BACK TO TOPIC
OPINI PENALAR
Pengamat Komunikasi Politik Nasional & Direktur Eksekutif Lembaga Emrus Corner
Calon Tunggal vs Kotak Kosong: Kegagalan Parpol Melahirkan Pemimpin

Terlepas dulu kalah menang, adanya kotak kosong dalam pilkada ini adalah tanggung jawab dari partai politik (parpol). Mengapa ada kotak kosong? Ini artinya parpol gagal melahirkan kader-kader mereka, yang sekelas dengan para calon tunggal itu. Padahal salah satu tugas parpol adalah melahirkan pemimpin. Masa hanya ada satu pemimpin saja? Sementara seperti yang kita tahu DPR yang berasal dari parpol mendapatkan fasilitas dan hak-haknya dari APBN yang di dalamnya ada pajak rakyat, tapi kok susah sekali melahirkan pemimpin unggulan untuk rakyat.

Jadi menurut saya fenomena kotak kosong adalah kegagalan parpol untuk melahirkan pemimpin. Itu dari sudut pencalonan. Selanjutnya dari sudut realitas pemilih, kalau yang menang adalah calon tunggal dengan jumlah partisipasi pemilih yang tinggi, itu hal yang biasa. Itu menunjukan secara moral politik, calon tunggal tersebut legitimate sebagai kepala daerah, secara hukum sudah pasti. Namun sebaliknya, hal yang terjadi di Makasar, kekalahan calon tunggal merupakan bukti rakyat telah memvonis calon tersebut.

Sehingga kekalahan calon tunggal di Kota Makasar ini juga menjadi koreksi bagi 10 partai pengusung (Partai Golkar, Partai Nasdem, PKS, PAN, PPP, PDI-P, Partai Hanura, PBB, Partai Gerindra dan PKPI). Ini bisa saja menjadi pertanda bahwa rakyat tidak percaya kepada kesepuluh parpol pengusung si calon tunggal tersebut. Kekalahan calon tunggal juga menunjukan bahwa rakyat semakin cerdas, tidak harus memilih satu-satunya calon yang diajukan, tapi bisa juga mengalihkan dukungan kepada kotak kosong.

Namun hal yang paling menarik kita lihat pada pilkada kali ini adalah adanya pro kontra antara pendukung calon tunggal dan kotak kosong. Kalau pro terhadap calon tunggal, itu hal yang wajar. Tapi ini pro kepada kotak kosong. Kotak kosong seperti memiliki kekuatan politik sendiri, seperti memiliki nyawa politik. Pertarungan antara calon tunggal melawan kotak kosong seperti pertarungan pada pilkada yang calonnya ada dua atau tiga.

Jadi menurut saya, tidak perlu ada gesekan-gesekan atau pro kontra yang seolah-olah memberikan kekuatan politik pada kotak kosong. Tapi marilah kita bersama-sama, masyarakat, media dan seluruh elem yang ada untuk sama-sama mengawasi perhitungan suara yang dilakukan oleh KPU. (ast)

SHARE ON
close

TOPIK TERPOPULER

PENALAR

PILIHAN REDAKSI

PENALAR TERPRODUKTIF