BACK TO TOPIC
OPINI PENALAR
Butuh Peningkatan Signifikan dari Environment Investasi

Sebenarnya Jepang masih melihat Indonesia sebagai partner strategis. Indonesia juga tentunya memandang Jepang tidak hanya partner strategis, tapi tradisional. Jepang itu memang tipikal yang sangat berhitung dan berhati-hati. Jadi tidak due date untuk mengambil keputusan, itu bisa sangat panjang. Sementara ini memang masih cukup stagnan karena memang belum ada peningkatan yang cukup signifikan dari sisi environment investasi domestik.

Kalau kita bicara investasi, sekarang banyak investasi Jepang yang masuk tidak hanya ke Indonesia tapi juga menyebar ke Thailand, Vietnam, yang mana salah satu point utamanya adalah karena memang masalah infrastruktur yang ada di sana. Juga masalah ketenagakerjaan dan proporsi industri dimana mereka—dibandingkan kita--cukup agresif.

Dalam konteks investasi itu, meski masih cukup tinggi, tetapi itu tadi, sekarang sudah ada yang namanya perpindahan investasi dari Indonesia ke negara-negara ASEAN yang lain.

Untuk capital outflow terutama FDI (Foreign Direct Investment) sendiri tentunya tidak semudah itu untuk outflow. Yang lebih banyak memang portofolio investment dimana mayoritas investor kita disini memang masih dalam bentuk FDI, dan ini kelihatannya masih cukup baik. Dan dalam konteks itu sebenarnya ketakutannya adalah dari segi environment domestik, dimana kalau kita lihat soal tenaga kerja dan juga iklim investasi yang kecenderungannya tidak betul-betul signifikan membaik. Hal itu yang membuat negara-negara seperti Jepang mungkin tidak akan tertarik melakukan investasi baru.

Meskipun sudah on the right track kalau kita bicara ihwal investment grade. Secara rating investasi, dengan mendapatkan investment grade bagi Indonesia itu tentunya sudah cukup baik. Juga berbicara mengenai pengelolaan perbankan, moneter dan fiskal dalam negeri juga sudah cukup baik. Tapi memang kita masih cukup butuh waktu ketika berbicara ihwal performance industri. Itu yang menjadi persoalan bagi Jepang di sini. Belum lagi kalau kita bicara mengenai keinginan Jepang. Jepang itu menginginkan infrastruktur dibangun di Pulau Jawa, bukan di luar Jawa. Alasannya, karena  return yang paling menarik adalah di Pulau Jawa. Ekosistem investasi sudah cukup terbangun di Pulau Jawa. Jadi sekarang kita bersilancar diantara kepentingan Jepang itu dan kepentingan populisme pemerintah.

Jalan keluarnya mungkin bisa dengan mekanisme cross subsidi. Kita membangun infrastruktur di Jawa lalu return nya sebagian digunakan untuk membangun infrastruktur di luar Jawa untuk aksi pemerataan.

Selanjutnya kalau kita bicara ihwal tekanan eksternal terhadap moneter kita memang masih cukup besar khususnya dengan masih adanya rencana kenaikan sukubunga ‘the fed’. Tapi apa yang telah dilakukan oleh pemerintah dan Bank Indonesia dalam konteks ini sudah on the right track. Seperti halnya pemerintah ingin mengurangi defisit dengan memperlambat pembangunan infrastruktur. Selain menaikkan suku bunga Indonesia juga sudah melakukan pendalaman pasar dan inovasi-inovasi finansial lainnya seperti pemberian fasilitas SWAP.  

Hal hal tersebut diharapkan dapat membantu mengurangi tekanan terhadap rupiah. Tapi sebetulnya yang paling besar concern nya adalah pada Current Account Defisit (CAD) dibandingkan dengan kenaikan sukubunga ‘the fed’. Kenaikan sukubunga ‘the fed’ sebenarnya saat ini sudah di perss-in oleh market. Jadi elastisitasnya terhadap laju depresiasi di emerging market sudah semakin kecil, karena sudah di press-in. (pso)

SHARE ON
close

PENALAR

PILIHAN REDAKSI

PENALAR TERPRODUKTIF

Ujang Komarudin, Dr., M.Si.

Pengamat Politik dan Dosen Universitas Al Azhar Indonesia

Christianto Wibisono

Analis Bisnis/ Pendiri Pusat Data Bisnis Indonesia (PDBI)

Dadang Trisasongko

Direktur Eksekutif Tranparency Internasional (TI) Indonesia

FOLLOW US

Perlu Pertimbangan Agar yang Dikurung Memang Pantas Dikurung             Idealnya Penjara Tidak Untuk Lansia             Selesaikan PR di Periode Kedua             Jemput Bola Tarik Investasi             Fokus Pada Daya Saing, Reindustrialisasi, Pemerataan             Memperkokoh kemampuan mewujudkan cita-cita Presiden Joko Widodo              Simbol Kemajuan Bangsa dan Rekonsiliasi dalam Pertemuan Jokowi dan Prabowo             Apapun Tafsirnya, Kita Bangga Jokowi - Prabowo Bertemu             Bukan Hidup Abadi Badaniah Semata             Hidup Abadi Masih Spekulatif