, Akankah mengulang sejarah Freeport?             Kebutuhan Gas Dalam Negeri Harus Diutamakan