BACK TO TOPIC
OPINI PENALAR
Butuh Rencana Matang Pembuatan Holding BUMN (Bagian 1)

Masih ingatkah kita dengan salah satu iklan minyak kayu putih di televisi “Buat Anak kok Coba-coba”? Melihat proses marathon pembentukan Holding BUMN akhir-akhir ini oleh Menteri BUMN Rini Soemarno akan memiliki ekspresi yang sama: “Buat Holding BUMN kok Coba-coba”, tanpa perhitungan yang matang dan komprehensif.  Empat BUMN tambang dibuat holding pasca Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) pada 29 November 2017 antara lain: PT Timah Tbk -bergerak dibidang pertambangan timah dan telah terdaftar di Bursa Efek Indonesia sejak tahun 1995; PT Aneka Tambang Tbk (Antam) – perusahaan pertambangan yang sahamnya dimiliki oleh Pemerintah Indonesia (65 persen) dan masyarakat (35 persen); PT Bukit Asam Tbk (Bukit Asam) – perusahaan batubara yang mencatatkan diri sebagai perusahaan publik di Bursa Efek Indonesia 2002 – dan  PT Indonesia Asahan Aluminium (Persero) (Inalum) – perusahaan BUMN yang bergerak dalam aluminium dan turunannya yang kemudian menjadi perusahaan holdingnya.

Belum reda diskursus Holding Pertambangan, Menteri BUMN Rini Soewarni kembali akan merencanakan Holding BUMN Minyak dan Gas (Migas) yang rencananya terealisasi di awal 2018. Mengikuti jurus holdingisasi sektor tambang, skema Holding BUMN migas terdiri atas PT Pertamina sebagai induk holding dengan kepemilikan saham 100 persen dimiliki oleh negara, yang akan menguasai PT Perusahaan Gas Negara  Tbk (PGN) sebagai anak holding melalui pengalihan kepemilikan saham (inbreng).

Pembentukan holding akan bermanfaat ketika perusahaan-perusahaan yang tergabung dalam holding tersebut mampu melalukan beberapa sinergi bisnis. Pertama, economies of scale kondisi adalah kondisi dimana biaya total/unit akan semakin kecil nilainya (efisien) apabila unit yang diproduksi (dan terjual) semakin besar. Holdingisasi BUMN Pertambangan yang memiliki ouput yang berbeda beda (timah, batubara, metal dan aluminium) jelas tidak akan mendapatkan economies of scale. Bukti empiris, pembentukan holding PT Semen Indonesia - PT Semen Gresik (Persero) Tbk , PT Semen Padang dan PT Semen Tonasa - yang produknya relatif sama-sama semen pun tidak berlangsung secara tiba-tiba. Jauh sebelumnya pada tahun 1995, ketiga perusahaan semen tersebut melakukan sinergi di bidang pemasaran dan operasional. Pada tahun 2012-2014, siklus penjualan SIG sempat melebihi siklus umum penjualan semen di Indonesia, namun pada periode-periode setelahnya ia masih mengikuti siklus umum penjualan semen di Indonesia. Dengan kata lain, dari sisi angka penjualannya SIG sebagai holding company masih mengandalkan tren penjualan semen secara umum, ia belum mampu meningkatkan penjualannya sehingga dapat berada di atas tren umum penjualan semen Indonesia.

Kedua, economies of scope adalah kondisi di mana dua atau lebih produk atau bisnis yang berbeda, akan lebih efisien jika diproduksi oleh satu perusahaan dibandingkan dengan apabila masing-masing produk/bisnis diproduksi/dijalankan oleh perusahaan yang berbeda-beda. Hal ini terjadi sebagai akibat dari karakteristik produk atau bisnis yang menggunakan sinergi dan common resources; bahwa untuk menghasilkan berbagai produk yang berbeda memerlukan sumber daya (aset) yang sama. Pengalaman empiris di SIG menunjukkan bahwa kelemahan pembentukan holding company yang lain terletak pada resistensi sumberdaya manusia eksisting. Pembentukan holding company memang tidak akan mengurangi jumlah karyawan namun justru menambah jumlahnya karena tambahan kebutuhan di perusahaan holding. Namun, posisi manajemen eksisting akan berubah dari semula bertanggung jawab kepada shareholder menjadi kepada parent holding company.(afd)

SHARE ON
close

PENALAR

PENALAR TERPRODUKTIF