BACK TO TOPIC
OPINI PENALAR
Pengemudi ojek online perempuan
Dari 100 Persen Orderan, 10 Persen Di-`Cancel` Karena Saya Perempuan

Suami saya sudah almarhum. Anak saya tiga. Yang paling besar sudah kerja, sedang yang paling kecil kelas 5 SD. Saya sudah lebih dari dua tahun jadi pengemudi ojek online. 

Kalau dipersentase, sekitar 10 persen saya mengalami penolakan atau di-cancel penumpang cowok per hari. Biasanya kalau dapat order kan saya telepon untuk konfirmasi. Nah, pas dengar suara perempuan, dia (customer laki-laki--red) malah cancel. Alasannya macam-macam. Entah karena nggak pede, takut, atau apalah kalau driver-nya cewek.  

Tapi, yang banyak terjadi juga, begitu tahu orangnya dan layanannya, justru mereka merasa puas. Soalnya tidak seperti yang mereka bayangkan selama ini kalau yang bawa motor perempuan asal bawa saja. Mereka malah merasa nyaman. Mereka justru bilang, "Malah enakan dibawa cewek. Cowok yang bawa malah sradak-sruduk." 

Sering juga customer yang minta bawa motor sendiri, saya di kursi penumpang. Terutama yang badannya besar. Ada juga yang beralasan malu (dibonceng cewek). Macam-macamlah (alasannya). Tapi saya nggak kasih. Kan saya yang driver Gojek-nya.  

Saya nge-Gojek sambil urus anak. Sambil antar anak sekolah dari rumah di Ragunan, Jakarta Selatan, lalu selama dia sekolah. Jadi saya nggak bisa full narik penumpang seperti driver lain. Kalau driver cowok sudah bisa jalan dari subuh, saya harus urus rumah dulu, siapin makanan dan antar sekolah.    

Saya bawa motor keliling Jabodetabek. Nggak pilih-pilih orderan. Kemana saja saya ambil. Saya juga nggak punya basecamp. Kalau ketemu driver lain palingan say "Hai." Sebulan saya pernah dapat Rp 4-5 juta. Tapi sekarang tak segitu. (ade)
 

SHARE ON
close

TOPIK TERPOPULER

PENALAR

PILIHAN REDAKSI

PENALAR TERPRODUKTIF

Christianto Wibisono

Analis Bisnis/ Pendiri Pusat Data Bisnis Indonesia (PDBI)

Yahya Agung Kuntadi, Ir., M.M.

Kepala Kantor UGM Kampus Jakarta, Institute of Research and Community LPPM UGM

Ujang Komarudin, Dr., M.Si.

Pengamat Politik dan Dosen Universitas Al Azhar Indonesia

FOLLOW US

Inovasi Kebijakan yang Tidak Menjual             Kebijakan Tergantung Tujuan Awalnya             Kebaya Tak Perlu Dipertanyakan             Penggalian Nilai Budaya Dibalik Kebaya             Berkebaya Adalah Kesadaran             Penangkapan Faisol Tidak Berdasar             Lembaga Negara Bukan Pemungut Upeti!             Cost Recovery Bukan dari APBN             Blok Masela, Akankah mengulang sejarah Freeport?             Kebutuhan Gas Dalam Negeri Harus Diutamakan