BACK TO TOPIC
OPINI PENALAR
Peneliti Institute for Development of Economics and Finance (INDEF)
Dana Desa untuk Berdayakan Ekonomi

Program pengentasan kemiskinan terkait dengan dana desa yang belum begitu nendang dalam mengurangi tingkat kemiskinan di perdesaan meskipun kemiskinan di perdesaan jelas menunjukkan penurunan menurut data BPS.

Seperti yang dapat dilihat pada rilis BPS kemarin, bahwa angka kemiskinan di perdesaan masih lebih tinggi dibandingkan dengan perkotaan. Sebanyak 60,23 persen dari total jumlah penduduk miskin tinggal di wilayah perdesaan, sementara 39,77 persen tinggal di perkotaan. Tingkat penurunan kemiskinan di perdesaan sejak keluarnya dana desa pada 2015 tidak jauh berbeda dengan sebelum adanya dana desa yakni di kisaran 2 – 5 persen.

Dana desa sebagai salah satu instrumen untuk mengatasi kemiskinan di perdesaan belum efektif dalam mengurangi penurunan tingkat kemiskinan. Hal ini disebabkan dana desa masih banyak digunakan untuk pembangunan infrastruktur seperti jalan dan saluran irigasi.

Sementara itu, program pemberdayaan ekonomi yang berfokus pada pengentasan kemiskinan belum banyak tersentuh. Sudah saatnya alokasi dana desa dialihkan sebagian untuk program pemberdayaan ekonomi, dengan begitu penurunan angka kemiskinan akan lebih nendang.

Berikutnya, untuk mendukung pemberdayaan ekonomi maka diperlukan pendampingan, pelatihan dan pengawasan intensif sehingga perlu ada perbaikan kapasitas perangkat desa sekaligus peningkatan kapasitas SDM masyarakat desa.
Basis ekonomi perdesaan rata-rata adalah pertanian, namun hingga saat ini masih banyak yang dilakukan dengan cara-cara konvensional sehingga produktivitasnya rendah. Untuk mengatasinya maka dapat dilakukan pengembangan teknik bertani agar produktivitas meningkat, diikuti dengan peningkatkan akses terhadap lahan dan terhadap modal.

Selain bertani, berkebun juga merupakan sektor yang banyak berkembang di perdesaan namun demikian masih belum digeluti dengan fokus, sehingga ketika harga komoditas jatuh maka akan ditinggalkan. Hal ini seperti yang banyak terjadi di perdesaan di daerah Nias yang merupakan penghasil karet. Ketika harga karet jatuh maka karet ditinggalkan. Untuk mengatasinya perlu dilakukan upaya pemberian nilai tambah pada produk komoditas unggulan.

Permasalahan lain yang kerap timbul atas produk BUMDes, UMKM, dan komoditas unggulan di perdesaan adalah pemasaran dan distribusi dalam hal ini transportasi, sehingga perlu peningkatan akses terhadap distribusi yaitu jalan dan moda transportasi sekaligus peningkatan akses terhadap pemasaran produk.

Penciptaan sinergitas program pembangunan antara desa, kecamatan, dan kabupaten agar lebih terarah dan tidak tumpang tindih serta sinergitas lintas desa dapat membantu perluasan akses terhadap jalur disribusi dan pemasaran produk BUMDes, UMKM.

Perlu ada pembukaan akses terhadap sektor ekonomi baru di perdesaan selain pertanian dan perkebunan dapat meningkatkan perekonomian dan mengurangi kemiskinan. Menurut World Bank, kegiatan non-pertanian yang dapat dikembangkan di perdesaan adalah kegiatan rantai nilai, seperti transportasi, distribusi, pemasaran, dan ritel, serta pariwisata, manufaktur, konstruksi dan pertambangan, ditambah kegiatan wirausaha seperti kerajinan tangan, toko roti, mekanik, kios, dan sebagainya.

Selain hal tersebut, hal paling mendasar yang dapat membantu mengurangi kemiskinan adalah pemenuhan terhadap standar pelayanan publik di tingkat perdesaan. (msw)

SHARE ON
close

PENALAR

PENALAR TERPRODUKTIF

Ahmad Heri Firdaus

Peneliti Institute for Development of Economics and Finance (INDEF)