BACK TO TOPIC
OPINI PENALAR
Analis Bisnis/ Pendiri Pusat Data Bisnis Indonesia (PDBI)
Countdown to Absquatulate Voting

(Absquatulate is a deeply silly word that means to make off with something or someone. Why say a thief ran away with your money when it's much more fun to say he absquatulated with it? The word absquatulate came out of an odd fad in America in the 1830s for making playful words that sounded vaguely Latin)

Pada debat perdana Kamis,17 Januari 2019, petahana Presiden Jokowi dengan telak telah membungkam penantang dengan kasus hoax Ratna Sarumpaet,  caleg eks napi koruptor dan closing statement yang cukup bernas tentang rekam jejak kedua pasangan.

Pada hari Jumat, 18 Januari 2019, muncul berita pembebasan tahanan terorisme Abu Bakar Ba'asyir (ABB) yang langsung mengorbitkan pengacara Yusril Ihza Mahendra sebagai bintang lapangan baru di sisa 87 hari menuju  pilpres.
Sabtu-Minggu pembicaran soal debat sudah digusur oleh kasus ABB dengan pro dan kontra di antaranya dari Amaya Nadjani yang memakai istilah aneh absquatulate, fenomena orang hilang mendadak  atau dihilangkan secara “muspro”. 

Jokowers yang kecewa menyesalkan pembebasan tanpa syarat sebagai risiko kehilangan voters milenial dan anti intoleransi, yang barangkali lebih banyak dari yang diharapkan mendukung petahana sebagai ucapan terima kasih atas ” pembebasan kemanusiaan” itu.

Kalkulasi siapa yang dipakai petahana mengambil langkah pembebasan ABB itu secara teatrikal. Syukur kalau benar-benar mengamankan voters tambahan untuk menjamin securitas elektabilitas yang masih 54 persen, yang berarti rawan sekali karena hilang 5 persen berarti bisa kalah. Maka harus ada all out effort untuk mendulang suara dari fanatik radikal yang sampai mati juga tidak bersedia bersumpah kepada Pancasila.  Suatu harapan pertobatan yang luhur dan muluk sekaligus naif di mata sebagian pendukung yang kecewa terhadap manuver “politicking kemanusiaan”ini.

The law of unintended consequences.

Saya ingin me-resume-kan  beberapa  pokok temuan  yang saya temukan dalam perjumpaan saya dengan sejarah dunia sekitar dan pemantauan serta pengalaman pribadi membedah pelbagai  kebetulan  accidental atau co insidental  dalam sejarah Republik Indonesia modern.

Pertama, tertembaknya Presiden John F Kennedy 22 November 1963 merupakan “God’s way” yang di luar kalkulasi manusia. Sebab  setelah memenangkan Irian Barat secara damai berkat mediasi Presiden Kennedy, maka Bung Karno terjebak pada konfrontasi Malaysia, sehingga dia kehilangan peluang memperolah hadiah Nobel 1962 oleh Linus Carl Pauling dan 1963 oleh Palang Merah Internasional Geneva.

Dampak Perang Dingin AS Uni Soviet merasuk RI dengan konflik dan konfrontasi TNI vs PKI berujung lengsernya Bung Karno oleh kudeta merayap Soeharto, yang sejak 1 Oktober 1965 sudah berani mbalelo menolak perintah Panglima Tertinggi Sukarno untuk melapor ke Halim, malah mengultimatum agar Bung Karno segera meninggalkan Halim karena akan segera diserbu oleh RPKAD dan Kostrad. 

Kedua, terbunuhnya Yani sendiri adalah diluar skenario elite G30S, karena ulah “kroco dilapangan” yang lancang mengeksekusi  para jenderal.  Padahal rencananya mau dihadapkan ke Mahmilub, sehingga Bung Karno sendiri sangat sedih mendengar tewasnya Yani ditangan kroco lancang. Dan karena itu ragu- ragu dalam memutuskan solusi politik.

Seandainya Bung Karno langsung membubarkan PKI pada 5 Oktober 1965, mungkin sekarang RI akan berbeda dari trayektori sekarang ini. Tokoh intel yang licik, lihay dan licin: Syam Kamaruzaman yang merupakan multiple agent (KGB, CIA, Dewan Jendral, Dewan Revolusi)  adalah otak yang memicu pembunuhan jenderal AD, yang berbuntut retaliasi masif dari TNI/AD.

Panglima AU, Omar Dani, terlanjur mengeluarkan statemen mendukung Dewan Revolusi Letkol Untung. Ia diberhentikan 24 November 1965, menyusul pengangkatan Soeharto sebagai Men/Pangad 16 Oktober 1965. Nasib yang sama menimpa almarhum Tan Malaka yang dibebaskan dari tahanan politik karena terlibat kudeta 3 Juli 1946, penculikan PM Syahrir tapi justru tertembak mati oleh pasukan Letda Sukoco.

Ketiga, Bung Karno ngotot tidak mau membubarkan PKI, tapi kharisma Bung Karno sudah tergerus dengan situasi ekonomi yang memburuk, sehingga massa juga sudah sinis tidak mudah digerakkan untuk manut saja. Pidato terakhir Bung Karno didepan massa adalah 17 Agustus 1966 yang berjudul Jangan Sekali kali meninggalkan sejarah (Jasmerah).

Setelah itu dia di isolasi tidak bisa pidato di depan massa lagi. Maka Bung Karno kehilangan kemampuan untuk memobilisasi massa. Sehingga, Soeharto pada 1969 berani memutuskan pemilu diadakan 1971. Karena Bung Karno sudah dipecat dari jabatan presiden sejak 12 Mret 1967 dan pada 27 Maret 1968 Soeharto resmi jadi presiden kedua RI.

Bung Karno wafat 21 Juni 1970, maka pemilu 1971 menjadi piknik bagi rezim Orde Baru. Dan Golkar yang memakai wadah gurem, melejit jadi partai terbesar menggusur PNI yang hanya mendapat 20 kursi.  Selanjutnya sudah jadi sejarah 32 tahun Orde Baru. (cmk)

SHARE ON
close

PENALAR

PENALAR TERPRODUKTIF